Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Hari Kopi Internasional: Melihat Dunia dari Secangkir Kopi yang Kental

Aska Pradipta by Aska Pradipta
01/10/2026
in Peristiwa
Hari Kopi Internasional: Melihat Dunia dari Secangkir Kopi yang Kental

Hari Kopi Internasional 2026 (unsplash)

Pada 2026 ini, International Coffee Organization (ICO) mengusung Coffee is Part of the Solution sebagai tema kampanye global Hari Kopi Internasional. Menjadikan kopi sebagai wasilah solusi. 

Hitam. Hangat. Harum. Kental. Begitulah kopi datang ke hadapan kita. Dan kita menyeruputnya sambil membaca kabar. Sambil bekerja. Sambil menunggu seseorang. Atau sekadar menunggu hari menjadi sedikit lebih ramah. Namun, kopi tidak pernah sesederhana secangkir minuman.

Di balik rasa yang kental, ada cerita yang tak kalah kental. Ada tanah. Ada hujan. Ada tangan petani. Ada pengetahuan yang diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya. Ada perjalanan panjang dari kebun, pengolahan, perdagangan, sangrai, hingga kedai.

Ada banyak manusia yang bekerja sebelum satu cangkir kopi sampai ke meja kita. Ada yang menanam. Ada yang memetik. Ada yang menjemur. Ada yang mengolah. Ada yang menyangrai. Ada yang menyeduh. Semua bertemu dalam satu cangkir. Itulah yang hendak diingatkan oleh Hari Kopi Internasional.

Gagasan untuk memiliki satu hari bersama bagi kopi dunia bermula dari International Coffee Organization (ICO). Pada Maret 2014, negara-negara anggota ICO menyepakati 1 Oktober sebagai tanggal bersama untuk memperingati kopi.

Perayaan internasional pertama kemudian berlangsung pada 1 Oktober 2015, bertepatan dengan Expo Milan dan Global Coffee Forum. Tanggal itu bukan sekadar memilih hari untuk minum kopi. Namun upaya menyatukan perhatian. Sebab kopi adalah komoditas yang menghubungkan begitu banyak tempat. Dari kebun kecil di pegunungan hingga pasar dunia.

Dari tangan petani hingga tangan barista. Ada rantai yang panjang di sana. Dan rantai itu begitu kental dengan kehidupan manusia. Namun ada sesuatu yang sering luput. Kita mengenal kopinya. Namun tak selalu mengenal manusia-manusia di baliknya.

Padahal, menurut Food and Agriculture Organization (FAO), atau Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, kopi menopang jutaan penghidupan di berbagai negara penghasil. Di balik rantai kopi terdapat petani hingga konsumen. Maka Hari Kopi sesungguhnya bukan hanya perayaan terhadap rasa. Ia adalah perayaan terhadap rantai kehidupan. Rantai yang panjang. Dan kental.

Pada 2026, makna itu menjadi lebih kuat. Pada 10 Maret 2026, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional melalui Resolusi 80/248. Untuk pertama kalinya, peringatan yang sebelumnya digerakkan komunitas kopi dunia memperoleh pengakuan PBB.

Ada pesan yang ingin dibawa. Kopi harus menjadi bagian dari masa depan yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan. Sebab persoalan kopi bukan hanya soal rasa. Ada perubahan iklim. Ada harga. Ada kesejahteraan petani. Ada keberlanjutan tanah dan hutan. Dan semua persoalan itu bertemu.

Ada pertanyaan sederhana yang sering kita lupakan: siapa yang paling banyak bekerja untuk secangkir kopi, dan siapa yang paling banyak menikmati nilainya?

Pertanyaan itu membuat kopi berhenti menjadi sekadar minuman. Ia menjadi cermin. Tentang bagaimana dunia membagi nilai. Tentang bagaimana manusia memperlakukan tanah. Bagaimana komoditas dapat menghubungkan desa yang jauh dengan kota yang tidak pernah mengenal nama desanya. Di sana, cerita kopi menjadi semakin kental. Bukan hanya tentang rasa. Namun tentang kuasa, kerja, pengetahuan, alam, dan kehidupan.

Tema kampanye ICO pada 2026 adalah “Coffee is Part of the Solution.” Kopi dipandang bukan hanya sebagai komoditas yang menghadapi masalah, tetapi juga sebagai bagian dari kemungkinan penyelesaiannya. ICO menyoroti berbagai inisiatif yang mempertemukan petani, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, peneliti, dan masyarakat sipil.

Tujuannya membangun sektor kopi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Di sini kopi menjadi menarik. Sebab sebuah tanaman kecil dapat berbicara tentang persoalan yang sangat besar. Tentang iklim. Tentang ekonomi. Tentang desa. Tentang pengetahuan. Tentang masa depan. Bahkan tentang kebudayaan.

Sebab di banyak tempat, kopi bukan hanya tanaman. Ia adalah kebiasaan. Ia adalah ruang perjumpaan. Ia adalah cara orang berbincang. Kadang-kadang, ia bahkan menjadi cara sebuah masyarakat mengingat dirinya sendiri.

Sementara pada 1 Oktober 2026, FAO gelar peringatan Hari Kopi di Roma bertema “Celebrating Coffee, Honouring the People Behind Every Cup”. Di Jenewa, FAO bersama sejumlah negara juga menggelar perayaan yang menempatkan kopi sebagai bagian dari kehidupan ekonomi, sosial, lingkungan, budaya, dan pembangunan pedesaan.

Kampanye global 2026 juga mendorong para pelaku kopi untuk membagikan cerita, inisiatif, dan praktik yang menunjukkan bagaimana kopi dapat menjadi bagian dari solusi. Barangkali setelah semua perayaan selesai, kopi akan kembali menjadi kopi. Pagi datang. Air mendidih. Aroma memenuhi ruangan. Dan seseorang akan kembali menyeruputnya perlahan.

Namun, semoga setelah Hari Kopi Internasional, kita melihat sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan hanya warna hitamnya. Bukan hanya rasa pahitnya. Bukan hanya kekentalannya. Namun juga hujan yang membesarkannya. Petani yang merawatnya. Dan perjalanan panjang yang membuatnya sampai ke tangan kita.

Tags: Hari Kopi Internasional 2026International Coffee DayMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Bank Sampah Sudu: Ubah Limbah jadi Modal untuk Bayar Pajak

Next Post

Belajar dari Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro Rancang Pendidikan Khas

BERITA MENARIK LAINNYA

Belajar dari Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro Rancang Pendidikan Khas
Peristiwa

Belajar dari Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro Rancang Pendidikan Khas

01/10/2026
Bank Sampah Sudu: Ubah Limbah jadi Modal untuk Bayar Pajak
Peristiwa

Bank Sampah Sudu: Ubah Limbah jadi Modal untuk Bayar Pajak

30/09/2026
Peresmian TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk: Solusi Sampah dan Ekonomi Sirkular Partisipatif di Bojonegoro
Peristiwa

Peresmian TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk: Solusi Sampah dan Ekonomi Sirkular Partisipatif di Bojonegoro

24/09/2026

Anyar Nabs

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

03/10/2026
5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia

5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia

03/10/2026
Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari

Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari

02/10/2026
Belajar dari Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro Rancang Pendidikan Khas

Belajar dari Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro Rancang Pendidikan Khas

01/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: