Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gunung Pandan: Saintifikasi Sabda Nabi dalam Kaidah Teologi

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
01/02/2025
in JURNAKOLOGI
Gunung Pandan: Saintifikasi Sabda Nabi dalam Kaidah Teologi

Ekosistem Pandan

Gunung Pandan memang bukan gunung tinggi favorit para pendaki. Tapi justru karena itu, ia menyimpan kaidah ekologi, sekaligus mengabarkan saintifikasi Sabda Nabi. 

Saya tak berani melabeli diri sebagai seorang pendaki. Sebab, hanya satu-dua kali melakukannya. Saya, bahkan baru tahu letak puncak Gunung Pandan belum lama. Ini bukti minimnya pengalaman saya dalam mendaki gunung. Namun, sejak lama saya suka mempelajari nilai-nilai kebijaksanaan yang tersimpan dalam figur alam seperti sesungaian, gegunungan, atau pepohonan.

Pandan Foundation, lembaga riset dan pusat semai dekolonisasi ilmu pengetahuan, saat ini sedang fokus melakukan pengamatan di wilayah ekosistem Pandan. Kegiatan tafakur dan tadabur ekologis ini, dilakukan dalam rangka menggali, menemukan, dan memelihara nilai kebijaksanaan alam yang berada di lokasi tersebut.

Guru kami, Noer Fauzi Rachman, PhD berpesan, dekolonisasi ilmu pengetahuan harus diawali dengan kemampuan membaca alam. Pembacaan terhadap alam, adalah langkah pertama menemukan sisi bijak dan kearifan, baru kemudian bisa melakukan dekolonisasi pengetahuan.

Baca Juga: Pandan Foundation, Merawat Ekosistem Gunung Purba 

Dan untuk membaca alam, kata Om Oji, harus menggunakan beragam frame dan cara pandang. Artinya, alam harus bisa dibaca dengan bermacam paradigma. Dengan cara itu, benih kebijaksanaan ekologis bisa ditemukan. Saya, secara pribadi, memilih pembacaan dalam kaidah Teologi Lingkungan.

Gunung Pandan memang bukan gunung tinggi favorit para pendaki. Tapi justru karena itu, Gunung Pandan menyimpan keistimewaan berupa norma dan kaidah ekologi. Gunung Pandan adalah entitas penyimpan “kualitas” nilai. Karena itu, ia mungkin tak begitu menarik bagi para pendamba “kuantitas” ukuran.

Secara umum, posisi gunung sebagai entitas alam, memang menjadi poros teologis yang dimuliakan hampir semua agama dan keyakinan manusia. Etika Jawa, Hindu-Budha, hingga Islam memposisikan gunung sebagai variabel penting bagi kebudayaan mereka.

Dalam Islam, gunung muncul di berbagai sumber empiris. Baik Al Quran maupun Hadits. Kata gunung, disebut sebanyak 52 kali dalam Al Quran. Gunung juga identik tempat turunnya wahyu. Nabi Musa AS menerima wahyu di Gunung Sinai. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu di Goa Hira, Gunung Jabal Nur.

Anas bin Malik meriwayatkan, Nabi Muhammad saw bersabda: Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu berguncang. Maka, Allah memancangnya dengan gunung (H.R. al-Tirmidzi). Hadis ini, tentu sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (Q.S. al-Naziat: 32-33).

Al Quran dan Hadits, secara empiris menyebut keberadaan gunung. Bahkan dari Hadits di atas, Nabi Muhammad SAW. memposisikan gunung sebagai entitas primer yang mampu menyeimbangkan bumi. Artinya, keberadaan gunung menjadi elemen penting, bagi tatanan ekosistem makhluk hidup di muka bumi.

Saat berada di Gunung Pandan, sabda Nabi di atas tiba-tiba sesak memenuhi dada-kepala saya: pusing dan masuk angin. Sabda tentang gunung sebagai pilar (pancang) bumi, membuat saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin gunung menjadi pilar bumi? Bukan hanya Gunung Pandan, tapi semua gunung yang ada di muka bumi, benarkah mereka mampu menjadi pilar pancang bumi?

Sejumlah referensi menyebut, para ilmuwan berbeda pendapat mengenai peran gunung sebagai pilar bumi. Sebab, total berat massa gunung di muka bumi tidak sepadan dengan berat massa planet bumi, yang diperkirakan mencapai enam ribu triliun ton (5,97 x 1024 kg). Demikian pula, ketinggian gunung tak seberapa dibanding panjang jari-jari lingkaran bumi.

Simbol Jantung Ekologi Pandan

Puncak tertinggi gunung di muka bumi (dalam hal ini diwakili Puncak Everest di pegunungan Himalaya) hanya mencapai 8.848 mdpl. Sementara cekungan terdalam bumi (dalam hal ini diwakili Palung Mariyana sebagai palung terdalam di dunia), kedalamannya 19, 715 km. Tak sampai 20 kilometer dari permukaan laut.

Bandingkan dengan panjang jari-jari lingkaran bumi yang mencapai 6378,160 kilometer. Dari sini kita bisa melihat betapa pendeknya relief permukaan bumi dibanding panjang jari-jari bumi. Karena itu, muncul pertanyaan: bagaimana gunung bisa membuat bumi stabil, sementara berat massa dan tingginya saja tak seberapa dibanding berat massa dan panjang jari-jari bumi?

Ternyata, pertanyaan yang sempat membuat saya mual dan pusing itu, pernah pula dialami banyak orang. Bahkan, banyak para ilmuwan yang jauh-jauh hari, telah mencoba membuktikan kaidah itu secara ilmiah. Namun harus diakui, selama berpuluh-puluh tahun pula, para ilmuwan juga sempat tak bisa menjawabnya.

Saintifikasi Sabda Nabi

Dada saya terasa sangat lega ketika menemukan catatan seorang ahli geologi Mesir bernama Prof. Dr. Zaghlul an-Najjar. Prof. Zaghlul bercerita banyak atas pertanyaan yang sempat memaksa saya membaca sejumlah referensi ilmiah tentang kaidah gunung tersebut.

Dalam catatannya, Prof. Zaghlul menulis, pada pertengahan tahun 1960-an, pertanyaan sulit itu akhirmya terjawab. Terdapat fakta bahwa pada lapisan kerak bumi terdapat rekahan dengan bentangan mencapai puluhan ribu kilometer. Rekahan ini terjadi di berbagai penjuru bumi dengan kedalaman berkisar antara 65 hingga 150 kilometer.

Rekahan ini menyebabkan lapisan kerak bumi (crust) terbelah menjadi lempengan-lempengan yang saling terpisah. Karena berada di atas lapisan asthenopher yang lembek, plastis, sangat padat, dan bertemperatur tinggi, lempengan-lempengan kerak bumi ini seakan-akan mengapung.

Pada saat yang sama, arus konveksi pada asthenospher membuat lempengan-lempengan itu bergerak dan berinteraksi; ada yang saling menjauh (interaksi divergen), ada yang bertabrakan (interaksi konvergen), dan ada pula yang bersinggungan (transform). Pada interaksi konvergen, terjadi tabrakan antar dua lempeng kerak bumi.

Salah satu lempeng itu menghujam ke bawah, sementara lempeng lainnya terlipat atau menggumpal ke atas, membentuk tonjolan berupa rangkaian pegunungan (mountain range). Bila yang bertabrakan adalah dua lempeng benua (continental crust) maka hujaman salah satu lempengnya akan lebih dalam, karena ketebalan lempeng benua yang cukup besar.

Akibat hujaman itu, setiap gunung memiliki bagian yang menghujam ke bawah, yang kedalamannya lebih panjang dibanding ketinggiannya di permukaan bumi. Lempeng yang menghujam ke bawah itu laksana pasak-pasak tenda yang dipancangkan ke perut bumi, sehingga lempeng-lempeng kerak bumi yang mengapung di atas asthenospher, menjadi sangat kokoh.

Fenomena bertabraknya dua lempeng benua, ternyata dapat kita saksikan pada pegunungan Himalaya. Para pakar menjelaskan, pegunungan Himalaya terbentuk akibat gerakan lempeng anak benua India yang bertumbuk lempeng benua Asia. Ini semua dikehendaki Allah agar daratan-daratan di permukaan bumi bisa dihuni manusia.

Peredam Goncangan Bumi

Selain sebagai pilar (pasak), gunung juga berperan meredam guncangan akibat rotasi dan gerak presisi sumbu bumi. Sebagaimana dijelaskan para ilmuwan, bentuk bumi tidak bulat, melainkan bulat yang agak lonjong: menggelembung di sepanjang garis khatulistiwa dan memipih di bagian kutubnya. Bentuk ini disebabkan gerakan rotasi bumi pada sumbunya.

Bentuk bumi yang lonjong ini, mengakibatkan gerakan rotasi bumi goyah/miring (seperti putaran gasing). Gerak ini dikenal dengan kitaran presisi (precission cycle). Pada saat yang sama, kekuatan gravitasi matahari, di satu sisi, dan gravitasi bulan, di sisi lain, (yang besar kecilnya tergantung pada posisi bumi terhadap keduanya), menyebabkan gerak rotasi bumi semakin limbung dan menimbulkan banyak guncangan.

Berkat adanya gunung (dengan akarnya yang menghujam ke perut bumi sepuluh hingga lima belas kali lipat lebih panjang dibanding ketinggian puncaknya), guncangan-guncangan itu dapat diredam sehingga rotasi bumi berlangsung relatif lebih stabil. Peran gunung di sini laksana bola-bola timah (conveyor belt) yang ditujukan untuk meredam guncangan roda mobil saat berputar.

Inilah sisi mukjizat saintifik yang terdapat dalam sabda Kanjeng Nabi: “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu berguncang. Maka, Allah memancangnya dengan gunung-gunung”. Sabda sekaligus mukjizat ilmiah ini, membuktikan Rasulullah benar-benar terhubung wahyu dan mendapat arahan langsung dari Allah, pencipta alam semesta.

Laboratorium Pandan

Andai kami tak melakukan pengamatan di Gunung Pandan, mungkin sabda Nabi itu hanya menjadi hapalan di dalam kepala. Andai kami tak berproses dalam pembelajaran riset Pandan Foundation, mungkin sisi pembuktian ilmiah dari Hadits Nabi di atas juga tak akan pernah saya pahami secara logis.

Gunung Pandan memang bukan gunung tinggi favorit para pendaki. Tapi justru karena itu, ia punya posisi istimewa bagi para pembelajar dan pembaca semiotika. Andai ia dipenuhi para pendaki, mungkin yang ada sekadar latah-tren-pendakian. Sementara kaidah esensial sepenting itu, justru akan terabaikan.

Kami meyakini, Gunung Pandan adalah laboratorium purba bagi mereka yang mencintai proses belajar dan membaca. Selain menjadi satu-satunya gunung berapi di barisan Pegunungan Kendeng, Gunung Pandan juga berposisi penting sebagai pemegang puncak tertingginya. Spirit pembelajaran dan pembacaan itulah, yang menginspirasi nama Pandan Foundation sebagai lembaga riset dan pusat semai keilmuan lokal.

Tags: Dekolonialisasi Pengetahuangunung pandanMakin Tahu IndonesiaPandan Foundation
Previous Post

Angkringan Tanpa Nama, Menikmati Nasi Bakar Khas Jogja di Samping Pasar Desa

Next Post

Ragam Istilah Ijtihad dalam Disiplin Ilmu Ushul Fiqh (2)

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)
JURNAKOLOGI

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)

18/07/2025
Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng
JURNAKOLOGI

Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng

05/06/2025
Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati
JURNAKOLOGI

Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati

19/03/2025

Anyar Nabs

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

17/05/2026
Kecil Itu Indah

Kecil Itu Indah

16/05/2026
Anak Macan Wall Street

Anak Macan Wall Street

15/05/2026
Bebersih Data Warga, Pemkab Bojonegoro Minta ASN Cek ke Lapangan

Bebersih Data Warga, Pemkab Bojonegoro Minta ASN Cek ke Lapangan

14/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: