Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kubah Jiwa: Mario Rossi dan Syekh Abul Abbas Al Mursyi

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
17/05/2025
in Cecurhatan
Kubah Jiwa: Mario Rossi dan Syekh Abul Abbas Al Mursyi

Masjid Abul Abbas Mursi, karya Mario Rossi.

“Alhamdulillah, akhirnya, satu demi satu naskah karya-karya yang lahir lewat “tarian jemari” ini terbit!” Demikian gumam saya kemarin.

Ya, bergumam demikian, sambil membungkus Kalilah dan Dimnah yang segera berangkat menuju beberapa kota. Di sisi lain, sejatinya, masih ada dua naskah calon buku lagi yang “belum lahir”. Dengan kata lain, dua naskah itu masih ada di dua penerbit: satu penerbit di Jakarta dan satunya sebuah penerbit di Yogyakarta.

Nah, salah satu naskah (yang ada di tangan di sebuah penerbit di Yogyakarta) itu adalah sebuah novel menarik karya seorang penulis populer asal Mesir: Prof. Dr. Reem Bassiouny, seorang guru besar di American University in Cairo. Lewat novel ini, Reem Bassiouny merajut kisah dua jiwa yang terpisah zaman, namun disatukan oleh keabadian. Novel yang satu ini, sejatinya, bukan sekadar novel sejarah.

Namun, novel ini merupakan lukisan epik tentang pertemuan dua dunia: seni yang menggapai langit dan spiritualitas yang menyelam ke dasar jiwa. Dengan bahasa yang liris bagaikan syair sufi dan ketelitian arsitek, Bassiouny membawa pembaca melintasi abad, dari abad ke-13 Andalusia yang berdarah hingga Alexandria abad ke-20 yang sarat warna.

Sejak halaman pertama novel ini, kita disergap tragedi: kisah seorang bocah 14 tahun asal Murcia, Andalusia yang kehilangan segalanya saat kapal yang membawanya mengungsi dari Andalusia pecah di tengah Laut Mediterania. Ayah dan ibunya tenggelam. Sedangkan bocah bernama Abu al-Abbas al-Mursi itu diselamatkan oleh Abu al-Hasan al-Syadzili-seorang Tuan Guru sufi yang kelak menjadi mertuanya-di pantai Tunisia.

Di bawah bimbingan Tuan Guru sufi kondang itu, Abu al-Abbas tumbuh menjadi “pejalan malam” yang kakinya menapak bumi Mesir, namun jiwanya melayang di antara bintang-bintang. Perjalanannya dari Tunisia ke Kairo, lalu ke Makkah melalui Gurun Aidzab yang ganas, adalah metafora penyucian diri: setiap langkahnya adalah zikir dan setiap teguk dahaganya adalah kerinduan akan Yang Mahakuasa.

Bassiouny menghidupkan tokoh Abu al-Abbas al-Mursi ini bukan sebagai figur tanpa noda, namun sebagai manusia yang bergulat dengan keraguan. Saat Abu al-Hasan al-Syadzili berpulang di Humaitshara, Mesir Selatan, Abu al-Abbas menggenggam warisan Tarikat Syadziliyah sambil bertanya, “Apakah cahaya ini cukup untuk memendari jalan yang kian gelap?”

Pertanyaan itu mengalir hingga terjadi pertemuan antara al-Mursi dengan al-Bushiri, penulis Qasidah al-Burdah, dan Ibn Athaillah al-Sakandari. Terjadilah dialog-dialog di antara mereka: dialog-dialog yang membara bagaikan percikan api di kegelapan, memendari hakikat cinta dan kepasrahan.

Di sisi lain, ada Mario Rossi: seorang arsitek Italia yang datang ke Mesir bagaikan angin segar. Lahir di Roma tahun 1898, ia adalah siluet kontras: pria Eropa yang jatuh cinta pada lengkung kubah masjid dan seorang materialis yang terpesona oleh abstraksi spiritual. Atas undangan Raja Fouad, ia membangun masjid, istana, dan monumen yang menjadi “puisi batu” bagi Negeri Piramida. Namun, di balik kesuksesannya, Rossi adalah jiwa yang gelisah, “Apakah keindahan yang kubangun cukup untuk menyentuh langit?”

Jawaban pertanyaan yang demikian datang saat Mario Rossi memeluk Islam dan merancang Masjid Abu al-Abbas al-Mursi di Alexandria. Di sini, Bassiouny memainkan ironi halus: arsitek dari negeri Vatikan justru menjadi penjaga warisan seorang sufi kondang asal Murcia, Andalusia. Rossi merancang setiap pilar masjid itu sebagai perpaduan geometri Renaisans dan kaligrafi Arab-simbol dialog abadi antara Timur dan Barat.

Bassiouny tidak menyatukan kedua tokoh ini melalui sihir waktu, namun melalui benang merah takdir. Saat Rossi menggambar sketsa kubah masjid tersebut, ia seperti mendengar bisikan Abu al-Abbas, “Bangunlah rumah untuk-Nya. Namun, jangan lupa: rumah terindah ada di hati.” Di sini, arsitektur bukan sekadar seni fisik. Namun, arsitektur adalah medium tafsir atas keilahian-sebagaimana tasbihnya Abu al-Abbas adalah irama yang menyatukan bumi dan langit .

Dapat dikatakan, novel “Arsitek dan Sufi, Mario dan Abu al-Abbas” ini adalah sebuah perpaduan antara sejarah, filsafat, dan romantisme. Novel ini mengajak kita untuk merenung tentang makna kehidupan, cinta, dan keindahan. Melalui kisah dua tokoh utama yang begitu memikat tersebut, kita diajak untuk menjelajahi kedalaman jiwa manusia dan keagungan Sang Pencipta. Meski mereka hidup pada zaman yang berbeda dan berasal dari kultur yang berbeda, Reem Bassiouny berhasil menceritakan kehidupan mereka dalam kerangka yang sama tanpa cela.

Lahir pada 6 Maret 1973, di Alexandria, Mesir, Reem Bassiouny adalah seorang profesor sosiolinguistik dan Kepala Departemen Linguistik Terapan di American University in Cairo. Peraih gelar PhD dari Universitas Oxford, Inggris pada tahun 2002 ini telah menerbitkan banyak karya fiksi, dengan gaya bahasa yang khas, perpaduan antara lirisme dan realisme, membuat karya-karyanya begitu memikat. Ia mampu menciptakan gambaran yang hidup tentang kehidupan sehari-hari di Mesir, dengan segala suka dukanya.

Selain itu, Bassiouny juga piawai dalam membangun plot yang menegangkan dan penuh intrik. Sehingga, pembaca tak akan mudah berhenti membaca. Karya-karya fiksinya, antara lain, adalah Râihah al-Bahr, Bâi‘ al-Fustâq, Duktûrah Hanâ’, al-Hub ‘alâ al-Tharîqah al-‘Arabiyyah, Asyyâ’ Râ‘iah, Mursyid Siyâhî, Aulâd al-Nâs, dan al-Qathâi‘.

Karya-karya Reem Bassiouny telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Termasuk bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman. Hal ini menunjukkan bahwa karya-karyanya memiliki nilai universal yang mampu menembus batas-batas geografis dan budaya. Selain telah menerbitkan banyak karya fiksi, ia juga telah memenangkan Penghargaan Sastra Sawiris Foundation untuk Penulis Muda pada tahun 2009 untuk novelnya Dr. Hanâ’.

Terjemahan bahasa Inggris dari novelnya The Pistachio Seller diterbitkan oleh Syracuse University Press pada tahun 2009, memenangkan Penghargaan Terjemahan Sastra Arab dari King Fahd Centre for Middle East and Islamic Studies. Ia juga menerima Medali Naguib Mahfouz untuk The Mameluke Trilogy; novel terbarunya adalah Al-Halawani: The Trilogy of the Fatimids, yang diterbitkan pada tahun 2022. Ia juga menerima Naguib Mahfouz Award, National Prize for Excellence in Literature.

Bagi penggemar sejarah, novel ini adalah permata: Bassiouny menyelipkan fakta-fakta seperti konflik Mamluk-Ottoman, pandemi yang terjadi pada Abad Pertengahan, hingga teknik arsitektur Fatimiyah. Namun, bagi pencinta sastra, novel ini adalah kisah humanis tentang pencarian identitas: seorang sufi yang kehilangan tanah air tetapi menemukan “negara tanpa batas”, dan seorang arsitek yang menemukan rumah di negeri orang.

Melaui novel ini, Bassiouny-peraih Sheikh Zayed Book Award 2024-kembali membuktikan diri sebagai penenun waktu. Melalui novel ini, ia tidak hanya menghidupkan tokoh sejarah. Namun, ia juga mengajak kita merenung, “Apakah warisan kita yang sesungguhnya?”

Untuk Rossi, jawabannya ada di masjid yang bertahan melintasi zaman; untuk Abu al-Abbas, dalam zikir yang masih terdengar di lorong-lorong Alexandria. Dan untuk kita, pembaca, dalam pertanyaan yang menggema, “Sudahkah kita membangun “kubah” jiwa yang cukup luas untuk memeluk semesta?”

Semoga novel menarik ini segera terbit, amin.

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

MI Al Hidayah Pacul Sabet 3 Emas dalam Porseni MI Bojonegoro 2025

Next Post

MWC NU Balen Gelar Bimtek Juleha Sambut Idul Adha 1446 H

BERITA MENARIK LAINNYA

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro
Cecurhatan

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)
Cecurhatan

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah
Cecurhatan

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026

Anyar Nabs

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: