Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Tentang Gerimis, Mobil, dan Esensi Kehilangan: Hikmah Humor dan Pencurian (21)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
17/07/2026
in Cecurhatan
Tentang Gerimis, Mobil, dan Esensi Kehilangan: Hikmah Humor dan Pencurian (21)

Hikmah humor dan pencurian

Gerimis belum benar-benar jatuh, tetapi langit di atas pekarangan pesantren sudah sewarna jelaga yang direndam air. Di bawah emperan mushola, dengan lantai kayu yang mulai dimakan usia, Tuan Guru Salim duduk di atas alas bambu.

Matanya yang dipenuhi kerutan disana sini, seakan menyimpan ribuan malam tanpa tidur. Mata itu menatap lurus ke arah gerbang pesantren. Jemarinya yang kurus dan dipenuhi bintik penuaan bergerak lambat, menghitung butiran tasbih.

Di hadapannya, beberapa santri, termasuk Saifuddin yang bertubuh gempal dan seorang santri senior bernama Yusuf, duduk bersila dengan sikap takzim. Iklim kehidupan di pesantren ini selalu menuntut ketabahan yang keras, ketabahan manusia-manusia yang dibakar oleh keringat dan takdir Tuhan.

“Kalian harus mengerti,” suara Tuan Guru Salim berat, bergetar oleh kedalaman hidup yang telah mengunyah asam garam zaman. “Dunia ini bukan milikmu. Kita ini hanya numpang lewat, menjadi saksi atas kerja agung Yang Maha Ada.” Ia berhenti sejenak, membiarkan angin sore menyisip diantara tiang-tiang Mushola.

“Ingatlah, apa yang ada di dunia ini pada hakikatnya tidak akan, dan tidak pernah hilang. Apabila satu ketika kamu kehilangan sesuatu, maka hakikatnya benda tersebut tidak pernah lenyap. Ia hanya berpindah tempat, berpindah kepemilikan dari satu hamba ke hamba yang lain, di bawah kolong langit yang sama.'”

Saifuddin mencamkan kalimat itu. Kalimat yang baginya bukan sekadar hafalan kitab, melainkan sebongkah kesadaran yang menuntut ketundukan jiwa.

Beberapa tahun berlalu sejak sore yang lamat-lamat itu. Saifuddin bertransformasi menjadi pengusaha konveksi ternama di sebuah kota besar di Jawa Timur. Suatu siang, dering telepon genggamnya memecah kesunyian kamar Saifuddin. Suara Tuan Guru Salim terdengar di seberang talian, magis dan mendesak.

“Wahai Saifuddin, kemarilah nak. Datanglah ke rumahku. Aku hendak memberimu sebuah pengetahuan, sebuah wejangan yang mungkin berguna bagimu.”

Tanpa berpikir dua kali, Saifuddin memacu mobilnya menembus keramaian jalan-jalan perkotaan. Menuju kediaman Tuan Guru Saifuddin. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, Tuan Guru Salim menyambutnya. Di sana, rahasia hidup hendak dibisikkan.

Sebuah makrifat tentang fana dan baqa, tentang bagaimana memandang dunia dengan kaca mata batin (basyirah). Kata sang guru, mahar untuk pengetahuan ini teramat mahal: ia menuntut penebusan berupa runtuhnya ego manusia. Saifuddin pulang dengan dada yang sarat, merasa di lahirkan kembali. Menjadi manusia yang baru.

Namun, hidup adalah medan ujian yang sarkastis.

Dua hari kemudian, Saifuddin mengendarai mobilnya bertolak menuju rumah Yusuf untuk sebuah urusan dagang. Di dalam laci mobil itu, tersimpan uang tunai tiga puluh juta rupiah—hasil keringat berminggu-minggu yang rencananya akan digunakan untuk menambahi modal usaha. Ia memarkir mobil di tepi jalan, lalu masuk ke rumah Yusuf, bergabung dalam perbincangan hangat bersama kawan-kawan yang lain.

Dua jam berselang, ketika pamit untuk pulang, langkah kaki Saifuddin mendadak kaku di ambang pintu.

