Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

Sandra Alfiani by Sandra Alfiani
28/10/2026
in Cecurhatan
Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

Gen Z, Kopi, dan Instastory (Unsplash)

Barangkali, kemampuan menikmati sesuatu tanpa harus membuktikannya pada siapapun, merupakan bentuk kemewahan paling sunyi.

Pukul sepuluh pagi, sebuah kafe mulai penuh. Laptop terbuka di atas meja, tetapi layar yang paling sering ditatap justru layar ponsel. Segelas kopi susu aren diletakkan di tempat paling strategis. Difoto dari atas, dari samping, lalu dari sudut yang dianggap paling estetik. Sebuah Instastory terbit dengan caption: Seni menjaga kewarasan.

Lima belas menit kemudian, pemilik akun itu memegangi perutnya. Asam lambung mulai menyapa. Kopi pertama belum habis, pesanan kedua sudah datang. Sementara saldo m-banking, seperti biasa, diketahui jumlahnya tetapi enggan dibicarakan.

Begitulah ironi kecil kehidupan urban hari ini. Kita membeli kopi untuk menikmati rasanya, mencari tempat untuk menenangkan kepala, lalu sibuk memastikan semua itu terlihat oleh orang lain. Bahkan istirahat pun kadang membutuhkan dokumentasi.

Saya bukan hendak menghakimi kebiasaan ngopi. Kopi bukan dosa, kafe bukan panggung kesia-siaan, dan mengunggah foto bukan perkara yang harus dipersoalkan. Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: sebenarnya, apa yang sedang kita beli ketika memesan segelas kopi seharga Rp 20 ribu? Kopinya, suasananya, atau cerita tentang diri sendiri yang bisa dipamerkan kepada orang lain?

Pertanyaan ini membawa kita pada sesuatu yang lebih besar daripada urusan kafe dan minuman. Ia menyangkut cara manusia membangun identitas, mencari pengakuan, dan mengonsumsi kehidupan di tengah masyarakat yang semakin gemar mempertontonkan dirinya.

Kopi dan Nilai Tanda
Filsuf Jean Baudrillard pernah menjelaskan bahwa dalam masyarakat konsumsi, barang tidak lagi dibeli semata-mata karena kegunaannya. Barang juga dikonsumsi karena sign value, atau nilai tanda yang melekat padanya.

Secara fungsional, kopi susu seharga Rp 20 ribu dan kopi sachet seharga Rp 3 ribu sama-sama menawarkan pengalaman minum kopi, meski rasa, bahan, dan kualitasnya tentu bisa berbeda. Namun, ketika masuk ke dalam ekosistem gaya hidup, keduanya membawa pesan sosial yang berlainan.

Gelas kopi dengan logo kedai tertentu dapat menjadi penanda selera, kelas pergaulan, bahkan gambaran tentang bagaimana seseorang ingin dilihat. Ada pesan yang tidak tertulis di sana: aku mengikuti zaman, aku mengenal tempat-tempat yang sedang dibicarakan, aku bagian dari lingkaran ini.

Di sinilah merek bekerja. Kedai kopi tidak hanya menjual minuman. Mereka juga menjual suasana, identitas, dan pengalaman yang mudah diubah menjadi konten. Tata ruang, pencahayaan, desain gelas, hingga penempatan meja ikut membentuk pengalaman konsumsi.

Kita tidak hanya membayar apa yang masuk ke dalam gelas. Kita juga membayar kemungkinan untuk masuk ke dalam sebuah cerita.

Tentu, tidak semua orang yang datang ke kafe sedang mengejar pengakuan. Namun, ketika pengalaman minum kopi terasa belum lengkap sebelum diunggah, konsumsi telah bergerak melampaui kebutuhan. Barang yang dibeli bukan lagi sekadar sesuatu untuk dinikmati, melainkan sesuatu yang membantu kita menyusun citra diri.

Kopi menjadi minuman sekaligus tanda. Kafe menjadi tempat sekaligus latar. Dan ponsel menjadi jembatan yang mengubah pengalaman pribadi menjadi pertunjukan sosial.

Instastory sebagai Panggung Kehidupan
Sosiolog Erving Goffman menggunakan metafora teater untuk menjelaskan bagaimana manusia menampilkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Ada front stage, panggung depan tempat seseorang mengelola kesan di hadapan orang lain, dan back stage, panggung belakang tempat ia memiliki ruang lebih privat untuk melepaskan tuntutan penampilan.

Media sosial membuat panggung depan itu semakin mudah dibangun. Instastory menyediakan ruang untuk menampilkan potongan kehidupan yang telah dipilih: kopi yang cantik, meja yang rapi, buku yang terbuka, atau suasana senja yang seolah-olah menenteramkan segalanya.

Penontonnya beragam. Teman, gebetan, mantan, rekan kerja, bahkan orang-orang yang jarang bertegur sapa tetapi rajin melihat unggahan kita.

Dalam ruang itu, seseorang bisa merangkai kesan tentang dirinya melalui gambar-gambar sederhana. Ia tampak produktif, menikmati hidup, memiliki selera, dan tahu bagaimana merawat kewarasan.

Tidak ada yang sepenuhnya keliru dari tindakan tersebut. Mengelola kesan merupakan bagian normal dari kehidupan sosial. Persoalan muncul ketika citra yang ingin ditampilkan mulai menuntut pengeluaran yang melampaui kemampuan nyata.

Panggung depan meminta kopi yang tepat, tempat yang tepat, dan pengalaman yang layak diunggah. Panggung belakang harus membayar semuanya: saldo yang menyusut, tagihan yang menumpuk, dan tubuh yang belum tentu sanggup menerima tambahan kafein.

Dua panggung itu mungkin tidak bertemu di layar. Namun, keduanya bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa menghapus unggahan, mengganti filter, atau membiarkan Instastory kedaluwarsa setelah 24 jam. Tetapi pengeluaran tetap tercatat. Begitu pula rasa tidak nyaman pada tubuh.

Kadang-kadang, yang paling melelahkan bukan kehidupan yang sedang dijalani, melainkan upaya untuk memastikan kehidupan itu terlihat baik-baik saja.

FOMO dan Industri Ketertinggalan
Mengapa seseorang terus mengikuti pola konsumsi yang sebenarnya membebani dirinya? Teori perbandingan sosial Leon Festinger dapat membantu menjelaskannya. Manusia kerap menilai dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Media sosial memperluas medan perbandingan itu hingga tak berbatas.

kopi dan instastory

Dahulu, seseorang mungkin membandingkan rumah, pakaian, atau gaya hidupnya dengan tetangga. Kini, ia dapat membandingkan dirinya dengan ratusan orang dalam satu waktu. Masalahnya, yang terlihat biasanya bukan kehidupan secara utuh, melainkan potongan-potongan terbaik yang telah dipilih untuk ditampilkan.

Kita melihat teman menikmati kopi di tempat baru, kolega mengunggah makan siang di restoran mahal, atau seseorang yang tampak selalu punya waktu untuk berlibur. Kita tidak melihat seluruh biaya, kecemasan, dan kompromi yang mungkin menyertai pengalaman tersebut.

Dari sinilah fear of missing out (FOMO) tumbuh: ketakutan tertinggal dari pengalaman, tren, atau percakapan yang sedang berlangsung.

Kita ingin ikut mencoba menu baru. Ingin datang ke tempat yang sedang ramai. Ingin menjadi bagian dari sesuatu yang sedang dibicarakan. Bukan selalu karena membutuhkan pengalaman itu, melainkan karena tidak ingin merasa berada di luar lingkaran.

Industri pemasaran memahami kecenderungan ini. Kalimat seperti “jangan sampai ketinggalan”, “edisi terbatas”, atau “menu yang sedang viral” bekerja dengan menciptakan kesan bahwa kesempatan untuk menikmati sesuatu memiliki batas waktu.

Barang yang sebenarnya bisa ditunda seolah-olah harus dibeli sekarang. Keinginan yang semula biasa berubah menjadi kebutuhan mendesak.

Di titik ini, FOMO bukan lagi sekadar urusan psikologis individu. Ia dapat menjadi sumber daya ekonomi. Rasa takut tertinggal diterjemahkan menjadi kunjungan, transaksi, dan unggahan baru.

Kita merasa sedang mengejar pengalaman. Sementara itu, ada industri yang memperoleh keuntungan dari ketakutan kita untuk tidak ikut mengalami.

Ketika Bahagia Bisa Dibayar Nanti
Persoalan menjadi lebih rumit ketika gaya hidup bertemu dengan layanan paylater. Sistem pembayaran ini menawarkan kemudahan untuk menikmati barang atau jasa sekarang dan membayarnya kemudian. Dalam kondisi tertentu, fasilitas tersebut dapat berguna. Namun, dalam lingkungan konsumsi yang digerakkan oleh impuls dan tekanan sosial, kemudahan itu juga berpotensi memperlebar jarak antara keinginan dan kemampuan.

Perhatikan bagaimana bahasa promosi dapat membingkai transaksi. Keinginan belum terpenuhi karena uang belum tersedia. Gaji belum cair. Padahal, kita berhak menikmati hidup. Maka, solusi yang ditawarkan terdengar sederhana: nikmati sekarang, bayar nanti.

Kata utang tidak selalu menjadi pusat perhatian. Yang lebih menonjol adalah kemudahan, kecepatan, dan kesempatan untuk segera memiliki. Sementara itu, bunga, biaya, tenor, dan denda berada dalam penjelasan yang harus dibaca lebih teliti.

Ini bukan berarti setiap penyedia layanan sengaja menipu konsumen. Persoalannya terletak pada cara informasi diberi penekanan. Kemudahan mudah terlihat, sedangkan konsekuensi finansial membutuhkan perhatian lebih.

Akibatnya, batas antara kemampuan membeli dan kemampuan mengakses pembiayaan menjadi kabur. Sesuatu yang belum terjangkau hari ini terasa seolah-olah sudah mampu dimiliki hanya karena tersedia pilihan pembayaran.

Secangkir kopi mungkin tampak terlalu kecil untuk disebut persoalan finansial. Namun, kebiasaan konsumsi jarang berdiri sendirian. Ia berulang, bertambah, dan berbaur dengan pengeluaran lain yang sama-sama dianggap kecil.

Penghasilan bulan depan pun perlahan mendapat jatah dari keputusan hari ini. Gaya hidup sekarang bisa menyandera ruang gerak keuangan di kemudian hari. Dan ketika tagihan datang, tidak ada filter yang dapat mengubah angka di layar.

Lambung, sementara itu, menghadapi persoalan berbeda. Konsumsi kopi berlebihan, terutama pada orang yang sensitif terhadap kafein atau memiliki gangguan pencernaan tertentu, dapat memicu keluhan. Namun, masalah lambung tidak bisa disederhanakan menjadi akibat gaya hidup atau harga kopi semata. Kondisi tubuh setiap orang berbeda.

Barangkali inilah ironi yang perlu diperhatikan: sesuatu yang dibeli atas nama menjaga kewarasan belum tentu membuat hidup lebih tenang. Terlebih jika setelahnya muncul kecemasan baru tentang uang, tagihan, dan tubuh yang mulai memberi tanda.

Gen Z Bukan Terdakwa
Meski fenomena ini sering dikaitkan dengan Gen Z, tidak adil jika satu generasi dijadikan terdakwa tunggal. Banyak anak muda yang terbiasa menabung, mencatat pengeluaran, membandingkan harga, dan memilih menyeduh kopi sendiri di rumah. Mereka memahami bahwa menikmati hidup tidak harus selalu mengikuti tren.

