Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Masa Depan yang Sesungguhnya

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
10/01/2026
in Cecurhatan
Masa Depan yang Sesungguhnya

Unsplash

Mungkin masih jelas dalam memori kita bahwa dulu tatkala usia kita masih kanak-kanak atau remaja, kerap kali mendengar pesan dari guru dan orang tua: “Nak, sekolah/belajar yang rajin biar masa depannya cerah.”

Puluhan tahun kemudian, saat usia saya sudah menginjak kepala tiga, pesan tersebut masih terngiang-ngiang dalam benak saya. Mengusik rasa penasaran saya bagaimana sebenarnya konsep masa depan yang gemilang itu.

Apakah ketika berhasil memperoleh pekerjaan mapan dengan gaji dan tunjangan yang cukup menjanjikan kenyamanan hidup. Seperti halnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di instansi pemerintah ataupun swasta atau menjadi pengusaha yang asetnya di mana-mana dan omsetnya mencapai angka ratusan hingga milyaran rupiah? Apakah masa depan cerah itu berarti memiliki kedudukan sosial di tengah masyarakat dan sekaligus bergelimang harta?

Setidaknya, begitulah pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi menyelimuti pikiran saya terkait konsep masa depan itu sendiri. Apakah ketika harta dan tahta berada di genggaman berarti kita telah sukses dan memiliki masa depan? Entahlah.

Semisal uang adalah ukuran masa depan manusia-manusia modern, lantas bagaimana nasib mereka yang kebetulan isi dompetnya tipis dan sama sekali tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi? Apakah mereka otomatis termasuk orang-orang yang gagal atau bermasa depan gelap? Baiklah, pelan-pelan lewat catatan ini, saya akan mencoba menguak dan menelusuri konsep masa depan yang sejati itu seperti apa.

Karena, nyatanya mengenai masa depan cerah, sebagian dari kita terlanjur mendefinisikan sebagai kondisi seseorang yang bukan sekadar memiliki kemerdekaan finansial.

Lebih dari itu, adalah tambahan-tambahan lainnya yang serupa seperti halnya kedudukan, posisi, dan pengaruh di tengah masyarakat. Semakin kaya dan populer seseorang, kita biasanya menganggap mereka telah sukses dan memiliki masa depan yang menjanjikan. Mengenai pemahaman semacam itu, saya sendiri tidak bisa serta merta menyalahkannya.

Tulisan ini hanya mencoba mengajak kita semua melihat dari sisi lainnya mengenai masa depan yang sejati. Sebab, setiap manusia yang hidup di dunia ini lambat laun akan menjumpai ajalnya. Artinya, semua manusia pasti masti. Tidak ada yang abadi.

Dengan begitu, kita bisa sedikit menyadari bahwa apa yang telah kita perjuangkan mati-matian selama hidup ini pasti akan kita tinggalkan. Anak, istri, rumah, mobil, tanah, emas, berlian, dan semua harta yang kita miliki, tidak akan menyertai kita ke alam kubur. Demikian pula dengan status sosial kita di mata manusia, cepat atau lambat akan memudar seiring berjalannya waktu.

Dunia, dalam hal ini adalah segala materi yang kita miliki, akan bernilai manakala diinvestasikan untuk kepentingan jangka panjang, yakni sebagai bekal di alam akhirat. Kadang kita terjebak dan terpasung dalam ambisi yang membabibuta hingga lupa bahwa sejatinya kita adalah calon mayat.Dari situlah kita bisa mengetahui bahwa masa depan yang sebenarnya adalah setelah kematian.

Ironinya, sebagian dari kita terjebak dalam pengertian yang sepenggal-sepenggal alias tidak utuh mengenai masa depan. Mungkin kita mengira hidup hanya sekali dan harus dinikmati sedemikian rupa. Persoalan akhirat, apa kata nanti. Padahal, apa yang kita kerjakan selama hidup di alam dunia, akan diminati pertanggungjawaban kelak di akhirat. Termasuk harta yang kita miliki. Dari mana memperolehnya dan dipergunakan untuk apa harta tersebut.

Semua akan dihisab. Maka dari itu, jangan berbangga-bangga dulu jika saat ini kita hidup dengan penuh kemewahan, kenyamanan, dan kesenangan. Jangan berbangga-bangga dulu jika semua yang kita inginkan bisa dibeli. Karena harta atau kekayaan materi adalah ujian bagi kita. Jika tak pandai dan bijak dalam memanfaatkannya, bisa jadi akan menjadi bumerang bagi kita.

Kembali lagi terkait masa depan, alangkah lebih bijaksananya jika dipahami bukan sebatas ketika telah berhasil di dunia. Meskipun saya tidak sepenuhnya menyalahkan pengertian macam itu. Cuma sangat amat disayangkan ketika pemahamannya hanya sebatas itu. Terlalu sempit dan terbatas.

Sebab, bisa jadi mereka yang sukses di dunia, entah sebagai politisi, penulis, artis, pengusaha, pejabat publik, seniman, dan semacamnya, itu tidak berbanding lurus dengan kesuksesan dan kebahagiaan di akhirat. Hal itu bisa saja terjadi sebab selama proses meniti karir tersebut, lalai akan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Lalai dan bersikap seenaknya dalam menjalani hidup. Padahal. dalam hidup ini, ada rambu-rambu yang memang wajib dipatuhi.

Besar harapan saya agar pemahaman kita mengenai masa depan lebih luas, lengkap, dan utuh tentunya. Dengan begitu, kita mengarungi bahtera hidup selalu berorientasi jangka panjang yakni untuk persiapan menuju alam akhirat. Harapannya, kita senantiasa mendambakan bukan hanya sukses dan bahagia di dunia, tapi juga sukses dan bahagia di akhirat.

Dengan begitu kita termotivasi dan tergerak untuk berlomba-lomba menabung amal kebajikan selama hidup. Apalagi tujuannya kalau bukan sukses dan bahagia di akhirat. Kita pastinya mendambakan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Percayalah dan yakinilah apa apa yang kita tanam hari ini di alam dunia, kelak di alam akhirat kita memananennya. Semua kebaikan tercatat dan terhitung.

Ketahuilah, waktu terus bergerak, jatah hidup kita di alam dunia semakin sedikit. Kemarin telah berlalu, esok masih misteri, jadi optimalkan hari ini. Jangan biarkan setiap embusan nafas lewat begitu saja tanpa ada kebaikan yang dilakukan. Sebab, sekali lagi, masa depan yang sesungguhnya adalah pasca kematian.

Bergegaslah untuk beramal selagi sehat, selagi ada waktu luang, dan selagi masih hidup. Pergunakan segala hal yang kita miliki, baik itu pikiran, tenaga, ilmu, harta, dan semacamnya untuk berjihad di jalan Allah. Jangan terjebak ilusi masa depan yang semu. Sebab, beberapa jam lagi, atau beberapa menit lagi, atau bahkan beberapa detik lagi, kita tidak tahu apa yang bakalan terjadi terhadap hidup kita.

Tags: Cecurhatan JurnabaEsai JurnabaMasa Depan
Previous Post

Fermentasi Keadilan

Next Post

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

BERITA MENARIK LAINNYA

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Fermentasi Keadilan
Cecurhatan

Fermentasi Keadilan

10/01/2026
Hari Terakhir Sang Pembawa Damai: al Hasan bin Ali bin Abi Thalib
Cecurhatan

Hari Terakhir Sang Pembawa Damai: al Hasan bin Ali bin Abi Thalib

08/01/2026

Anyar Nabs

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
Fermentasi Keadilan

Fermentasi Keadilan

10/01/2026
Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

09/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: