“Hanya mereka yang memiliki kedamaian batin, yang dapat memperoleh hal-hal besar”.
Pertama, kalimat di atas bukan diucap filosof Stoik, melainkan oleh pemain-pelatih sepak bola. Kedua, kalimat itu diucap sebelum pertandingan semifinal Piala Dunia tahun 1990 antara Inggris melawan Jerman Barat.
Nama orang yang mengucapkan kalimat di pembukaan tulisan ini adalah Franz Backenbauer. Der Kaiser asal Jerman yang berhasil menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.
Di tahun kalimat tersebut diucapkan, tahun 1990, Jerman Barat yang dilatih Franz Backenbauer, berhasil mengalahkan Inggris di Semifinal, dan mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 di babak Final.
Menghadapi pertandingan Semifinal melawan salah satu tim kuat, football is coming home, Backenbauer menyiapkan timnya dengan pikiran tenang agar stabilitas emosional pemain di ruang ganti terjaga tetap adem dan fokus. Menghadapi gemuruh, berisik, dan tantangan menjelang akhir turnamen, menyiapkan kondisi psikis-emosional pemain merupakan pilihan taktis dan cerdik.
Damai, letaknya ada di batin, lokusnya di psikis. Ia menjadi salah satu kebutuhan kesejahteraan hidup. Kondisi damai di dalam konteks sebuah tim, dapat hadir, saat setiap individu memahami tugas dan kewajibannya di dalam tim. Kehadiran individu di dalam tim sama pentingnya. Tentu, di dalam sebuah tim, ada individu berperan sebagai penampil utama, ada pula yang menjadi penampil cadangan. Pembagian peran, posisi sebagai penampil utama-cadangan, jika dibagi secara merit dan berbasis prestasi, menjadi kunci hadirnya rasa damai di dalam tim.
Perasaan damai pula, yang menjadi rem atas ambisi dan ego yang bersemayam di dalam diri. Manusiawi ketika setiap individu ingin tampil sebagai penampil utama dan sebagai bintang panggung. Ambisi menjadi terbaik adalah gas yang mendorong upaya optimal, itu sangat penting. Perasaan damai adalah rem, agar di atas ambisi-ego individu, ada tim yang harus dibela bersama dengan bahu-membahu. Di atas ego pribadi, ada ego-ego orang lain dalam tim yang harus dikelola bersama. Damai, membantu mengontrol itu.
Sepak bola adalah ungkapan dari masyarakat individualis akan tetapi, permainan sepak bola juga diatur dengan hukum fair play yang tidak tertulis. Kalimat ini dituturkan oleh Antonio Gramsci.
Sepak bola sebagai permainan tim, sesungguhnya adalah cara mengelola ego dan sifat individualis setiap individu. Namun, ego dan sifat individualis itu harus dikelola dengan baik melalui aturan. Kalau pun tidak ada aturan formal tertulis, di dalam diri setiap individu, hendaknya menyadari norma-etika fair play untuk memahami tugas dan peran melekat sebagai anggota tim. Mintalah fatwa pada nuranimu, itulah fair play. Kedamaian jiwa.