Tempat di mana ia memarkir mobilnya kini kosong melompong. Hanya ada aspal kering dan kepulan debu tipis yang ditiup angin. Mobil itu lenyap. Pun tiga puluh juta rupiah di dalamnya menguap.

Seketika, dada Saifuddin bergemuruh. Amarah, kepanikan, dan rasa tidak rela sebagai manusia biasa menghentak jantungnya. Dunianya sempat gelap. Bumi rasanya runtuh. Namun, badai emosi itu hanya berkecamuk tepat tiga puluh menit.

Di menit ke-tiga puluh satu, sebersit cahaya dari wejangan rahasia sang guru mengetuk dinding kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum getir namun ikhlas.

Di saat yang sama, beberapa puluh kilometer dari sana, Tuan Guru Salim sedang bermunajat. Lewat basyirah-nya, sang guru menyaksikan gejolak batin muridnya. Ia melihat badai itu, dan ia melihat bagaimana badai itu mereda sebelum genap satu jam. Sang guru tersenyum ke arah langit, bersyukur bahwa jangkar makrifat yang ditanamnya telah menghujam kuat di jiwa Saifuddin.

Seminggu kemudian, Saifuddin sowan kembali ke kediaman Tuan Guru Salim dengan mengendarai motor butut. Wajahnya tenang, tak tampak guratan duka atau dendam pada takdir.

Tuan Guru Salim menatapnya dengan pandangan jenang, penuh kelembutan seorang ayah spiritual.

“Di manakah mobilmu nak?” tanya Tuan Guru Salim, menguji lubuk hati sang murid.

Saifuddin menunduk takzim, lalu menjawab dengan suara yang jernih, “Dipindah oleh Allah, wahai Guru.”

Mendengar jawaban Saifuddin, Tuan Guru Salim hanya mengangguk-angguk kepala sembari tersenyum lebar. Sebuah isyarat tanpa kata, sebuah perayaan gembira yang sunyi atas matangnya jiwa Saifuddin yang berhasil melampaui jebakan kebendaan.

Dus, ia mengerti bahwa dirinya tak bisa didefinisikan oleh apa yang ia kendarai. Bahwa kehilangan, pada akhirnya, hanyalah mekanisme Tuhan untuk memindahkan hamba-Nya dari satu tingkat makam spiritual ke makam yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, manusia memang acapkali keliru mengartikan sepi dan hilangnya sebuah benda. Mayoritas dari mereka menyembah bentuk, kita meratapi rupa yang bergeser dari jangkauan jemari. Padahal, barangkali tak pernah ada yang benar-benar pergi. Mobil yang raib, uang yang berpindah tangan, hanyalah bagian dari sebuah pengembaraan materi yang tak pernah selesai di bawah kolong langit.

Tuhan tidak sedang melukai; Ia hanya sedang menulis ulang alamat bagi rezeki-rezeki-Nya. Seperti angin yang tak pernah menetap di satu daun, keindahan dunia memang diciptakan untuk senantiasa mengalir.

Di hadapan sang waktu yang abadi, kita yang ringkih ini sering kali hanya menangisi perpindahan tempat, tanpa pernah menyadari bahwa di dalam ketiadaan yang fana itulah, hakikat kepemilikan yang sejati justru sedang dimulai.

Tags: Hikmah Idul AdhaHikmah Santri
Previous Post

Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby Dari Al Azhar Syarif hingga Universitas Cambridge Inggris

BERITA MENARIK LAINNYA

Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby Dari Al Azhar Syarif hingga Universitas Cambridge Inggris
Cecurhatan

Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby Dari Al Azhar Syarif hingga Universitas Cambridge Inggris

16/07/2026
KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges
Cecurhatan

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya
Cecurhatan

Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

14/07/2026

Anyar Nabs

Tentang Gerimis, Mobil, dan Esensi Kehilangan: Hikmah Humor dan Pencurian (21)

Tentang Gerimis, Mobil, dan Esensi Kehilangan: Hikmah Humor dan Pencurian (21)

17/07/2026
Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby Dari Al Azhar Syarif hingga Universitas Cambridge Inggris

Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby Dari Al Azhar Syarif hingga Universitas Cambridge Inggris

16/07/2026
Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

15/07/2026
KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: