Bruce Wayne adalah putra daerah Gotham City, sebuah kota yang becek dipenuhi air mata pembayar pajak dan polusi industri tingkat tinggi. Bruce tumbuh menjadi pria paruh baya dengan kekayaan nyaris tanpa batas. Dari kekayaan ini, Bruce membuat keputusan finansial yang menarik secara logika.
Alih-alih mendanai program insentif ekonomi, Bruce memilih menjadi sosok Batman. Sosok bertopeng kelelawar dengan jubah hitam dan kevlar militer buatan Jerman.
Ketika ketimpangan sosial menjangkar di kedalaman masyarakat dan sistem hukum terus membusuk, Bruce tidak memilih jalan politik anggaran. Dia memilih panggung yang lebih efektif, yaitu heroisme visual. Sebuah keputusan pencitraan yang memiliki daya tawar politik begitu dahsyat.
Masyarakat Gotham tentu lebih mudah mengucapkan terima kasih kepada sosok yang hadir langsung di lapangan daripada birokrasi yang berbelit.
Melalui kalkulasi ekonomi biasa, pilihan Bruce adalah anomali. Namun tidak dalam kacamata pemasaran politik (political branding). Bruce menjadi Batman bukanlah aksi impulsif akibat trauma semata. Dia menjalankan manuver pencitraan yang genius.
Mengutip estimasi Forbes dalam daftar Fictional 15, kekayaan Bruce menembus angka di atas 9,2 miliar dolar AS. Dana sebesar itu sebetulnya cukup untuk menekan kejahatan melalui reformasi struktural, seperti membuka lapangan pekerjaan, mendanai rehabilitasi, hingga memperbaiki sistem pemasyarakatan.
Namun, program sosial tak memiliki hook di hadapan mata publik. Bruce sadar betul bahwa transfer dana hibah tidak pernah menandingi daya pikat aksi vigilantisme. Memperbaiki sistem secara struktural adalah investasi politik yang buruk: hasilnya lama, butuh proses panjang, dan rawan diklaim politisi lain. Sebaliknya, vigilantisme menciptakan narasi “Sosok Penyelamat” yang menghujam kesadaran warga secara langsung.
Jika Gotham memiliki Batman yang beraksi malam hari dengan jubah hitam, maka panggung politik—di dunia nyata—memiliki pejabat yang beraksi di depan kamera. Fenomena pejabat ngonten yang marak saat ini merupakan representasi nyata dari politik Bruce Wayne.
Ketika seorang pejabat turun ke jalan membawa kamera, terjadilah drama teatrikal penarik perhatian netizen. Mulai dari memarahi ASN di kantor pelayanan, menyidak pasar, membagikan uang secara acak, teriak di hadapan masyarakat, hingga mengeksekusi pelanggaran hukum secara instant tanpa prosedur regular. Sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan aksi vigilantisme politik.
Aksi vigilantisme politik dikemas menjadi narasi heroisme era digital. Bagi masyarakat umum yang lelah dengan birokrasi dan hukum yang tumpul, tayangan pejabat yang menindak tegas “antagonis” atau pihak yang salah terasa begitu menyegarkan. Terlebih di hari-hari yang begitu panas berkepanjangan.
Namun, persis seperti aksi Batman di Gotham, tindakan ini adalah jalan pintas yang mengabaikan due process of law serta tatanan kelembagaan. Pejabat seharusnya memperkuat sistem, tetapi justru memilih bertindak sebagai hakim tunggal demi engagement dan apresiasi warganet.
Tanpa sadar, publik disuapi oleh apa yang disebut paternalistic philanthropy dalam sosiologi modern. Sebuah kondisi ketika kelas penguasa atau elit menentukan sendiri cara ‘menyelamatkan’ masyarakat di bawahnya melalui instrumen politik spektakuler yang teatrikal. Aksi-aksi demikian sengaja dirancang untuk memanjakan pandangan mata.
Kritikus sosial Anand Giridharadas, dalam bukunya Winners Take All: The Elite Charade of Changing the World (2018), mengungkapkan bahwa elit memiliki kegemaran memoles citra lewat kedermawanan dangkal (superficial). Mereka memilih bentuk aksi publik yang tampak heroik tanpa pernah menyentuh struktur kekuasaan yang timpang—struktur yang sebenarnya menciptakan masalah itu sendiri.
“Para pengusaha bersedia ikut serta membuat dunia menjadi lebih baik, asalkan Anda mengejar tujuan itu dengan cara yang membebaskan mereka dari tuduhan, merayakan mereka, dan membuat semua orang bergantung pada mereka,” kutipan Anand Giridharadas di buku Winners Take All, mengutip dari Goodreads.
Para pejabat yang gemar ngonten dan beratraksi heroik di media sosial memiliki satu tujuan. Mereka menginginkan perubahan persepsi publik. Namun, dengan satu syarat: tatanan sistem tidak boleh benar-benar diubah jika itu mengancam posisi politik mereka.
Bruce Wayne menumbangkan penjahat jalanan Gotham yang lahir dari kemiskinan kota. Di samping itu, dia membiarkan sistem kapitalisme korporasi keluarganya tetap bekerja tanpa gangguan.
Begitu pula dengan fenomena pejabat ngonten saat ini. Mereka sibuk menyelesaikan satu atau dua kasus viral di depan kamera untuk meraih simpati, tetapi enggan membenahi regulasi. Padahal, peraturannya yang rusak, kurangnya transparansi anggaran, atau reformasi birokrasi yang tidak menyeluruh. Belum lagi soal inkompetensi di dalam struktur birokrasi.
Membenahkan sistem secara fundamental berisiko merusak konstelasi politik. Termasuk juga jaringan kekuasaan mereka sendiri. Sebaliknya, konten heroisme visual dan aksi vigilantisme menawarkan dominasi moral mutlak di mata pemilih.
Pada akhirnya, aksi pejabat ngonten dengan gaya superhero ini hanyalah plester perban di atas luka terbuka yang terus mengucurkan darah. Selama publik terus terpesona oleh drama heroik di layar ponsel, selama itu pula perbaikan struktural yang sungguh-sungguh akan terus dikesampingkan.








