Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Voynich Manuscript: Ketika Para Pemecah Sandi Terbaik Dunia Menyerah (Bagian II)

Bakti Suryo by Bakti Suryo
06/07/2026
in Manuskrip
Voynich Manuscript: Ketika Para Pemecah Sandi Terbaik Dunia Menyerah (Bagian II)

Selama berabad-abad, Voynich Manuscript nyaris tidak meninggalkan jejak dalam sejarah. Ia berpindah tangan dari satu koleksi ke koleksi lain tanpa pernah diketahui publik. Keheningannya baru pecah pada tahun 1912 ketika Wilfrid Michael Voynich membawa naskah itu keluar dari Villa Mondragone.

Villa Mondragone adalah sebuah kompleks milik Serikat Jesuit di Frascati, Italia. Sejak saat itu, perjalanan manuskrip tersebut memasuki babak baru: bukan lagi sebagai benda antik, melainkan sebagai salah satu teka-teki intelektual terbesar yang pernah dihadapi dunia modern.

Bagi Voynich, manuskrip itu lebih dari sekadar koleksi langka. Dia meyakini bahwa dirinya telah menemukan dokumen yang berpotensi mengubah sejarah ilmu pengetahuan. Dugaan tersebut bukan tanpa alasan. Di dalam manuskrip terselip salinan surat Johannes Marcus Marci kepada Athanasius Kircher yang menyebut bahwa Kaisar Romawi Suci Rudolf II pernah membeli naskah tersebut dengan harga sekitar 600 dukat emas. Sebuah nilai yang luar biasa mahal untuk ukuran abad ke-17.

Surat itu pula yang memunculkan dugaan lama bahwa manuskrip tersebut merupakan karya filsuf Inggris abad ke-13, Roger Bacon. Namun hingga kini, tidak pernah ditemukan bukti yang mampu menguatkan atribusi tersebut.

Voynich segera memperlihatkan temuannya kepada para filolog, paleografer, dan sejarawan Eropa. Respons yang muncul hampir seragam: mereka mengakui keaslian fisik manuskrip, tetapi tidak seorang pun mampu membaca satu kalimat pun.

Dari Ruang Koleksi ke Laboratorium Kriptografi

Pada dekade-dekade berikutnya, perhatian terhadap Voynich Manuscript semakin meluas. Jika sebelumnya naskah kuno lazim dipelajari oleh sejarawan atau ahli bahasa klasik, kini giliran para kriptografer yang mengambil alih. Perubahan pendekatan ini bukan kebetulan.

Tulisan dalam Voynich Manuscript memiliki karakteristik yang mengingatkan para ahli pada dokumen terenkripsi. Susunan simbolnya konsisten, frekuensi kemunculan karakter tertentu berulang secara statistik dan struktur kata tampak mengikuti pola tertentu. Semua ciri tersebut menyerupai pesan sandi yang disusun menggunakan sistem enkripsi.

Karena itu, banyak ilmuwan mulai memperlakukan Voynich bukan sebagai manuskrip sejarah, melainkan sebagai cipher, sebuah teks yang maknanya disembunyikan melalui teknik penyandian. Perubahan sudut pandang ini kemudian membawa manuskrip tersebut ke tangan para pemecah kode terbaik di dunia.

William F. Friedman dan Tantangan yang Tak Pernah Selesai

Nama paling besar yang pernah terlibat dalam penelitian Voynich Manuscript adalah William F. Friedman. Di kalangan sejarah kriptografi, Friedman merupakan legenda. Dia adalah tokoh utama di balik keberhasilan Amerika Serikat memecahkan sandi diplomatik Jepang, yang mana dikenal sebagai “Purple Cipher” pada Perang Dunia II.

Keberhasilan tersebut berperan penting dalam operasi intelijen Sekutu dan menjadikan Friedman sebagai salah satu kriptografer terbesar abad ke-20. Jika seseorang memiliki peluang terbesar membaca Voynich Manuscript, banyak orang percaya bahwa sosok itu adalah Friedman.

Sejak dekade 1940-an, dia bersama timnya mulai melakukan analisis sistematis terhadap manuskrip tersebut. Mereka menghitung frekuensi simbol, panjang kata dan pola pengulangan. Bahkan, hingga kemungkinan hubungan antarparagraf.

Pendekatan yang digunakan sepenuhnya ilmiah, memanfaatkan metode statistik yang saat itu tergolong paling maju. Hasilnya justru mengejutkan. Semakin lama dipelajari, Voynich Manuscript semakin sulit dipahami.

Friedman menyimpulkan bahwa teks tersebut tidak menunjukkan karakteristik sandi klasik, yang mana biasa digunakan dalam komunikasi diplomatik atau militer. Sebaliknya, manuskrip itu justru tampak mengikuti hukum-hukum linguistik yang lazim ditemukan pada bahasa alami.

Kesimpulan tersebut menjadi titik balik penting dalam penelitian Voynich. Untuk pertama kalinya, perhatian para peneliti bergeser dari pertanyaan “Bagaimana memecahkan sandinya?” menjadi “Bahasa apa sebenarnya yang sedang ditulis?”

Sayangnya, Friedman meninggal dunia pada tahun 1969 sebelum berhasil menemukan jawaban. Warisan terbesarnya bukanlah sebuah terjemahan, melainkan kesadaran bahwa Voynich Manuscript kemungkinan jauh lebih kompleks. Bahkan, daripada sekadar dokumen yang dienkripsi.

Mengapa Tidak Ada Kata yang Berhasil Dibaca?

Sepanjang abad ke-20, puluhan penelitian mencoba menerjemahkan Voynich Manuscript. Namun satu demi satu hipotesis itu runtuh ketika diuji lebih mendalam. Masalah utamanya sederhana, tetapi sangat mendasar. Dalam proses menguraikan bahasa kuno, para ahli biasanya memiliki ‘titik awal’.

Ketika Jean-François Champollion berhasil membaca hieroglif Mesir, dia memiliki Batu Rosetta sebagai pembanding. Ketika Michael Ventris berhasil menguraikan aksara Linear B, dia dapat mencocokkan nama-nama kota di Pulau Kreta dengan simbol yang muncul dalam prasasti.

Sementara itu, Voynich Manuscript tidak memberikan kemewahan semacam itu. Tidak ada nama raja beserta kerajaan, nama kota, tanggal atau pun bahasa pembanding. Seluruh isi manuskrip berdiri sendiri. Seolah terputus dari tradisi tulis mana pun yang dikenal manusia.

Stephen Bax menyebut persoalan inilah yang selama satu abad membuat seluruh penelitian berjalan di tempat. Dalam pendahuluan penelitiannya, Bax menegaskan bahwa hingga manuskrip ditemukan kembali pada tahun 1912, belum ada satu kata pun yang dapat diterjemahkan secara meyakinkan. Kondisi tersebut membuat setiap teori besar tentang asal-usul beserta isi manuskrip berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh.

Dua Kutub Besar dalam Penelitian

Memasuki paruh kedua abad ke-20, penelitian Voynich secara perlahan mengerucut menjadi dua aliran pemikiran yang saling bertentangan.

Teori pertama: Sebuah Bahasa Asli

Kelompok pertama meyakini bahwa manuskrip ditulis menggunakan bahasa alami yang belum pernah berhasil diidentifikasi. Mereka menunjuk sejumlah karakteristik yang mendukung dugaan tersebut. Salah satu yang utama ialah distribusi panjang kata relatif konsisten.

Selain itu, beberapa kata muncul dengan frekuensi yang menyerupai penggunaan kata umum dalam bahasa manusia. Struktur kalimat memperlihatkan pola tertentu yang sulit dijelaskan jika teks itu hanya kumpulan simbol acak. Bahkan, analisis statistik modern menemukan adanya hubungan antarkata yang menyerupai tata bahasa.

Kelompok ini percaya bahwa suatu hari nanti bahasa tersebut dapat dipecahkan apabila ditemukan kunci linguistik yang tepat.

Teori kedua: Sebuah Pemalsuan yang Sangat Cerdas

Di sisi lain, muncul kelompok yang beranggapan bahwa Voynich Manuscript hanyalah tipuan luar biasa rumit. Menurut teori ini, seseorang sengaja menciptakan alfabet baru, menggambar tanaman imajiner, lalu menyusun simbol secara sistematis agar tampak seperti bahasa sungguhan. Tujuannya sederhana: menjual buku tersebut kepada kolektor kaya dengan harga fantastis.

Hipotesis pemalsuan memperoleh perhatian luas setelah sejumlah peneliti menunjukkan temuannya. Sebuah temuan bahwa beberapa karakteristik statistik Voynich dapat direproduksi menggunakan perangkat mekanis sederhana. Namun teori ini juga menghadapi banyak kritik.

Stephen Bax menilai bahwa hipotesis pemalsuan justru menuntut asumsi yang lebih rumit, bila dibanding menerima manuskrip sebagai dokumen ilmiah abad pertengahan. Dia mengutip prinsip Pisau Ockham (Occam’s Razor). Kutipan bahwa penjelasan yang paling sederhana umumnya lebih layak dipilih.

Dalam pandangan Bax, jauh lebih masuk akal menganggap Voynich sebagai risalah mengenai tetumbuhan dan alam. Risalah itu ditulis menggunakan bahasa nyata dengan sistem aksara yang belum dikenal. Pandangan yang masuk akal bila dibanding menganggap sejumlah penulis menghabiskan waktu bertahun-tahun, hanya untuk membuat tipuan yang sangat kompleks.

Pandangan ini kemudian memperoleh dukungan dari berbagai penelitian linguistik komputasional yang menemukan bahwa distribusi statistik teks Voynich lebih dekat dengan bahasa alami dibandingkan kumpulan simbol acak.

Ketika Komputer Mulai Ikut Membaca

Memasuki era komputer pada dekade 1980an dan 1990an, optimisme kembali muncul. Untuk pertama kalinya, seluruh isi Voynich Manuscript ditranskripsikan ke dalam format digital. Setiap simbol diberi kode sehingga dapat dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik.

Harapannya sederhana: “Jika manusia gagal membaca manuskrip tersebut, mungkin komputer mampu menemukan pola yang tidak terlihat oleh mata.”

Jutaan kombinasi huruf dianalisis. Frekuensi setiap simbol dihitung. Hubungan antarkata dipetakan. Model probabilitas dibangun. Namun hasil akhirnya kembali mengecewakan. Komputer memang menemukan pola. Masalahnya, pola tersebut tidak cukup untuk mengungkap makna. Para peneliti mengetahui bagaimana simbol-simbol itu digunakan, tetapi tetap tidak mengetahui apa yang sedang dikatakan oleh penulis manuskrip.

Semakin canggih metode analisis, semakin jelas pula satu kenyataan: Voynich Manuscript bukan sekadar kode yang menunggu dipecahkan, melainkan sebuah sistem bahasa yang hingga kini belum memiliki titik pijak untuk ditafsirkan.

 

Sumber:

Bax, S. (2014). A proposed partial decoding of the Voynich script.

D’Imperio, M. E. (1978). The Voynich Manuscript: An Elegant Enigma.

Zandbergen, R. The Voynich Manuscript.

Tags: Manuskrip KunoMisteri DuniaSejarah DuniaVoynich Manuscript
Previous Post

Haul Ki Andong Sari ke-244: Ledok Kulon Kukuhkan Warisan Budaya Lewat Kirab dan Buku Historiografi

Next Post

Menata Tanah, Menata Kesadaran: Filosofi Pacul ala Sunan Kalijaga

BERITA MENARIK LAINNYA

Voynich Manuscript: Antara Fakta, Hipotesis, dan Misteri yang Belum Berakhir (Bagian V – End)
Manuskrip

Voynich Manuscript: Antara Fakta, Hipotesis, dan Misteri yang Belum Berakhir (Bagian V – End)

28/07/2026
Voynich Manuscript di Era Kecerdasan Buatan: Ketika Mesin Ikut Membaca, tetapi Misteri Tetap Bertahan (Bagian IV)
Manuskrip

Voynich Manuscript di Era Kecerdasan Buatan: Ketika Mesin Ikut Membaca, tetapi Misteri Tetap Bertahan (Bagian IV)

18/07/2026
Noyvich Manuscript: Di Antara Tumbuhan Asing, Rasi Bintang dan Bahasa yang Hilang (Bagian III)
Manuskrip

Noyvich Manuscript: Di Antara Tumbuhan Asing, Rasi Bintang dan Bahasa yang Hilang (Bagian III)

10/07/2026

Anyar Nabs

Suarakan Hak Ekologi, KOPRI PMII Bojonegoro Dorong Pembahasan Raperda Dana Abadi Lingkungan

Suarakan Hak Ekologi, KOPRI PMII Bojonegoro Dorong Pembahasan Raperda Dana Abadi Lingkungan

24/08/2026
Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

21/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: