Ada satu hal yang diam-diam semakin sulit dilakukan manusia dewasa: bermimpi tanpa merasa harus segera berhasil.
Setiap 25 September, diperingati World Dream Day atau Hari Mimpi Sedunia. Ini bukan hari besar resmi PBB, melainkan sebuah gerakan global yang didirikan pada 2012 oleh Ozioma Egwuonwu, ketika ia mengajar di Columbia University.
Gagasan itu lahir dari kegelisahan sederhana: manusia memiliki ide, cita-cita, dan bayangan tentang masa depan, tetapi sering ada jarak antara apa yang diimpikan dan kemampuan untuk mewujudkannya. World Dream Day dibuat untuk memperkecil jarak itu.
Karena itu, peringatan ini sejak awal bukan sekadar ajakan untuk “bermimpi besar”. Tujuannya adalah menghormati mimpi, menyatakannya, lalu menggerakkannya menjadi tindakan. Orang diajak meluangkan waktu untuk memikirkan satu mimpi, menuliskannya, membagikannya, kemudian menentukan langkah yang bisa dilakukan.
Dalam bahasa gerakan ini: dream, declare, share, activate. Kata dream di sini pun bukan terutama mimpi ketika tidur. Ia adalah visi tentang kehidupan yang belum terjadi. Ada alasan mengapa gagasan seperti ini terasa semakin relevan hari ini.
Kita hidup dalam zaman ketika manusia sangat mudah mengetahui kehidupan orang lain. Melalui layar, kita melihat seseorang lulus lebih cepat, mendapatkan pekerjaan impian, membangun bisnis, menikah, membeli rumah, bepergian, atau menjadi terkenal.
Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari. Lalu, tanpa sadar, mengukur hidup sendiri dengan penggaris yang sama. Mimpi pun berubah menjadi target. Harus sukses sebelum usia tertentu. Harus punya penghasilan sekian. Harus punya career path. Harus produktif. Harus punya personal branding. Bahkan istirahat kadang terasa seperti kegagalan.
Padahal mimpi tidak selalu harus menjadi proyek. Ada yang bermimpi punya rumah besar. Ada yang hanya ingin hidup tenang. Ada yang ingin menulis buku. Ada yang ingin pulang ke kampung. Ada yang ingin punya lebih banyak waktu bersama orang tua.
Tidak semua mimpi harus terlihat keren di Instagram. Itulah yang membuat World Dream Day lebih menarik daripada sekadar peringatan simbolik. Gerakan ini menempatkan mimpi bukan hanya sebagai ambisi personal, tetapi juga sebagai kemungkinan kolektif.
Kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi menjadi tiga pilar yang mereka tekankan. Mimpi seseorang diharapkan tidak berhenti pada dirinya, tetapi dapat membuka kemungkinan bagi keluarga, komunitas, bahkan dunia di sekitarnya. Sebab sebelum sebuah kota dibangun, ia pernah menjadi bayangan.
Sebelum sebuah buku selesai ditulis, ia pernah menjadi kalimat kecil dalam kepala seseorang. Sebelum perubahan terjadi, seseorang terlebih dahulu berani membayangkan bahwa keadaan bisa berbeda. Maka mungkin Hari Mimpi Sedunia bukan terutama tentang bermimpi lebih besar. Ia tentang berani mengakui bahwa kita masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Di tengah dunia yang terlalu sibuk menunjukkan apa yang sudah dicapai, 25 September mengajak kita berhenti sebentar dan bertanya: Apa yang sebenarnya ingin kita wujudkan? Bukan apa yang sedang tren. Bukan apa yang membuat kita terlihat berhasil. Bukan apa yang membuat orang lain kagum.
Namun sesuatu yang, ketika diwujudkan, membuat hidup terasa lebih layak dijalani. Sebab setiap masa depan pada mulanya adalah sesuatu yang belum ada. Dan sebelum menjadi kenyataan, ia selalu membutuhkan satu orang yang cukup berani untuk mengatakan: “Aku membayangkan dunia yang berbeda.”








