“Sejarah adalah perjuangan panjang manusia melalui penggunaan akal budinya untuk memahami lingkungannya”. Sebuah kutipan powerfull dari sejarawan monumental Edward Hallet Carr itu, tentunya bergema di Bojonegoro.
Manusia mempelajari kegagalan dan keberhasilan dari masa lalu melalui pemahaman sejarah. Itu semua demi menjawab tantangan yang dihadapi saat ini dan nanti di masa depan.
Dan sejarah memang tak boleh dilupakan. Seperti pesan Bung Karno: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”. Sebuah kutipan yang mungkin terdengar klasik. Namun, sejarah klasik tidak boleh dikubur dalam. Malahan harus terus dipelajari. Peradaban manusia saat ini tidaklah terlepas dari proses panjang serajah.
Amanah sejarah dari bapak bangsa tersebut dipegang oleh Komunitas Bojonegoro History. Komunitas pegiat sejarah tersebut memilih ngabuburit dengan diskusi sejarah. Sebuah gelaran bertajuk Tadarus Sejarah Budaya menjelang berbuka puasa. Tepatnya pada Senin sore (16/3/2026). Sebuah momentum positif di bulan suci Ramadan.
Peserta diskusi hadir satu per satu memasuki area outdoor Deulleuda Coffe diiringi suara gluduk. Mulai dari anggota Bojonegoro History, aktivis, mahasiswa, pelajar serta berbagai elemen dari masyarakat umum. Tentunya mereka yang sangat tertarik dengan sejarah beraroma Bojonegoro. Langit mendung tak mampu mengancam niat hati peserta untuk berdiskusi.
Masih dengan irama gluduk yang terus menggelegar di langit. Tadarus dimulai dengan suara M. Yuda Pradana, seorang pegiat dari Jonegoronem Berdaya Bersama sebagai pemantik. Dia mengungkapkan pentingnya belajar sejarah. Terutama sejarah tentang lingkungan hidup di daerah.
“Aktivitas kita di masa lampau adalah outlook kita untuk masa kini dan masa depan,” ucap pria yang mengenakan topi hitam kala diskusi berlangsung.
Setiap daerah memiliki sejarahnya sendiri. Peradaban di masa lampau itu turut membentuk perilaku masyarakat saat ini. Setiap daerah memiliki kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan daerah lain. Perilaku ini yang kerap menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Menurut Yuda, karakter masyarakat berdasar sejarahnya sangat penting diketahui. Bahkan, perlu untuk dipelajari generasi lanjutan. Ini semua agar masyarakat mengenal jati diri daerah masing-masing.
Pembelajaran ini akan menghasilkan narasi-narasi baru terkait temuan sejarah. Narasi ini diperlukan untuk menjawab tantangan arah pembangunan ke depan. Tidak terkecuali arah pembangunan Kabupaten Bojonegoro.
“Kita harus merawat nafas ini untuk mencari narasi bagaimana kita mencari jati diri kabupaten (Bojonegoro) ini,” kata Yuda.
M. Andrea, Ketua Komunitas Bojonegoro History bercerita, awal mula terbentuknya Bojonegoro History dan peran yang diambil komunitas bagi Kota Ledre. Pria akrab disapa Andre itu sangat aktif bermedia sosial. Media sosial sangat memungkinkan untuk berbagi konten dan tulisan.
Dia juga menyukai narasi-narasi terkait sejarah. Khususnya yang ada di Bojonegoro. Dari situlah dia mengajak para pecinta sejarah Bojonegoro berkumpul dalam satu wadah. Kemudian, lahirlah Komunitas Bojonegoro History pada 2023.
Bojonegoro History seirama dengan Kabupaten Bojonegoro. Terutama branding Negeri Minyak sebagai situs Geopark Nasional. Bahkan, sedang berproses menuju kenaikan status sebagai UNESCO Global Geopark. Bojonegoro sendiri memiliki banyak situs Geopark. Melansir halaman Geopark Bojonegoro, Karesidenan Plat S ini memiliki 20 geosite, 3 biosite dan 8 cultursite.
“Ini sangat menarik karena potensi daerah hari ini adalah geopark. Ada kurang lebih 18 situs yang ada di Bojonegoro,” ucap pria yang mengenakan topi krem saat diskusi digelar.
Namun, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Hingga saat ini, Bojonegoro History terus melakukan kegiatan riset. Riset yang rutin dilakukan dua kali dalam satu bulan kerap membawa pada temuan-temuan baru. Berbagai benda yang diduga peninggalan peradaban sejarah klasik Bojonegoro.
Sebuah tabir sejarah perlu diungkap. Keberadaan temuan benda sejarah perlu penjelasan dan pembahasan. Pencarian fakta dan pengumpulan data masih terus dilakukan. Seolah kepala bisa merasakan dahaga dan haus akan referensi. Sebab itu, Bojonegoro History menggelar diskusi bersama para pecinta sejarah.
“Kami harap bisa bergabung untuk bertukar gagasan dan ide bersama-sama membangun daerah dari perspektif sejarah,” kata Andre.

Langit semakin gelap, masih terus diiringi alunan gemuruh. Kumandang azan magrib pun nyaring menyambut petang. Memaksa diskusi berhenti untuk rehat sejenak. Waktunya berbuka puasa bagi seluruh peserta.
Tak berselang lama, langit pun runtuh dalam wujud bulir air. Bunyi gemuruh langit tak lagi sebanding dengan suara hantaman air di atap ruang diskusi. Namun, itu semua tidak cukup untuk memaksa diskusi berhenti. Semangat peserta jauh menandingi dinginnya malam dan gemericik air hujan yang berisik. Diskusi tetap berlanjut.
Kali ini giliran seorang pegiat sejarah era klasik asal Bojonegoro, M. Putra untuk menggetarkan pita suaranya. Putra menjadi nara sumber kala diskusi indoor bertema “Membaca Sejarah Perbatasan Bojonegoro”. Sebuah tema yang memuat berbagai temuan di wilayah perbatasan Bojonegoro.
Bojonegoro History mencatat berbabagi macam temuan yang diduga bernilai bersejarah. Temuan tersebut berupa batuan yang disinyalir sebuah prasasti. Setidaknya sebuah batuan yang terbentuk oleh campur tangan aktivitas manusia. Sebuah bukti petunjuk bagi mereka yang penarasan membuka tabir sejarah.
Berbagai batuan bersejarah mereka temukan di area ‘Bojonegoro Coret’. Salah satu temuan berada di perbatasan Padangan-Cepu yang merupakan bagian barat. Kedua, temuan di perbatasan Baureno-Babat di area timur. Dan yang ketiga di perbatasan Sekar-Saradan di wilayah selatan. Juga berbagai misteri batuan di area Gunung Pandan yang masih menjadi misteri.
Kesemuanya itu berhasil dikumpulkan oleh kawan-kawan Bojonegoro History. Penggalian informasi terus dilakukan. Mulai dari blusukan langsung hingga pencarian sumber dokumentasi dan referensi. Data terus dilengkapi melalui riset-riset kecil tetapi konsisten. Sebab, semua ini dilakukan secara swadaya dan swakelola atas dasar kesadaran sejarah.
“Kita harus menanamkan kesadaran sejarah bahwasanya di daerah kita, Bojonegoro atau sekitarnya tempat terciptanya sebuah peradaban yang mungkin besar,” ucap pria berambut ikal nyaris grondrong kala itu.
Oleh sebab itu, Bojonegoro History berencana menelurkan sebuah buku sejarah. Sebuah buku sejarah besar peradaban Bojonegoro masa lampau. Buku yang menjawab bagaimana perilaku dan lingkungan hidup nenek moyang Bojonegoro. Perlu terciptanya narasi-narasi sejarah yang konkret, lebih jelas dan mendasar temuan terbaru. Bukan hanya dongeng-dongeng yang kian mengasap dibakar waktu.








