Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

Maulida Chartagupta by Maulida Chartagupta
27/10/2026
in Peristiwa
Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

Ngobrol Asyik Naskah Kuno Bojonegoro (27/10/2026)

Naskah kuno tak selalu berkisah tentang raja, tahta, dan wilayah kuasa. Tersimpan pula supremasi masyarakat dalam memandang hidup dan beradaptasi dengan lingkungan. Sebuah bukti bahwa peradaban tak hanya bisa dibaca dari sudut pandang istana. Namun juga masyarakat.

Pembahasan itu mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Asyik Naskah Kuno, Bukti Peradaban Literatur Bojonegoro digelar di lantai dua Perpustakaan Daerah Bojonegoro, Selasa (27/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah seniman, akademisi, pegiat literasi, dan pemerhati sejarah di Bojonegoro.

Komisi A DPRD Bojonegoro, Kepala Dinas PerpusSip, dan periset naskah.

Kepala Dinas Perpustakaan Daerah Bojonegoro, Erik Firdaus, mengatakan bahwa pembahasan naskah kuno menjadi salah satu agenda prioritas perpustakaan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rencana yang telah disiapkan sejak lama untuk membuka kembali ruang pembicaraan mengenai warisan literatur daerah.

Menurut Erik, Bojonegoro memiliki kekayaan naskah kuno belum banyak dibahas secara serius. Sebagian di antaranya bahkan belum ditemukan. Karena itu, kegiatan ini diharap dapat mendorong masyarakat menengok keberadaan naskah kuno sebagai bagian dari rekam jejak peradaban daerah.

“Sebuah syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Sebab, pembahasan mengenai naskah kuno merupakan prioritas Perpustakaan,” ucapnya.

Perwakilan Komisi A DPRD Bojonegoro, Mustakim, yang membuka kegiatan tersebut, menyebut inisiatif ini sebagai langkah luar biasa. Menurutnya, pembahasan mengenai naskah kuno masih jarang dilakukan, padahal Bojonegoro memiliki tradisi literasi yang teramat panjang.

Ia mengatakan, hampir di tiap zaman, Bojonegoro tidak pernah benar-benar kekurangan penulis dan pegiat literasi. Mereka terus bermunculan dari generasi ke generasi, meski sebagian besar bergerak dalam keterbatasan, dengan cara-cara sederhana dan kemampuan masing-masing.

Bagi Mustakim, keberlanjutan itu menunjukkan bahwa budaya literasi di Bojonegoro bukan sesuatu yang baru tumbuh belakangan. Ia telah memiliki akar panjang, meski tak selalu tercatat dalam panggung-panggung besar.

“Karena itu ketika Perpusda menghelat kegiatan ini, sebuah inisiasi luar biasa,” ucap Mustakim.

Literatur dari Sudut Pandang Masyarakat

Dalam pemaparannya, Ahmad Wahyu Rizkiawan mengajak peserta membaca naskah kuno bukan semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami siapa yang memproduksi pengetahuan dan dari sudut pandang mana sejarah dituliskan.

Membaca peradaban dari sudut pandang masyarakat sipil

Menurutnya, literatur tidak pernah menjadi monopoli penguasa. Di luar tradisi penulisan kerajaan yang kerap menonjolkan silsilah raja, pergantian kekuasaan, dan perluasan wilayah, terdapat naskah-naskah yang merekam kehidupan masyarakat, pengetahuan yang mereka miliki, serta cara mereka beradaptasi dengan lingkungan alam.

Mayoritas naskah yang dibahas dalam kegiatan tersebut bertarikh sekitar 1800 M. Dalam pembacaan Rizki, naskah-naskah itu memperlihatkan sudut pandang masyarakat sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar objek yang diceritakan oleh penguasa.

“Ini bukti keberadaan masyarakat yang literat. Mayoritas bercerita kondisi masyarakat dan pengetahuan yang mereka miliki,” ujarnya.

Sudut pandang ini membuktikan, peradaban tak bisa dimonopoli penguasa. Sebab, ia juga dapat dikenali melalui pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana masyarakat memahami alam, mengelola sumber daya, merawat tradisi, dan mewariskan pengalaman pada generasi berikutnya. Dalam pengertian itu, naskah kuno menjadi lebih dari sekadar dokumen historis. Ia merupakan jejak pikir masyarakat pada zamannya.

Membaca Sejarah dari Bawah

Pembacaan terhadap naskah kuno yang berangkat dari pengalaman masyarakat membuka ruang bagi penulisan sejarah yang lebih beragam. Sejarah tidak lagi berdiri sebagai narasi tunggal yang bergerak dari istana menuju rakyat, melainkan sebagai pertemuan berbagai pengalaman, pengetahuan, dan ingatan yang hidup di tengah masyarakat.

Naskah kuno sebagai bukti adanya tradisi literasi di Bojonegoro

Di sinilah pentingnya menengok kembali naskah-naskah kuno Bojonegoro. Lembar-lembar yang tersisa bukan hanya menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga memberi petunjuk tentang bagaimana masyarakat memahami dunia mereka sendiri.

Namun, pekerjaan itu belum selesai. Naskah yang belum ditemukan, belum dikaji, atau belum memperoleh perhatian yang memadai masih menyisakan ruang kosong dalam pembacaan sejarah daerah. Upaya penelusuran, pendokumentasian, digitalisasi, dan penelitian menjadi bagian penting untuk menjaga agar pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak terputus dari generasi sekarang.

Melalui kegiatan ini, Perpustakaan Daerah Bojonegoro membuka ruang perjumpaan antara naskah, peneliti, dan masyarakat. Sebuah langkah untuk melihat kembali bahwa literatur bukan hanya milik mereka yang berkuasa atau mereka yang memiliki akses terhadap pendidikan formal.

Jauh sebelum istilah literasi menjadi bagian dari bahasa pembangunan, masyarakat telah menulis, membaca, mencatat, dan mewariskan pengetahuan dengan caranya sendiri.

Barangkali, dari lembar-lembar naskah kuno itulah Bojonegoro dapat membaca kembali satu hal mendasar: bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tercatat dalam traktat kekuasaan, tapi juga masyarakat yang pengetahuannya terus hidup, bahkan ketika nama-nama mereka tak lagi diingat zaman.

Tags: Makin Tahu IndonesiaManuskrip PadanganNaskah Kuno BojonegoroNgobrol Asyik Naskah Kuno
Previous Post

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Next Post

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

BERITA MENARIK LAINNYA

Biopori, Cara Warga Bojonegoro Menabung Air untuk Kemarau 
Peristiwa

Biopori, Cara Warga Bojonegoro Menabung Air untuk Kemarau 

24/10/2026
Potensi Geotermal Gunung Pandan Masuki Tahap Pengkajian Serius
Peristiwa

Potensi Geotermal Gunung Pandan Masuki Tahap Pengkajian Serius

23/10/2026
Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers
Peristiwa

Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers

21/10/2026

Anyar Nabs

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

28/10/2026
Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

27/10/2026
Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

26/10/2026
Sanad Alkemia: dari Persia hingga Rahasia Logam Nusantara

Sanad Alkemia: dari Persia hingga Rahasia Logam Nusantara

25/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: