Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

Redaksi by Redaksi
29/09/2026
in JURNAKULTURA
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

Penemuan kapak purba di Tinggang Bojonegoro (JnB)

Warga Tinggang Lor, Ngraho, Bojonegoro, menemukan kapak purba di kawasan hutan tepi sungai Bengawan. Pendata cagar budaya menyerahkannya ke Museum Rajekwesi agar tak berpindah tangan ke luar daerah.

Kanal Bengawan kadang seperti orang tua yang menyimpan barang lama di laci paling dalam. Sesekali lacinya terbuka, dan keluarlah sesuatu dari ribuan tahun lalu. Kali ini yang keluar adalah kapak batu. Sutrisno, warga Desa Tinggang Lor, Ngraho, Bojonegoro, menemukan batu purba saat melintas di teras sungai. Bentuknya memanjang, dengan tepi yang tampak pernah diasah tangan manusia.

Kabar itu sampai ke rekan-rekan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) Sejarah di MAN 3 Ngraho, lalu diteruskan kepada Achmad Satria, guru sejarah yang juga pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Wilayah Kerja Bakorwil II Provinsi Jawa Timur.

“Jadi memang ditemukan warga di kawasan Tinggang Bojonegoro,” ucap Ahmad Satria pada Jurnaba, (29/9/2026).

Satria bercerita, pada Sabtu (26/9/2026), dia bertandang turun ke Tinggang Bojonegoro. Hasil pendataan, dia mencatat terdapat tiga kapak persegi, atau beliung persegi, dalam istilah arkeologi. Benda-benda itu kemudian di laporkan dan di data. Kini, masing-masing memiliki dokumen lengkap dengan foto berskala dan titik koordinat temuan. Ada tiga kapak persegi purba yang ditemukan.

Kapak Purba 1 dari Tinggang

Di antaranya; kapak persegi 1 yang berukuran 12,3 × 5,3 cm dengan berat setengah kilogram. Bahannya batuan andesit atau basaltik. Ujung tajamnya kini tumpul, entah karena lama dipakai atau diamplas arus sungai. Badannya masih memperlihatkan guratan asahan kasar.

Kapak purba 2 dari Tinggang Bojonegoro

Kapak Persegi 2 lebih ramping, 10,5 × 3,9 cm, dan masih utuh. Permukaannya berbalut patina kuning kecokelatan yang menempel di pori-pori batu. Beratnya sekitar dua ons, dari andesit padat yang dipangkas, dirimpis, lalu diasah manual. Guratan kasar di punggungnya belum sempat dihaluskan, seakan pembuatnya berhenti sebentar dan tak pernah kembali. Tajamannya landai sebelah, dulu dipasang melintang pada tangkai kayu untuk memahat papan atau perahu lesung.

Kapak purba 3 dari Tinggang Bojonegoro

Sementara Kapak Persegi 3 paling unik. Bahannya bukan batu biasa, melainkan fosil kayu yang telah berubah menjadi silika. Ukurannya 11,2 × 4,2 cm. Pendata menemukan indikasi pangkasan dan pengasahan di sejumlah bagian, tanda sentuhan tangan manusia pada kayu yang membatu.

“Ketiganya diperkirakan berasal dari Masa Bercocok Tanam, sekitar 2.000–1.500 SM, atau 3.500 hingga 4.000 tahun lalu. Ini masa ketika manusia berhenti mengejar buruan dan mulai menunggu panen,” ucap Satria.

Temuan kapak purba dari Tinggang ini punya nilai pengetahuan dalam bidang kepurbakalaan. Sutrisno, warga sekitar, memercayakan temuan itu kepada Satria. Selanjutnya, Satria menyerahkan temuan itu pada Museum Rajekwesi untuk dirawat dan menjadi bagian dari pengetahuan publik tentang masa lalu Bojonegoro. Berita Acara serah terima dilaksanakan pada (27/9/2026), bersama penanggung jawab museum yang juga staf Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro.

Alasan penyerahan itu sederhana, namun tidak remeh: temuan ini menambah pengetahuan sekaligus kekayaan tinggalan budaya Bojonegoro. Menjaganya di daerah bukan sekadar soal menyimpan sebuah benda, melainkan memastikan jejak masa lalu tetap berada di tanah tempat ia ditemukan, dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

“Motivasinya agar generasi penerus memahami, Bojonegoro bagian penting dari sejarah perkembangan hidup dari masa prasejarah, nasional, maupun dunia,” imbuh Satria.

Kawasan hutan di tepi sungai adalah situs terbuka rentan terhadap abrasi, aktivitas warga, dan tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Batu yang tak dicatat bisa hilang tanpa sempat bercerita. Ketiga objek kini berstatus belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Dokumen pendaftaran mengusulkan penetapannya pada peringkat kabupaten.

Tinggang, Kawasan Purbakala

Tinggang Bojonegoro sejak lama identik purbakala. Bagian dari savana Gunung Jali ini, dipenuhi jejak peradaban kuno dan kerap disebut sebagai tanah para brahmana. Dalam tradisi masyarakat, kawasan ini juga dikenal dengan keberadaan Balung Buto. Sebab, kerap menyimpan fosil berukuran raksasa; fragmen tulang yang muncul dari tanah seperti sisa tubuh dari masa yang jauh sebelum ingatan manusia.

Catatan tentang itu ternyata tidak hanya hidup dalam cerita masyarakat. Lebih dari seabad lalu, Reksokusuma (1916) telah mencatat Tinggang sebagai kawasan purba. Catatan itu memperlihatkan bahwa perhatian terhadap tinggalan masa lampau di kawasan ini bukan perkara baru. Jauh sebelum istilah arkeologi, paleoantropologi, atau geosite menjadi bahasa penelitian modern, masyarakat telah berhadapan langsung dengan benda-benda tua yang keluar dari tanah mereka.

Di Tinggang, tanah seolah menjadi arsip yang tidak pernah selesai dibaca. Setiap lapisannya menyimpan waktu yang berbeda: fosil hewan purba, jejak lingkungan lama, hingga bermacam tinggalan aktivitas manusia. Karena itu, temuan di kawasan ini tidak semata-mata penting karena usianya. Ia penting karena membantu menyusun kembali cerita tentang bentang alam yang pernah dihuni, dilalui, dan dimanfaatkan manusia pada masa yang sangat jauh.

Di antara temuan itu, kapak dari Tinggang Lor membawa pertanyaan yang lebih dekat pada manusia. Benda itu bukan sekadar batu yang dibentuk. Ia adalah jejak tangan. Ada manusia yang memilih batu, mengubah bentuknya, lalu memberinya fungsi. Dari sebongkah material alam, lahirlah sebuah alat. Di titik itulah benda purba mulai berbicara tentang kecakapan, kebutuhan, dan cara manusia berhadapan dengan lingkungannya.

Sebelumnya, penemuan fosil purba berupa rahang bawah (mandibula) hominin di Jetak, Bojonegoro, telah diverifikasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur dan Shofwan Noerwidi dari BRIN Arkeometri, lembaga yang berfokus pada penelitian manusia purba. Rahang itu bercerita tentang siapa yang pernah hidup di sini. Sementara kapak dari Tinggang Lor bercerita tentang apa yang mereka kerjakan dengan tangannya.

 

Tags: Gunung Jali BojonegoroKapak Purba 4000 TahunKapak Purba TinggangMakin Tahu IndonesiaTinggang Bojonegoro
Previous Post

Daun Kelor Padangan: Dari Penolak Bala hingga Cokelat dan Mie Instan

Next Post

Bank Sampah Sudu: Ubah Limbah jadi Modal untuk Bayar Pajak

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara
JURNAKULTURA

Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

21/09/2026

Anyar Nabs

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

13/10/2026
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

11/10/2026
Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

10/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: