Catatan tentang petualangan seorang Tuan Guru di Dunia Ilmu.
CAMBRIDGE, Inggris, tahun 1952. Pada malam yang dingin itu, di sebuah ruangan sempit di Pembroke College, Universitas Cambridge lampu listrik masih menyala meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Di meja kayu yang penuh dengan tumpukan manuskrip dan buku-buku tua, seorang mahasiswa berusia 37 tahun duduk membungkuk di atas kertas-kertas yang berserakan.
Kedua matanya lelah. Namun, tangannya masih setia menulis. Ia mengguratkan satu kalimat, mengoreksinya, mengguratkan lagi, menghapus, dan memulai ulang. Kala itu, laptop maupun internet belum lagi lahir.
Di luar jendela, Sungai Cam mengalir sunyi. Kabut tipis menyelimuti pepohonan di sekitar Pembroke College. Di kejauhan, menara-menara gereja tua menjulang ke langit malam yang gelap dan sunyi. Suasana ini-sunyi, dingin, dan penuh konsentrasi-telah menjadi sahabatnya selama tiga tahun terakhir.
Mahasiswa itu bernama Ahmed Shalaby. Ia datang dari sebuah desa kecil di tepi Sungai Nil, Mesir. Pada masa kecilnya, ia menghafal Al-Quran di bawah lampu minyak bersama anak-anak lain di desanya. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, ia sedang menulis disertasi doktoral tentang sejarah pendidikan Islam di salah satu universitas paling bergengsi di dunia: Cambridge University. Disertasi ini akan mengubah cara dunia memandang peradaban Islam.
Ahmed Shalaby kemudian menghela napas. Di meja di hadapannya, ada sebuah foto usang dari kampung halamannya di Desa Alim, kawasan Al-Syarqiyah. Ia melihat wajah ibu dan ayahnya, yang dulu mengirimnya ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar Al-Syarif, kemudian ke Fakultas Darul Ulum di Cairo University, dan akhirnya-dengan restu pemerintah Mesir-ke Inggris. Mereka tidak pernah membayangkan anak mereka akan sampai sejauh ini.
Ahmed Shalaby kemudian menuliskan satu paragraf lagi. Tangan kirinya memegang kitab kuning yang ia bawa dari Mesir. Tangan kanannya menulis dalam bahasa Inggris yang sudah fasih: bahasa yang dulu terasa asing dan sulit, namun kini telah menjadi alat untuk menyampaikan kebenaran tentang peradaban bangsanya kepada dunia.
Pada tahun 1954, setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, Ahmed Shalaby akan mempertahankan disertasinya di hadapan para profesor Universitas Cambridge. Disertasinya-History of Muslim Education-akan menjadi rujukan utama dalam studi pendidikan Islam di berbagai penjuru dunia Islam.
Dari Sebuah Desa di Tepi Sungai Nil ke Kairo
Ahmed Gaballah Shalabi-demikian nama lengkapnya-dilahirkan pada tahun 1915 di Desa Alim, Kawasan Al-Syarqiyah, Mesir Utara. Ini bukanlah kota besar seperti Kairo atau Alexandria. Ini adalah sebuah desa di tepi Sungai Nil, di mana tradisi menghafal Al-Quran masih menjadi kewajiban bagi setiap anak.
Pada masa itu, Mesir masih berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Rakyat jelata hidup sederhana, bahkan miskin. Namun, pendidikan agama adalah harga mati yang tidak dapat ditawar. Seperti kebanyakan anak-anak Mesir pada masa itu, Ahmed Shalaby kecil diharuskan menghafal Al-Quran. Setiap hari, ia duduk di bawah lampu minyak, bersama anak-anak lain di desa, mengulang-ulang ayat-ayat suci hingga hafal di luar kepala.
Bayangkan pemandangan itu: di sebuah ruangan kecil berlantai tanah, seorang guru tua duduk bersila. Di hadapannya, anak-anak berusia enam hingga sepuluh tahun duduk melingkar, dengan papan kayu di pangkuan mereka. Ahmed Shalaby kecil duduk di antara mereka, matanya berbinar-binar, mengikuti gerakan jari gurunya yang menunjuk ayat demi ayat. Suara Sungai Nil mengalir pelan di luar. Suara jangkrik dan kodok mengiringi lantunan ayat-ayat suci yang bergema di dalam ruangan. Ini adalah orkestra yang akan mengiringi Shalaby sepanjang hidupnya: suara yang mengingatkannya pada akar, pada tradisi, pada identitas yang tidak akan pernah ia tinggalkan.
Di sinilah, di bawah lampu minyak itu, Ahmed Shalaby pertama kali belajar tentang cinta pada ilmu. Gurunya mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan. Guru-guru itu, para kiai desa, adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mewariskan peradaban Islam. Dari generasi ke generasi.
Dari Al-AzharAl-Syarif ke Darul Ulum
Setelah tamat sekolah rendah di desanya dan menyelesaikan pendidikan di Ma‘had Zaqaziq, Ahmed Shalaby kecil berpamitan kepada orang tuanya. Ia akan berangkat ke Kairo: kota besar yang gemerlap, kota yang konon memiliki seribu menara masjid. Hatinya berdebar campur aduk antara kegembiraan dan rasa takut.
Di Kairo, Ahmed Shalaby melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, pusat keilmuan Islam tertua di dunia yang didirikan pada tahun 970 M. Di sini, ia mempelajari tafsir, hadis, fikih, dan bahasa Arab: warisan keilmuan yang telah berusia lebih dari seribu tahun. Ia duduk di majelis-majelis ilmu yang sama yang pernah dihadiri oleh ulama-ulama besar seperti Ibn Khaldun, Al-Ghazali, dan Ibn Taimiyah.
Namun, Ahmed Shalaby tidak berhenti di Al-Azhar Al-Syarif. Ia ingin lebih. Ia merasakan bahwa ada yang kurang dalam pendidikannya: ia perlu memahami dunia modern, ilmu-ilmu baru, dan pemikiran kontemporer. Ia lantas masuk ke Fakultas Darul Ulum di Cairo University: sebuah institusi yang menggabungkan pendidikan Islam tradisional dengan ilmu-ilmu modern. Di sini, ia mengambil Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) dan Ilmu Jiwa. Ia tidak hanya belajar tentang hadis dan tafsir, namun juga tentang psikologi pendidikan, sosiologi, dan metode pengajaran.
Ini adalah masa yang transformatif. Ahmed Shalaby mulai melihat pendidikan Islam dari sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak lagi hanya memikirkannya sebagai proses transfer pengetahuan agama. Namun, sebagai proses pembentukan manusia secara utuh: akal, hati, dan jiwa. Pada tahun 1945, Shalaby berhasil meraih gelar B.A. dengan predikat cum laude dari Fakultas Darul Ulum, Cairo University. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik di angkatannya.
Setelah meraih gelar sarjana, Ahmed Shalaby tidak berhenti. Ia mengajukan lamaran untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Mesir untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Pada saat itu, Mesir di bawah kepemimpinan Raja Farouk masih menjalin hubungan yang baik dengan Inggris, meski ada ketegangan politik di balik layar. Pemerintah Mesir melihat bahwa untuk membangun negara modern, mereka memerlukan ilmuwan-ilmuwan yang menguasai ilmu pengetahuan kontemporer.
Ahmed Shalaby terpilih. Pemerintah Mesir mengirimnya ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan. Ini adalah keberanian yang luar biasa: seorang anak muda desa yang latar belakangnya adalah pesantren tradisional kini akan masuk ke jantung peradaban Barat: belajar di universitas-universitas yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Bayangkan perasaan Ahmed Shalaby ketika kapal yang ia tumpangi berlayar dari Pelabuhan Alexandria menyeberangi Laut Mediterania menuju Eropa. Ia meninggalkan tanah air yang ia cintai. Ia meninggalkan keluarga, teman-teman, dan dunia yang ia kenal. Namun, di dadanya ada keyakinan: menuntut ilmu adalah kewajiban, sampai ke negeri Cina sekali pun. London mungkin lebih dekat daripada Cina. Namun, jarak dan perbedaan budaya tidak menyurutkan niatnya.
Dari London ke Cambridge
London pada tahun 1945, tak lama setelah Perang Dunia II berakhir, masih dipenuhi bekas-bekas kehancuran perang. Bangunan-bangunan yang rusak, warga yang masih berduka, dan suasana yang suram: itu adalah London yang pertama kali dilihat Ahmed Shalaby.
Namun, Ahmed Shalaby tidak gentar. Di balik kehancuran, ia melihat sesuatu yang lain: perpustakaan-perpustakaan besar, universitas-universitas tua, dan tradisi ilmiah panjang. Di sinilah Newton pernah menemukan gravitasi. Di sinilah Darwin pernah mengembangkan teori evolusinya. Dan, di sinilah Bacon pernah merumuskan metode ilmiah modern.
Ahmed Shalaby mendaftar di London University. Di sini, ia mulai mempelajari metode ilmiah Barat secara mendalam. Ia tidak hanya belajar tentang sejarah dan pendidikan, namun juga tentang filsafat, sosiologi, dan metodologi penelitian. Ia berlatih menulis dalam bahasa Inggris, belajar berpikir kritis, dan memahami cara pandang akademik yang berbeda dari apa yang ia pelajari di Al-Azhar Al-Syarif.
Di sinilah Ahmed Shalaby meraih gelar Master (M.A.)-nya. Ini adalah masa yang penuh tantangan. Ia harus menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang sangat berbeda: lebih terstruktur, lebih menuntut analisis kritis, dan lebih menekankan pada orisinalitas. Di sinilah dasar-dasar disertasinya mulai terbentuk: ia mulai mengumpulkan bahan-bahan, membaca literatur, dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitiannya.
Setelah merampungkan studi di London Uiniversity Ahmed Shalaby melanjutkan studinya ke Cambridge University. Ini adalah langkah yang ambisius. Cambridge adalah salah satu universitas tertua di dunia, didirikan pada tahun 1209 M. Di sinilah Isaac Newton pernah menjadi profesor. Di sinilah John Milton pernah menulis puisi. Dan, di sinilah Stephen Hawking pernah merumuskan teori tentang lubang hitam.
Ahmed Shalaby diterima di Pembroke College: salah college tertua di Cambridge, yang didirikan pada tahun 1347 oleh Marie de St. Pol, putri dari Count of Pembroke. College ini memiliki sejarah panjang dalam menerima mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Kota Cambridge pada tahun 1950-an adalah tempat yang ajaib. Bangunan-bangunan bergaya Gothic berdiri megah di sepanjang jalan-jalan sempit yang berliku.
Sungai Cam mengalir pelan di antara perguruan-perguruan tinggi tua, dengan perahu-perahu dayung yang melintas di bawah jembatan-jembatan yang berusia ratusan tahun. Para mahasiswa dari seluruh dunia berkumpul di kafe-kafe kecil, mendiskusikan filsafat, sains, dan seni. Di sinilah Shalaby akan menulis disertasinya yang monumental-dengan tebal 266 halaman-History of Muslim Education.
Di Bawah Bimbingan A.J. Arberry
Salah satu faktor kunci dalam keberhasilan Ahmed Shalaby di Cambridge adalah pembimbingnya: Arthur John Arberry. Arberry adalah seorang orientalis terkemuka asal Inggris, yang lahir pada tahun 1905 dan berpulang pada tahun 1969. Ia adalah ahli dalam bidang tasawuf Islam dan sastra Persia. Ia juga dikenal sebagai salah satu orang yang memperkenalkan hakikat Islam kepada bangsa Eropa melalui terjemahan-terjemahan literatur berbahasa Arab ke dalam bahasa Inggris.
Arberry bukanlah orientalis biasa. Ia tidak memandang Islam dari kacamata kolonial yang menghakimi. Sebaliknya, ia memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap peradaban Islam dan secara pribadi sangat tertarik pada tasawuf. Ia adalah seorang yang mencintai sastra dan budaya yang ia pelajari.
Hubungan antara Ahmed Shalaby dan A.J. Arberry adalah contoh sempurna dari dialog peradaban. Seorang Muslim yang hafal Al-Quran dan seorang orientalis Inggris yang ahli dalam bahasa Arab: dua orang dengan latar belakang berbeda, namun dengan minat yang sama: memahami dan menyebarkan pengetahuan tentang peradaban Islam.
Di bawah bimbingan Arberry, Shalaby mengasah kemampuannya dalam menulis sejarah Islam dengan metode ilmiah Barat, tanpa meninggalkan akar keilmuannya yang dalam di tradisi Islam. Arberry memberi kebebasan pada Shalaby untuk menulis dari perspektif yang otentik, sambil memberikan bimbingan tentang standar akademik yang berlaku di Cambridge. Menulis disertasi doktoral di Cambridge bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih bagi seorang mahasiswa asing yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.
Ahmed Shalaby menghadapi setidaknya tiga tantangan besar:
Pertama, bahasa. Meski ia telah belajar di London University, menulis disertasi sepanjang 266 halaman dalam bahasa Inggris dengan standard akademik yang sangat tinggi adalah pekerjaan yang sangat berat. Setiap kalimat harus tepat. Setiap argumen harus jelas. Dan, setiap sumber harus dikutip dengan benar. Bayangkan Shalaby di meja kerjanya, membuka kamus Inggris-Arab di satu sisi, dan manuskrip-manuskrip Arab di sisi lain. Ia menerjemahkan kutipan, mencari padanan kata yang tepat, dan menyusun kalimat-kalimat yang mengalir dengan elegan. Ini adalah perjuangan yang memakan waktu dan energi, tetapi ia tidak pernah menyerah.
Kedua, budaya. Ahmed Shalaby harus menyesuaikan diri dengan budaya akademik yang sangat berbeda dari apa yang ia kenal di Mesir. Ketika itu di Al-Azhar Al-Syarif dan Darul Ulum, pendidikan lebih menekankan pada hafalan dan penguasaan teks-teks klasik. Di Cambridge, yang ditekankan adalah orisinalitas, kritik, dan kontribusi baru pada pengetahuan. Shalaby belajar bahwa di Cambridge, seorang mahasiswa tidak cukup hanya menguasai apa yang sudah diketahui. Ia harus menambahkan sesuatu yang baru: sebuah kontribusi orisinal yang memperkaya pengetahuan manusia. Ini adalah tantangan intelektual yang luar biasa.
Ketiga, beban akademik. Disertasi ini mencakup periode yang sangat panjang: dari era Rasulullah Saw. hingga dunia Islam kontemporer. Ahmed Shalaby harus membaca ratusan sumber, melakukan perjalanan ke berbagai perpustakaan di Eropa dan Timur Tengah, dan menyusun narasi yang koheren dari semua bahan itu.
Salah satu aspek yang membuat disertasi Ahmed Shalaby begitu istimewa adalah penggunaan sumber-sumber primer dalam bahasa Arab: manuskrip-manuskrip kuno yang sering diabaikan oleh para orientalis. Untuk menemukan sumber-sumber ini, Shalaby melakukan perjalanan ke berbagai negeri: ke perpustakaan-perpustakaan di Kairo, Damaskus, dan Baghdad, serta ke perpustakaan-perpustakaan di Eropa. Ia melacak peninggalan-peninggalan sejarah pendidikan Islam, mengumpulkan bahan-bahan yang tidak pernah disentuh oleh para peneliti sebelumnya.
Bayangkan Ahmed Shalaby di ruang baca Perpustakaan Nasional Mesir, di antara rak-rak yang penuh debu, mencari manuskrip-manuskrip tua yang ditulis ratusan tahun lalu. Atau bayangkan ia di Perpustakaan Bodleian di Oxford, atau di British Library di London, membaca teks-teks Arab yang disimpan selama berabad-abad. Ia menemukan catatan-catatan tentang kuttâb (sekolah dasar) pada masa Dinasti Umawiyah. Ia membaca tentang majelis-majelis ilmu di masjid-masjid besar di Baghdad dan Damaskus. Ia mempelajari kurikulum Al-Azhar Al-Syarif pada masa keemasannya. Ia menggali informasi tentang para ilmuwan Muslim yang bepergian dari satu negeri ke negeri lain untuk mencari ilmu. Setiap temuan adalah harta karun. Setiap kali Shalaby menemukan sebuah manuskrip yang belum pernah diteliti sebelumnya, ia merasa seperti seorang arkeolog yang menemukan peradaban yang hilang.
Di tengah kesulitan, ada juga kegembiraan. Setiap kali Ahmed Shalaby menemukan sumber baru, setiap kali ia bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lain, setiap kali ia bisa menawarkan interpretasi baru yang belum pernah ditulis sebelumnya, itulah saat-saat yang membuat semua kerja keras terasa berharga.
Disertasi ini, yang kemudian diterbitkan menjadi buku, menguraikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pendidikan Islam mulai dari filsafatnya, metode-metode belajar, dan lain sebagainya. Ahmed Shalaby tidak hanya menulis kronologi peristiwa. Namun, ia juga melakukan analisis mendalam tentang konsep, praktik, dan evolusi pendidikan di dunia Islam. Ia juga menulis tentang pengaruh pendidikan Islam terhadap peradaban Barat: sebuah topik yang jarang dibahas oleh sejarawan Eropa. Ia menunjukkan bahwa banyak ide dan metode yang digunakan di universitas-universitas Eropa sebenarnya berakar pada tradisi pendidikan Islam. Ini adalah kontribusi orisinal yang membuat disertasinya begitu berharga.
Mempertahankan Disertasi di Hadapan Para Profesor
Puncak dari perjalanan panjang ini adalah sidang disertasi: saat Ahmed Shalaby harus mempertahankan karyanya di hadapan para profesor Cambridge. Bayangkan suasana di ruang seminar itu.
Para profesor duduk di kursi-kursi tua, di ruangan dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang menghadap ke halaman college yang hijau. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam, menguji setiap argumen, dan meminta Shalaby untuk membuktikan setiap klaimnya: “Bagaimana Anda dapat memastikan bahwa sumber-sumber Anda dapat dipercaya?” “Apakah Anda setuju bahwa pendidikan Islam mengalami stagnasi setelah abad ke-13?” dan “Bagaimana Anda menafsirkan pengaruh filsafat Yunani terhadap pendidikan Islam?”
Ahmed Shalaby menjawab dengan tenang, dengan keyakinan, dengan pengetahuan yang mendalam tentang subjek yang ia kuasai. Ia telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun. Ia hafal sumber-sumbernya. Ia menguasai argumen-argumennya. Ia adalah seorang ilmuwan sejati. Pada tahun 1954, ia berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Cambridge. Disertasinya, History of Muslim Education, diterbitkan pada tahun yang sama oleh Dar Al-Kashshaf di Beirut.
Selepas meraih gelar Ph.D. di Cambridge, Ahmed Shalaby pulang ke Mesir dengan membawa segudang ilmu dan pengalaman. Pemerintah Mesir kemudian mengangkatnya menjadi guru pada beberapa sekolah teladan, kemudian menjadi dosen di Cairo University dalam mata kuliah Sejarah dan Kebudayaan Islam.
Dalam perjalanan karier ilmiahnya selanjutnya, Ahmed Shalaby menjadi Kepala Jurusan Sejarah Islam dan Peradaban Islam di Fakultas Darul Ulum, Cairo University. Selain itu, ia juga menjadi Pemimpin Lembaga Riset Muktamar Al-Islami dan Redaktur Ruang Kebudayaan pada harian Al-Ahram: harian terbesar di Mesir.
Setahun kemudian, pada tahun 1955, pemerintah Mesir mengutus Ahmed Shalaby ke Indonesia. Ia diangkat menjadi Guru Besar Istimewa di PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri yang kini menjadi UIN). Selama enam tahun di Indonesia, ia memiliki pengaruh yang sangat besar. Mata kuliah yang diajarkannya meliputi Sejarah Islam, Sejarah Pendidikan Islam, Perbandingan Agama, dan Bahasa Arab. Terkadang ia mengajar dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
Ilmuwan yang Mengabdikan Hidupnya untuk Ilmu
Setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk menyumbangkan ilmunya, pada akhirnya Ahmed Shalaby kembali mengabdikan dirinya di Fakultas Darul Ulum, Cairo University sebagai profesor dalam mata kuliah Sejarah dan Kebudayaan Islam hingga berpulang pada 12 Agustus 2000, setelah 85 tahun mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Ia meninggalkan warisan yang tak ternilai: puluhan buku, ratusan artikel, dan generasi ilmuwan yang ia didik di Mesir, Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan berbagai negara lain.
Atas pengabdian panjangnya tersebut, Ahmed Shalaby menerima berbagai penghargaan: Medali Republik dari Mesir pada tahun 1983, Medali Ilmu Pengetahuan dan Seni pada tahun 1988, serta penghargaan tinggi dari Indonesia pada tahun 1984.
Semoga Allah menerima pengabdian panjenengan, Prof. Dr. Ahmed Shalaby. Walahu Al-Fâtihah.








