Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
15/09/2026
in Cecurhatan
Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

Kancil di Jazirah Arab

Sejak dahulu, kancil memang tidak pernah menang karena suaranya besar. Ia menang karena tahu di mana harus melangkah.

Pagi-pagi, sambil minum kopi, biasanya orang lebih suka membicarakan harga cabai daripada Selat Hormuz. Cabai terasa lebih dekat. Kalau harganya naik, sambal berkurang. Kalau minyak goreng naik, ibu-ibu mulai menghitung ulang berapa kali bisa menggoreng tempe.

Tetapi sesungguhnya, harga cabai, harga minyak goreng, ongkos transportasi, bahkan harga beras di pasar tidak pernah benar-benar jauh dari tempat-tempat yang namanya terdengar seperti berasal dari buku sejarah: Hormuz, Bab el-Mandeb, Teluk Persia, Laut Merah.

Kita sering merasa dunia itu jauh. Padahal dunia punya kebiasaan aneh: yang jauh-jauh itu kadang tiba-tiba masuk ke dapur. Maka ketika membaca berita tentang Iran, Yaman, Saudi Arabia, Amerika, Israel, BRICS, dolar, dan segala macam pertengkaran geopolitik itu, saya membayangkan seorang ibu sedang duduk di dapur. Ia tidak tahu apa itu de-dolarisasi. Ia juga mungkin tidak tahu apa kepanjangan BRICS. Tetapi ia tahu satu hal: kalau harga BBM naik, uang belanja menjadi lebih cepat habis. Di situlah geopolitik menjadi sederhana. Ia turun dari ruang konferensi ke meja makan.

Ada satu kisah lama yang sering kita dengar: si kancil melawan harimau. Harimau besar. Kukunya panjang. Giginya mengerikan. Hutan hampir seluruhnya berada dalam wilayah kekuasaannya. Kancil kecil. Tetapi kancil punya sesuatu yang tidak dimiliki harimau: ia tahu bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada ukuran badan.

Saya kira perumpamaan semacam itu menarik kalau kita melihat perkembangan di Timur Tengah. Selama puluhan tahun, kita terbiasa melihat peta dunia dengan cara yang sederhana. Amerika dan sekutunya adalah kekuatan besar. Negara-negara Teluk adalah wilayah yang berada dalam orbitnya. Israel menjadi kekuatan militer utama. Sementara Iran dan kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengannya dianggap sebagai pemain pinggiran.

Tetapi sejarah rupanya tidak selalu mau mengikuti peta yang dibuat oleh orang-orang yang sedang berkuasa. Yaman, misalnya. Negeri yang bagi kita terdengar seperti nama yang jauh, ternyata memiliki posisi geografis yang luar biasa penting. Ia berada di dekat Bab el Mandeb, pintu masuk strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Orang yang menjaga pintu, kadang lebih penting daripada orang yang memiliki rumah. Itulah pelajaran sederhana dari geopolitik. Dan kalau pintu itu mulai tidak bisa dilewati dengan bebas, maka persoalannya bukan lagi soal Yaman semata. Ia menjadi soal perdagangan dunia, energi, pelayaran, asuransi, harga minyak, dan pada akhirnya soal dolar.

Selama bertahun-tahun dunia hidup dengan sebuah kebiasaan yang hampir dianggap sebagai hukum alam: minyak dibeli dengan dolar. Petrodollar. Sebuah istilah yang terdengar seperti nama minuman keras di hotel bintang lima, padahal ia merupakan salah satu fondasi penting kekuatan finansial Amerika. Karena minyak membutuhkan dolar, dunia membutuhkan dolar. Karena dunia membutuhkan dolar, permintaan terhadap mata uang Amerika terus terpelihara.

BRICS kemudian datang membawa gagasan yang bagi sebagian orang terdengar sederhana tetapi bagi Washington tidak sederhana sama sekali: mengurangi ketergantungan terhadap dolar. De-dolarisasi. Tetapi di sini persoalannya menjadi menarik. BRICS bukan keluarga yang selalu makan malam dengan menu yang sama.

India punya kepentingannya sendiri. Brasil punya kepentingannya sendiri. Uni Emirat Arab punya kepentingannya sendiri. Indonesia pun tentu mempunyai hitung-hitungannya sendiri. Begitulah kalau banyak orang duduk satu meja. Mereka sepakat bahwa meja itu penting, tetapi belum tentu sepakat siapa yang membayar makan malam.

Karena itu, de-dolarisasi berjalan tidak seperti revolusi yang mendadak menggulingkan sebuah rezim. Ia lebih menyerupai seorang ibu yang pelan-pelan mengurangi gula dalam teh karena dokter bilang gula tidak baik. Sedikit demi sedikit. Tidak dramatis. Tetapi lama-lama rasanya berubah.

Yang menarik justru ketika perubahan itu datang bukan melalui rapat BRICS, melainkan melalui perang. Atau lebih tepatnya, melalui perubahan keseimbangan kekuatan militer dan politik di kawasan.

Di sinilah Ansharallah, Iran, Laut Merah, Bab el-Mandeb, dan Hormuz menjadi penting. Ansharallah bukan negara besar. Ia bukan Amerika. Bukan Rusia. Bukan Cina. Namun justru karena itu ia menarik perhatian.

Selama bertahun-tahun, Saudi Arabia bersama sekutu-sekutunya berhadapan dengan kekuatan Houthi/Ansharallah di Yaman. Konflik yang panjang itu memperlihatkan satu kenyataan yang sering dilupakan oleh negara-negara besar: senjata mahal tidak selalu menghasilkan kemenangan murah.

Perang modern ternyata tidak selalu seperti film. Pesawat tempur bisa sangat mahal. Rudal bisa sangat canggih. Satelit bisa sangat pintar. Tetapi orang yang tinggal di gunung dan terbiasa hidup susah, mempunyai ukuran waktu yang berbeda.

Ia tidak buru-buru. Dan dalam perang yang panjang, ketahanan sering kali lebih menentukan daripada kemewahan persenjataan. Karena itu, jika kita ingin membaca perkembangan Timur Tengah, jangan hanya melihat jumlah kapal induk, pesawat tempur, atau nilai anggaran militer. Lihat juga kemampuan sebuah masyarakat untuk bertahan.

Di sinilah persoalan lama muncul lagi: Sunni dan Syiah. Kita di Indonesia sering menerima dikotomi itu sebagai sesuatu yang sudah selesai. Sunni di sebelah sini. Syiah di sebelah sana. Padahal masyarakat tidak pernah sesederhana seperti itu.

Sejarah Jazirah Arab penuh dengan suku, keluarga, dinasti, mazhab, kerajaan, perdagangan, dan perebutan pengaruh. Identitas keagamaan sering berkelindan dengan politik. Karena itu, mengatakan bahwa konflik Sunni-Syiah semata-mata hasil fabrikasi Barat mungkin terlalu menyederhanakan sejarah. Tetapi sama tidak sehatnya apabila kita menganggap setiap konflik politik di Timur Tengah semata-mata merupakan perang agama.

Agama bisa menjadi identitas. Agama bisa menjadi solidaritas. Tetapi agama juga bisa dipakai sebagai alat politik. Dan yang terakhir inilah yang sering luput kita bicarakan. Kita terlalu sibuk bertanya, “Dia Sunni atau Syiah?” Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: “Siapa yang diuntungkan dari pertengkaran itu?”

Di rumah, kalau dua anak bertengkar, ibu biasanya tidak terlalu peduli siapa yang memulai. Ibu akan berkata: “Sudah. Kalian ini saudara.” Tetapi kalau ada orang luar yang sengaja mengadu keduanya, persoalannya menjadi lain. Maka sejarah kolonialisme perlu dibaca dengan kepala dingin.

Bukan untuk mencari kambing hitam bagi semua persoalan dunia, melainkan untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja. Inggris pernah mempunyai kepentingan besar di Timur Tengah. Perbatasan digambar ulang. Dinasti didukung. Kepentingan minyak dijaga. Aliansi dibangun.

Dalam konteks itulah muncul pula berbagai pembacaan kritis mengenai hubungan antara kekuatan kolonial, politik dinasti, dan perkembangan Wahabisme. Tetapi sejarah tidak boleh dijadikan karikatur. Wahabisme tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu kalimat sebagai “alat kolonial”, karena sejarah gerakan keagamaan selalu lebih rumit daripada itu. Namun tidak pula bijaksana menutup mata terhadap bagaimana ideologi, agama, dan kekuasaan dapat saling menggunakan. Sebab agama yang terlalu cepat dijadikan senjata biasanya akhirnya melukai umatnya sendiri.

Ada satu hal lain yang menarik. Mengapa negara seperti Turki atau Pakistan harus berhitung berkali-kali sebelum ikut masuk ke dalam perang baru? Barangkali karena mereka sudah belajar dari pengalaman. Perang itu mahal. Bukan hanya mahal dalam dolar. Ia mahal dalam nyawa, reputasi, stabilitas sosial, energi, dan masa depan.

Sebuah negara bisa membeli pesawat tempur dalam sehari. Tetapi membangun kembali sebuah generasi yang kehilangan masa depan membutuhkan puluhan tahun. Maka negara-negara yang sebelumnya berada dekat dengan Amerika dan Saudi pun mempunyai kepentingan untuk membaca perubahan dengan lebih realistis.

Dalam politik internasional, teman lama bisa menjadi mitra dagang baru. Musuh lama bisa menjadi tetangga yang harus diajak bicara. Tidak ada perkawinan abadi dalam geopolitik. Yang abadi biasanya kepentingan.

Lalu kita sampai pada Indonesia. Di sinilah cerita yang jauh tadi tiba-tiba kembali ke dapur kita. Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Menurut saya, bukan untuk memilih Iran atau Amerika. Bukan pula untuk mengganti satu ketergantungan dengan ketergantungan yang lain.

Pelajarannya lebih sederhana: jangan menggantungkan seluruh hidup bangsa pada kekuatan orang lain. Kemandirian militer penting. Tetapi kemandirian militer tanpa kemandirian teknologi juga rapuh. Kemandirian teknologi tanpa kemandirian pangan juga rapuh. Kemandirian pangan tanpa kemandirian energi juga rapuh.

Dan semua kemandirian itu pada akhirnya membutuhkan manusia yang mempunyai keberanian untuk berpikir sendiri. Jadi persoalannya bukan semata-mata membeli lebih banyak senjata. Persoalannya adalah apakah kita mampu membuat, merawat, mengembangkan, dan menggunakannya dengan pengetahuan sendiri. Negara yang hanya pandai membeli akan selalu menjadi pasar. Negara yang mampu menciptakan akan menjadi pemain.

Barangkali karena itu kisah si kancil tadi menjadi menarik. Selama lima abad lebih, dunia modern dibentuk oleh kekuatan imperium, modal, teknologi, dan militer Barat. Sekarang kita melihat tanda-tanda perubahan. Tetapi saya kira terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa satu kekuatan sudah kalah dan kekuatan lain sudah menang.

Sejarah tidak bekerja seperti pertandingan sepak bola. Tidak ada peluit akhir. Yang ada adalah pergeseran. Sedikit demi sedikit. Dan kadang-kadang pergeseran itu dimulai dari tempat yang tidak kita duga. Dari Yaman. Dari kelompok yang tidak mempunyai kapal induk. Dari masyarakat yang selama bertahun-tahun dianggap hanya sebagai objek perang. Maka si kancil itu mungkin bukan benar-benar mengalahkan harimau. Ia hanya menunjukkan kepada harimau bahwa hutan ternyata tidak sepenuhnya miliknya.

Pada akhirnya, saya kira kita perlu belajar melihat Islam dengan mata yang lebih lapang. Islam di Iran tidak harus kita lihat dengan kacamata permusuhan. Islam di Yaman juga tidak harus kita lihat melalui pemberitaan yang hanya memberi label “milisi”.

Begitu pula Islam di Indonesia tidak seharusnya hanya sibuk mempertanyakan siapa yang paling benar dalam soal mazhab. Sebab sejak Ibrahim sampai Muhammad, agama bukan hanya perkara ritual. Ia juga membawa keberanian untuk menolak kesewenang-wenangan.

Melawan penyembahan kepada berhala. Melawan penindasan. Melawan ketidakadilan. Dan, dalam bahasa zaman sekarang, melawan ketika manusia dijadikan sekadar angka dalam neraca kekuasaan.

Barangkali inilah yang sering hilang dari agama kita. Kita terlalu rajin mengurus surga. Sementara tetangga sebelah belum tentu punya uang untuk membeli beras. Kita sibuk berdebat tentang siapa yang paling Islam. Sementara oligarki dengan tenang menghitung keuntungan. Kita sibuk menghafal ayat tentang keadilan. Sementara ketidakadilan duduk di ruang tamu kita, minum kopi, dan merasa sangat nyaman.

Maka pagi itu, setelah membaca berita tentang Hormuz, Bab el-Mandeb, Iran, Yaman, Amerika dan BRICS, saya kembali ke dapur. Kopi sudah dingin. Istri mengingatkan: “Jangan lupa beli beras.” Saya tersenyum.

Begitulah geopolitik. Pada akhirnya semua teori tentang imperium, dolar, petrodollar, perang, militer, dan hegemoni akan kembali ke satu pertanyaan yang sangat sederhana: siapa yang menguasai kehidupan sehari-hari? Mungkin bangsa yang sungguh-sungguh merdeka bukan bangsa yang paling banyak kapal perangnya.

Bukan pula yang paling sering berpidato tentang kedaulatan. Melainkan bangsa yang perlahan-lahan mampu mengatakan: pangan kami, energi kami, teknologi kami, pengetahuan kami, dan keputusan tentang masa depan kami; kami yang menentukan.

Selebihnya, biarlah si kancil tetap berjalan pelan-pelan. Ia tidak perlu mengaum. Sebab sejak dahulu kancil memang tidak pernah menang karena suaranya besar. Ia menang karena tahu di mana harus melangkah. []

Tags: Catatan Toto RahardjoDedolarisasiKancil di Jazirah Arab
Previous Post

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

BERITA MENARIK LAINNYA

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara
Cecurhatan

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

14/09/2026
Para Cendekiawan di Dapur Kekuasaan
Cecurhatan

Para Cendekiawan di Dapur Kekuasaan

10/09/2026
Atasan Cuma Bilang “OKE”, Kenapa Kita Overthinking?
Cecurhatan

Atasan Cuma Bilang “OKE”, Kenapa Kita Overthinking?

09/09/2026

Anyar Nabs

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

15/09/2026
Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

14/09/2026
Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

13/09/2026
Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

12/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: