“Panas ra iso cewok, udan ra iso ndodok.” Parikan Jawa lawas yang bermakna musim kemarau tidak bisa cebok, musim penghujan tidak bisa jongkok. Kalimat ini seperti mantra yang tak pernah usang. Ia mengeja dengan presisi bagaimana napas kehidupan warga bantaran Bengawan Solo di Bojonegoro. Berkelindan serasi (sekaligus getir) bersama ritme abadi sungai purba.
Gemercik air menampar bebatuan yang menyembul di kedangkalan Bengawan Solo. Setidak-tidaknya, itulah yang terjadi di Bojonegoro kala kemarau panjang tahun ini. Di awal Oktober, Bengawan Solo tampak tenang layaknya lukisan. Sungai terpanjang Pulau Jawa ini melepaskan jubah perkasa. Jubah yang biasanya ia pakai di sepanjang musim hujan.
Saya menyebutnya masa di mana Bengawan Solo sedang cantik-cantiknya. Momen ini sebagai ajang “bercumbu” dengan sungai purba dan segala kenangan yang dialirkan. Begitulah kami, warga Bojonegoro di bantaran, mengistilahkan.
Bagi orang asli Bojonegoro, khususnya saya sendiri yang lahir dan tumbuh di tepian alur purba ini, Bengawan Solo menyimpan dua wajah. Wajah rupawan sebagai kekasih yang paling penyayang saat kemarau, tetapi berubah tampang garang kala musim penghujan.
Musim kemarau mengubah watak bengawan secara drastis. Air cokelat pekat berubah jernih kemerahan sedikit gelap. Arusnya melambat, seperti napas gadis yang tertidur lelap. Begitu dalam dan tenang. Musim kemarau adalah waktu ketika Bengawan Solo berdandan paling anggun dan jelita.
Surutnya Bengawan Solo melahirkan dataran berupa bebatuan. Juga endapan lumpur yang mengering di tengah sungai. Warga sekitar menyebutnya gisikan, tepian sungai berupa pasir kala air surut. Dulu, dalam ingatan, gisikan kerap menjadi taman dadakan. Anak-anak berlarian dan bermain bola, sedangkan pria tua duduk menelungkup, memancing ikan wader atau badher.

Di sore hari, angin bertiup membawa aroma tanah kering. Matahari bergeser perlahan ke barat, memancarkan warna jingga keemasan. Bayangannya seolah membakar permukaan air. Inilah pemandangan yang menghadirkan romantisme di antara celah panas kemarau. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Bengawan Solo tampak Anggun, begitu pasrah, dan menawarkan pelukan hangat. Terlebih bagi siapa saja yang merindungan ketenangan dalam perenungan.
Di balik romantismenya, surutnya Bengawan Solo turut menjadi simbol kekeringan bagi warga Bojonegoro. Ketersediaan air bersih menjadi tantangan bagi masyarakat. Inilah yang mendasari Parikan Jawa “Panas ra iso cewok“. Artinya ialah musim kemarau tidak bisa cebok. Alasannya, ya karena mengalami keringan itu, sehingga air bersih cukup sulit. Termasuk untuk cebok.
Menurut catatan data hidrologi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, penurunan debit air sangat signifikan tiap musim kemarau. Pada puncak kemarau, debit air sering kali merosot hingga di bawah 10 m3 per detik. Kedangkalan ini membuat dasar sungai terlihat telanjang. Strukturnya menampakkan jejak peradaban purba.
Namun, Bengawan Solo menyimpan siklus alami di balik kedamaian kemarau. Surutnya air tak ubahnya jeda napas sebelum riak besar kembali mengggelegar.
Siklus indah ini tidak pernah bertahan selamanya. Tanda perubahan itu ketika musim hujan hadir menyapa. Mendung mulai sering menyelimuti Pulau Jawa. Gemuruh petir di langit mulai bersahut-sahutan. Air dari langit mulai berjatuhan setiap hari. Suasana romantis ini pun perlahan pudar.
Hujan lebat berintensitas tinggi pun mengguyur hulu sungai di Jawa Tengah. Warna air berubah keruh dalam hitungan jam. Arusnya perlahan melaju kencang membawa sampah. Tak jarang pula menggulung rombongan eceng gondok, rumpun bambu, dan batang pohon. Bengawan Solo tak lagi berbisik manja, ia mulai meraung.

Bagi warga bantaran di Bojonegoro, ini momen yang cukup mengkhawatirkan. Bau tanah basah tak lagi membawa aroma romantis. Ia membawa bau ancaman. Air merayap cepat tanpa peduli aktivitas warga. Siang maupun malam. Seolah-olah hendak bertamu dengan cara memaksa dan menggedor-gedor pondasi rumah.
Kekhawatiran saya sebagai warga lokal bukan tanpa alasan. Bojonegoro merupakan daerah dengan dataran berupa cekungan. Lokasi yang menjadi muara bagi belasan anak sungai. Terlebih sebelum Bengawan Solo mengalir menuju muaranya di Ujungpangkah, Gresik. Kondisi geografis ini membuat Bojonegoro menjadi “mangkuk penampung” luapan air dari hulu (Solo, Wonogiri, Sragen, Ngawi).
Sejarah mencatat bencana banjir besar luapan Bengawan Solo yang melumpuhkan Bojonegoro. Arsip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan data Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mencatat salah satu banjir terbesar terjadi pada tahun 1966. Banjir besar di sejarah modern Jawa Timur.
Selanjutnya, Banjir besar juga terjadi pada akhir Desember 2007 hingga Januari 2008. Banjir akbar di mana saya sendiri turut mengalami. Bencana musim penghujan yang sempat melumpuhkan jalan poros nasional. Tepatnya jalan penghubuh Babat-Bojonegoro-Ngawi.
Wajah garang Bengawan Solo kala itu memaksa puluhan ribu warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Bahkan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar rupiah. Bengawan Solo yang anggun di musim kemarau, saat itu berdiri tegak seolah naga raksasa yang gusar karena lapar. Ke mana pun arah geraknya, ia telan segala yang ada di hadapan.
Kapasitas tampung alur sungai alami di Bojonegoro mengalami penurunan. Ini diakibatkan sedimentasi parah. Setiap tahun, jutaan lumpur terendapkan di dasar sungai. Dasar sungai semakin dangkal. Hal ini menyebabkan luapan air terjadi begitu cepat. Setidaknya, jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu.
Karakter fisik Bengawan Solo memiliki kemiringan yang landai. Terutama di kawasan tengah hingga hilir. Termasuk saat melintasi wilayah Bojonegoro. Kelandaian ini menyebabkan laju air menjadi lambat. Saat debit air dari hulu melonjak, air tertahan lama dan meluap memenuhi daerah sekitarnya.
Luapan air inilah yang mengakibatkan warga tidak bisa ‘jongkok’. Sesuai dengan Parikan Jawa “Rendeng ra iso ndodok“, yang artinya musim hujan tidak bisa jongkok. Alasannya air Bengawan Solo meluap, arusnya deras dan airnya meluber ke bahu sungai menyebabkan banjir. Ini kondisi di mana warga tidak bisa jongkok. Bagaimana seseorang bisa jongkok saat kebanjiran?
Namun, di balik keganasan dan ancaman saban musim hujan, ada ikatan batin yang aneh antara saya, warga bantaran dan Bengawan Solo. Kami tidak pernah benar-benar bisa membencinya. Kami mencintai kala kemarau dan menghormati saat penghujan. Kemarau memberi kami ruang untuk merindukannya, sementara musim hujan mengajarkan kami arti ketangguhan dan kepasrahan.
Bengawan Solo di Bojonegoro bukan sekadar bentang alam. Ia adalah urat nadi peradaban, naga yang mendidik warga, ruang syahdu saat kemarau, sekaligus pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan alam.