Selain itu, kafe tidak selalu menjadi ruang konsumsi simbolik. Bagi sebagian orang, kafe merupakan tempat bekerja ketika kamar kos terlalu sempit, tempat berdiskusi ketika ruang publik terbatas, atau tempat bertemu yang menawarkan kenyamanan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Kita perlu membedakan kebutuhan akan ruang dengan tekanan untuk menampilkan gaya hidup. Keduanya bisa bertemu dalam satu tempat, tetapi tidak selalu memiliki alasan yang sama.

Karena itu, pembicaraan tentang konsumsi anak muda seharusnya tidak berhenti pada nasihat agar lebih hemat. Ada ekosistem yang turut membentuk pilihan mereka: desain platform, budaya perbandingan sosial, strategi pemasaran, keterbatasan ruang publik, hingga layanan pembiayaan yang membuat transaksi terasa semakin mudah.

Literasi keuangan memang penting. Namun, ada literasi lain yang tak kalah diperlukan: kemampuan membaca bujukan.

Kita perlu memahami bagaimana keinginan dibentuk, bagaimana rasa takut tertinggal dipelihara, dan bagaimana sebuah produk diberi makna yang melampaui fungsi dasarnya.

Sebab, seseorang tidak selalu membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya. Kadang-kadang, ia membeli karena ingin merasa menjadi bagian dari dunia yang sedang dilihatnya.

Siapa yang Sebenarnya Sedang Kita Puaskan?
Tulisan ini tidak hendak berakhir dengan larangan ngopi atau seruan untuk menjauhi media sosial. Hidup tidak harus selalu diukur dengan penghematan. Sesekali menikmati kopi yang enak, mengunjungi tempat baru, atau mengunggah pengalaman menyenangkan bukanlah masalah.

Yang perlu diperiksa adalah alasan di balik keputusan itu. Sebelum memesan segelas kopi atau menekan tombol cicilan, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa diajukan kepada diri sendiri: apakah ini ingin saya nikmati, atau ingin saya tunjukkan kepada orang lain?

Tidak selalu mudah membedakan keduanya. Kita bisa menikmati sesuatu sekaligus ingin membagikannya. Namun, pertanyaan itu setidaknya memberi jeda di antara keinginan dan transaksi.

Jika memang ingin menikmati kopi, nikmatilah. Tidak perlu merasa bersalah hanya karena memilih tempat yang nyaman. Tetapi jika keinginan itu terutama muncul karena semua orang sedang membicarakannya, barangkali kita perlu bertanya sekali lagi: apakah pengalaman itu sungguh kita inginkan, atau kita hanya takut tertinggal?

Sebab, tidak semua hal yang layak diunggah harus dimiliki. Tidak semua pengalaman yang menarik di layar harus kita alami. Dan tidak semua kebahagiaan membutuhkan bukti berupa gambar.

Pada akhirnya, kehidupan memiliki panggung yang lebih panjang daripada Instastory. Ia berlangsung jauh setelah unggahan menghilang, ketika saldo harus cukup sampai akhir bulan, ketika tubuh meminta istirahat, dan ketika masa depan mulai menagih keputusan-keputusan kecil yang kita buat hari ini.

Healing tidak selalu datang dalam gelas berlogo dengan harga Rp 20 ribu. Kadang-kadang, ia hadir sebagai tanggal tua yang tetap tenang, saldo yang belum habis, lambung yang tidak berontak, dan tabungan yang perlahan bertambah.

Tak semua kebahagiaan perlu disaksikan orang lain. Sebagian cukup dirasakan sendiri, tanpa kamera, tanpa caption, dan tanpa kewajiban untuk terlihat baik-baik saja.

Barangkali, di tengah dunia yang terus meminta kita mempertontonkan kehidupan, kemampuan menikmati sesuatu tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun justru merupakan bentuk kemewahan yang paling sunyi.

Tags: Gen zInstastoryKehidupan Gen ZKopi
Previous Post

Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten
Cecurhatan

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

22/10/2026
Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026

Anyar Nabs

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

28/10/2026
Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

27/10/2026
Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

26/10/2026
Sanad Alkemia: dari Persia hingga Rahasia Logam Nusantara

Sanad Alkemia: dari Persia hingga Rahasia Logam Nusantara

25/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: