Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
11/01/2026
in Cecurhatan
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Grand Syeikh Al Azhar Asy-Syarif

Syeikh Prof. Dr. Ahmed Mohammed Tayyib merupakan ulama penjaga gawang di persimpangan antara Api Tradisi dan Modernitas. 

Hari itu, angin gurun yang membawa debu kuning menyapu pelataran marmer di Al-Azhar Al-Syarif, Kairo, Mesir. Di bawah kubah abad ke-10 yang menjadi saksi peralihan dinasti, revolusi, dan reformasi, seorang ulama sepuh berjubah hitam dan bersorban khas Azhari berjalan dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Dialah Syeikh Prof. Dr. Ahmed Mohammed Ahmed Tayyib, Syaikh Al-Azhar Al-Syarif ke-48, Imam Besar dari institusi keislaman Sunni tertua dan paling bergema di dunia.

Namun, siapa sesungguhnya sosok di balik sorban yang menjadi mahkota otoritas keagamaan jutaan Muslim itu?

Sosok yang satu ini, sejatinya, bukan hanya seorang pemimpin spiritual. Sejatinya, ia adalah seorang profesor filsafat yang pemikir, negarawan yang berhati-hati, dan “penjaga gawang” tradisi Islam yang sedang menghadapi gempuran badai abad ke-21: ekstremisme, sekularisme radikal, dan politik revolusioner. Juga, ia adalah seorang arsitek moderasi yang berjalan di atas tali yang terentang di atas jurang yang dalam.

Menjadi Syaikh Al-Azhar Al-Syarif dalam Bayangan Revolusi

Ahmed Mohammed Ahmed Tayyib lahir pada 6 Januari 1946 di Desa Al-Qurna, Luxor, di tepi barat Sungai Nil. Darah pedesaan yang sederhana dan kaya akan warisan sejarah Mesir kuno mengalir dalam dirinya. Sejak kecil, ia menghafal Al-Quran dan menempuh pendidikan tradisional di kuttâb.

Namun, pikirannya merambah lebih jauh. Ia kemudian masuk Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, Kairo. Selepas itu, ia kemudian meraih gelar master (1969) dan doktor (1977) dalam bidang Filsafat Islam dengan disertasi berjudul “Konsep Penciptaan Menurut Imam Abu Manshur Al-Maturidi dan Filsafat Barat.”

Pilihan studinya ini krusial. Ia bukan produk madrasah eksklusif yang sempit. Ia adalah seorang intelektual yang mengakar kuat pada tradisi kalâm (teologi rasional) Islam klasik, sekaligus terbuka pada dialektika dengan pemikiran Barat. Ia menguasai bahasa Prancis dengan baik, membuka jendela pada pemikiran Descartes, Kant, dan Bergson.

Karier akademiknya mentereng: guru besar, dekan fakultas, lalu Rektor Universitas Al-Azhar Al-Syarif (2003-2010). Di sini, ia mulai mereformasi kurikulum, memasukkan ilmu-ilmu humaniora dan sains modern, sebuah langkah berani untuk membawa menara gading tradisi menyentuh bumi zaman.

Lantas, pada 19 Maret 2010, Presiden Hosni Mubarak menunjuknya sebagai Grand Imam Al-Azhar Al-Syarif. Ia menduduki jabatan itu hanya sepuluh bulan sebelum Revolusi 25 Januari 2011 mengguncang fondasi Mesir. Inilah ujian pertamanya yang berdarah.

Ahmed Tayyib, dengan karakter yang hati-hati dan konsensus, harus memimpin Al-Azhar Al-Syarif melintasi gejolak politik yang membelah negara antara kekuatan lama, Ikhwanul Muslimin, dan kaum liberal-sekuler. Al-Azhar, di bawahnya, berusaha berdiri sebagai penjaga moderasi dan stabilitas nasional, meski kerap dituduh berpihak kepada negara.

Keputusannya kritis: pada 2013, setelah meledak demonstrasi besar menentang Presiden Mohammed Morsi dari Ikhwanul Muslimin, Ahmed Tayyib bersama dengan para ulama Al-Azhar Al-Syarif mendukung intervensi militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah el-Sisi. Ini adalah pilihan yang membuatnya dipuji sebagai penyelamat negara dari “kekacauan” oleh sebagian pihak, dan dicap sebagai “ulama istana” oleh pihak lain. Dalam kondisi yang genting tersebut, ia memilih sisi yang ia yakini akan menyelamatkan negara dan institusinya dari ancaman polarisasi ekstrem.

Membangun Benteng Melawan Ekstremisme

Di sisi lain, di panggung global, Syeikh Prof. Dr. Ahmed Tayyib mengukuhkan diri sebagai suara Islam wasathiyyah (jalan tengah). Ia meluncurkan “Deklarasi Al-Azhar tentang Hak-Hak dan Kebebasan” (2012) dan menjadi arsitek utama “Dokumen Persaudaraan Insani” yang ditandatangani bersama Paus Fransiskus di Abu Dhabi (2019), sebuah dokumen bersejarah yang menyerukan perdamaian antarumat beragama dan menolak penggunaan agama untuk kekerasan.

Lewat jejak langkahnya tersebut, di satu sisi ia dengan tegas mengutuk terorisme, membuka dialog dengan Gereja Katolik, dan mengkritik keras pandangan literalis kelompok seperti ISIS. Di sisi lain, sebagai penjaga ortodoksi Sunni (terutama Aliran Asy‘ariyah-Maturidiyah), ia bersikap konservatif dalam masalah-masalah seperti hukum waris, kebebasan beragama (murtad), dan peran perempuan. Reformasinya bersifat evolusioner, bukan revolusioner. Bagi kaum liberal, ia terlalu lamban. Bagi kaum Salafi, ia sudah terlalu jauh dari rel menurut mereka.

Namun, di sisi lain, ada dimensi lain yang kerap luput dari perhatian: Ahmed Tayyib adalah seorang filsuf yang aktif berkontemplasi. Buku-bukunya, seperti Juhûd Al-Imâm Muhammad ‘Abduh fî Muqâwamah Al-Ilhâd, Al-Jadal bain Al-Tayyârat Al-Dîniyyah wa al-Falsafiyyah fî Îrân, Madkhal li Dirâsah Al-Manthiq Al-Qadîm, Buhûts fi ‘Ilm Al-Kalâm wa Al-Falsafah, Al-Imâm Al-Thahâwî wa Al-‘Aqîdah Al-Thahâwiyyah, Al-Qur’ân wa Al-Nabî fî Kitâbât Al-Mustasyriq Al-Almânî Rudy Paret, dan Qadhâya îi ‘Ilm Al-Kalâm Al-Jadîd menunjukkan kedalaman analisisnya.

Ia mengkritik keras “pembekuan pemikiran” dalam tradisi Islam dan menyerukan “revolusi metodologis” (tsawrah manhajiyyah) dalam membaca teks agama. Seruan ini ia praktikkan dengan mendirikan Al-Azhar International Academy for Training Imams dan Al-Azhar Observatorium for Combating Extremism, yang menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis untuk melawan radikalisasi.

Namun, pertanyaannya: sejauh mana wacana filosofisnya yang progresif dapat menerobos tembok tebal birokrasi dan tradisionalisme di tubuh Al-Azhar Al-Syarif sendiri? Investigasi menunjukkan bahwa meski memiliki wawasan luas, Tayyib harus bernegosiasi setiap hari dengan arus konservatif di dalam institusinya sendiri. Kekuasaannya besar, namun tidak mutlak.

Kini, di usianya yang senja, Syaikh Ahmed Tayyib menghadapi tantangan yang mungkin lebih besar dari sebelumnya. Di dalam negeri, ia harus menjaga independensi Al-Azhar Al-Syarif dari cengkeraman politik negara yang semakin kuat, sambil tetap menjadi mitra pemerintah.

Di Dunia Islam, ia harus mempertahankan otoritas Al-Azhar Al-Syarif dari saingan seperti otoritas agama Arab Saudi yang lebih konservatif dan gerakan-gerakan Islam politik. Di panggung global, ia adalah wajah Islam moderat yang diharapkan dapat “menjawab” Islamofobia Barat, sebuah beban yang berat.

Tidak hanya itu. Kritik terhadapnya beragam: dari aktivis HAM yang menuntut reformasi hukum keluarga lebih radikal, hingga kaum Islamis yang menuduhnya menjual agama untuk kekuasaan. Namun, dukungan kepadanya juga luas: bagi banyak Muslim Sunni, ia adalah benteng terakhir keilmuan yang otentik dan otoritatif di tengah banjir informasi dan fatwa online yang tidak bertanggung jawab.

Penjaga Peradaban yang Lelah?

Syeikh Prof. Dr. Ahmed Tayyib bukan seorang Nabi, juga bukan sosok yang revolusioner. Ia adalah administrator peradaban, seorang konservator sekaligus reformis halus yang percaya bahwa perubahan harus datang dari dalam tradisi. Bukan dengan menghancurkannya. Dalam sorbannya, terpendam sejarah seribu tahun, beban 90 juta Muslim Mesir, dan harapan 1,8 miliar Muslim Sunni di dunia.

Ketika Syeikh Prof. Dr. Ahmed Tayyib berjalan di pelataran Al-Azhar yang sama, langkahnya mungkin terasa berat. Ia telah menjadi simbol dari sebuah dilema abadi: bagaimana menjaga kemurnian iman sambil menjawab tantangan zaman; bagaimana menjadi suara moral tanpa terjatuh dalam kubangan politik; bagaimana menjadi jembatan ketika fondasi jembatan itu sendiri retak oleh gempa bumi sejarah.

Kini, warisan Syeikh Prof. Dr. Ahmed Tayyib masih ditulis. Ia mungkin akan dikenang sebagai Syaikh Al-Azhar Al-Syarif yang memimpin institusinya melintasi masa paling bergejolak dalam sejarah modern Mesir: tangannya terkompromi oleh politik, namun pikirannya tetap merdeka dalam menara filsafatnya.

Dalam narasi besar Islam abad ke-21, nama ulama yang kini telah berusia 80 tahun ini akan tercatat bukan sebagai pembawa terobosan dramatis. Namun, sebagai penjaga gawang yang teguh, yang dengan segala keterbatasan manusiawinya, berusaha mencegah gol-gol yang ingin menghancurkan lapangan permainan itu sendiri. Dan di dunia di mana lapangan itu kian panas, peran penjaga gawang mungkin justru yang paling menentukan.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi dan meridhai jejak langkah panjenengan, Syeikh Prof. Dr. Ahmed Mohammed Tayyib, Allâhumma âmîn!

Tags: Catatan Rofi' UsmaniGrand Syaikh Al AzharMakin Tahu IndonesiaSyeikh Ahmad Tayyeb
Previous Post

Masa Depan yang Sesungguhnya

Next Post

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: