Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

Bakti Suryo by Bakti Suryo
13/10/2026
in Cecurhatan
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

Pria menulis demi membayar tangis di dunia yang patriarkis (Jurnaba).

Menulis bukan sekadar merangkai huruf. Menulis adalah cara mengurai benang kusut di dalam kepala. Ia mampu menawar racun emosional dan mengikat kepingan jiwa sebelum berantakan.

Ada beban tak terlihat di balik bahu seorang pria. Beban tak kasat mata yang bisa jadi terus menjalari punggung. Semakin berat. Perlahan tapi pasti. Di ruang terang, keringat kerap membasahi dahi. Namun, di ruang gelap, air mata sering tertelan sebelum menyapa pipi.

Budaya patriarki merajut rantai gaib yang mengikat lingkar kepala. Terus menuntut pria menjadi benteng tanpa celah. Tiang penyangga yang tak boleh goyah. Makhluk tanpa air mata. Bahkan, manusia yang tak boleh berkeluh kesah.

Ketika lelah mendera, kata ‘sambat’ seolah menjadi barang haram untuk diucapkan. Dunia menuntut pria diam dan menelan ludah kepedihan. Namun, di dalam kepala masih terus bergemuruh. Pikiran kian menumpuk. Di sinilah alasan kertas dan pulpen (termasuk Notes dan Ms. Word) bukan sekadar alat tulis. Ia sekutu bagi pria untuk membayar tangis yang tertahan.

Pria tumbuh dengan asupan dongeng tentang kekokohan. Kalimat “Jangan cengeng!” tertancap tepat di dinding kesadaran. Sebuah prinsip pertama yang didogmakan sejak kecil. Bahkan, sebelum belajar membaca dan menulis.

Sosiolog kenamaan asal Amerika, Michael Kimmel dalam kajian maskulinitasnya berjudul Manhood in America (1996), menjelaskan bagaimana konstruksi sosial memaksa pria menelan gagasan hegemonic masculinity. Sebuah pil gagasan yang melarang kerentanan. Akibatnya, emosi ditekan dan disimpan rapat ke dalam ruang bawah sadar.

Tekanan itu memicu fenomena normative male alexithymia. Begitulah para psikolog menyebutnya. Fenomena tersebut merupakan kondisi di mana pria kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi. Khususnya mereka yang merasakan tekanan dan menahan beban dalam pikiran.

“We constructed a model of masculinity that is built on the suppression of emotion, where vulnerability is seen as weakness, and where boys are taught to disavow their inner life.”

Michael Kimmel menyusun model maskulinitas berdasarkan penekanan emosi. Menurutnya, kerentanan telah dipandang sebagai kelemahan. Sejak kecil, anak laki-laki sudah diajarkan untuk menyangkal dunia batin mereka.

Michael menjelaskan bahwa ketika emosi dilarang keluar melalui lisan dan air mata, tubuh dan pikiran mencari jalan lain. Sering kali, jalan itu berujung pada ledakan sunyi atau kelelahan mental yang kronis.

Pada titik inilah beban harian menjadi terasa berat. Mulai dari beban finansial, tekanan sosial, tugas harian, dan tuntutan peran yang berputar tanpa henti di balik tulang tengkorak. Pria butuh katup pengaman dan penyeimbang. Pria butuh ruang merdeka untuk meluruhkan penat. Tanpa harus merasa dihakimi.

Perlu halaman kosong untuk mengkisahkan keluh kesah

Menulis bisa menjadi alternatif solusi. Setidaknya, menulis dapat menjadi salah satu terapi sunyi untuk mengatasi kelelahan mental dan hambatan emosional. Perlu halaman kosong untuk mencurahkan keluh kesah pria. Paling tidak, inilah celah untuk menghadapi dunia yang patriarkis.

Saat jari mulai menggerakkan pena atau menari di atas keyboard, ada dinding dalam batin yang runtuh perlahan. Halaman kosong itu tidak menuntut pria untuk kuat bertahan. Ia hanya menyerahkan diri sebagai ruang bebas. Ruang yang siap menampung segala kalimat yang hendak dirangkai dalam bentuk tulisan.

Seorang pakar psikologi asal University of Texas telah meneliti kekuatan ekspresi lewat tulisan. Penelitian ini berlangsung selama lebih dari satu dekade. Dia bernama Dr. James Pennebaker. James menulis risetnya dengan judul Expressive Writing (Edisi 3 tahun 2016). Dia menemukan bahwa cara ini ampuh untuk menurunkan kadar hormon kortisol secara signifikan. Artinya, menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan mampu menurunkan stres.

“When people are given the opportunity to write about emotional upheavals, their health improves. They go to the doctor less often. They have changes in immune function. They feel better and write better stories about their lives.”

Ketika seseorang berkesempatan menulis tentang gejolak emosinya, kesehatannya membaik. Tidak perlu sering pergi ke dokter. Ada perubahan pada fungsi kekebalan tubuhnya. Mereka merasa lebih baik dan mampu menulis kisah tentang hidupnya.

Menulis bukan sekadar merangkai huruf. Menulis adalah cara mengurai benang kusut di dalam kepala. Ia mampu menawar racun emosional dan mengikat kepingan jiwa sebelum berantakan.

Bagi seorang pria, menulis menjadi bentuk perlawanan terhadap tirani patriarki. Metode sunyi nan anggun tanpa menunjukkan sikap cengeng. Ketika sistem membungkam teriakan dan menyumpal air mata, tulisan menjadi ucapan sunyi yang bersuara paling nyaring. Setiap goresan atau ketikan ialah sikap untuk membayar tangis yang gagal tumpah.

Bukan sebuah dosa bagi pria menulis catatan dalam buku diary. Bisa jadi, membaca tulisan seperti bergulat dengan sunyi. Seolah menyelami sebuah novel melankolis, dengan tokoh yang tampak kuat, tetapi penuh kerapuhan.

Bangunan megah nan kokoh yang ternyata terbuat dari ranting kaca. Pundak yang ternyata lelah memikul dunia. Tanpa harus pura-pura. Melalui tulisan, seorang pria dapat memeluk dunia dan dirinya sendiri.

Penyair dan esablis bernama Rainer Maria Rilke pernah menulis dalam surat mashurnya, Letters to a Young Poet (1908), bahwa kesendirian adalah sebuah ladang pengujian di mana kedalaman jiwa ditempa. Menulis membawa pria masuk ke dalam ladang kesendirian itu. Bukan untuk tersesat, melainkan untuk menemukan kembali jalan pulang ke batin mereka.

Melawan dunia patriarki tidak harus dengan terikan lantang dan tuntutan perubahan. Cukup dengan bersiasat di antara celah-celahnya. Klandestine di atas lembaran kertas atau layar di kamar yang temaram. Pria yang menuliskan keluh kesah dan rasa lelah, sesungguhnya sedang meruntuhkan dinding ketangguhan palsu. Dinding usah yang dibangun masyarakat selamat berabad-abad.

Seorang pria boleh merasa rapuh. Pria juga berhak lelah. Dan barisan kalimat yang dia tulis berhasil membebaskan pikiran dan perasaannya. Setidak-tidaknya, sebagai jeda untuk bernafas lega. Menulis menjadi cara untuk menjaga kewarasan.

Tags: Khasiat MenulisMenulisMenulis DiaryPatriarkipsikologiSeorang Pria
Previous Post

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

BERITA MENARIK LAINNYA

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari
Cecurhatan

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

10/10/2026
Kampus: Jangan Sampai Sibuk Mengurus Diri, Lupa Mengurus Masa Depan
Cecurhatan

Kampus: Jangan Sampai Sibuk Mengurus Diri, Lupa Mengurus Masa Depan

08/10/2026
Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro
Cecurhatan

Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

04/10/2026

Anyar Nabs

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

13/10/2026
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

11/10/2026
Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

10/10/2026
Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

10/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: