Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Melihat Colok Malam Songo di Gang Sedeng Bojonegoro

Bakti Suryo by Bakti Suryo
18/03/2026
in Peristiwa
Melihat Colok Malam Songo di Gang Sedeng Bojonegoro

Colok Malam Songo, Gang Sedeng Bojonegoro

Ketika malam semakin larut dan obor-obor mulai redup, yang tersisa adalah makna: tentang kebersamaan, tentang doa, dan tentang harapan yang terus menyala. 

Tradisi Ramadan di Bojonegoro selalu memiliki warna khas: hangat, kolektif, dan sarat makna kultural. Salah satu yang kembali hidup dan dirawat warga adalah tradisi Colok Malam Songo, seperti digelar warga Gang Makam Sedeng Bojonegoro.

Gang berada tak jauh dari pusat kota — anya sepelemparan kerikil dari alun-alun— itu, pada (18/3/2026), menjelma jadi ruang penuh cahaya dan doa. Banyaknya obor di pinggir jalan, bukan sekadar meramaikan malam ke-29 Ramadan, tapi juga merawat ingatan kolektif tentang makna kebersamaan, spiritualitas, dan budaya lokal.

Gang Makam Sedeng selama ini dikenal sebagai kawasan identik geliat seni dan kreativitas. Di tengah hiruk-pikuk kota, gang ini tumbuh sebagai ruang alternatif: tempat anak muda berekspresi, komunitas berkumpul, dan ide-ide kultural dirawat secara organik.

Namun, pada Malam Songo, wajah gang itu berubah menjadi lebih khusyuk. Lampu-lampu obor (colok) dinyalakan berjajar di sepanjang jalan, menghadirkan suasana temaram yang hangat nan syahdu. Cahaya-cahaya kecil seakan jadi simbol perjalanan manusia menuju terang, menuju kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Di sinilah seni dan spiritualitas bertemu. Estetika visual dari barisan obor bukan sekadar dekorasi, melainkan representasi nilai: tentang harapan, tentang doa yang menyala, dan tentang kehidupan yang terus dijaga nyalanya.

Pada Malam Songo 2026 ini, selain menyalakan obor colok, warga Gang Makam Sedeng mengadakan kegiatan bukber, tahlil, dan doa bersama. Tanpa sekat sosial, semua duduk bersama dalam satu hamparan: tua-muda, anak-anak hingga orang tua, warga lama maupun pendatang.

Agus Aam Rosyadi, warga Gang Makam Sedeng Bojonegoro mengatakan, kegiatan Colok Malam Songo ini sengaja diagendakan secara rutin. Ini ditujukan untuk menjaga tradisi Ramadan yang sejak lama telah dilakukan. Gang Sedeng yang selama ini identik seni kreasi, kata Aam, pada Malam Songo juga ikut berhias diri.

“Gang Sedeng memang terkenal kegiatan seni. Namun pada Ramadan juga menyesuaikan diri” ucap Aam (18/3/2026).

Malam Songo di Gang Makam Sedeng bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga tentang membangun rasa memiliki. Dalam suasana sederhana, tersirat pesan kuat bahwa Ramadan adalah momentum meruntuhkan batas-batas sosial. Semua kembali pada posisi yang setara sebagai manusia yang sama-sama lapar, sama-sama berdoa, dan sama-sama berharap ampunan.

Selepas berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan doa dan tahlil bersama. Ini menjadi bagian paling hening sekaligus paling dalam maknanya. Lantunan tahlil menggema di antara cahaya obor, menciptakan suasana yang seolah menghubungkan dua dunia: yang hidup dan yang telah tiada.

Nama-nama leluhur, keluarga, dan warga yang telah meninggal disebut dalam doa. Di titik ini, tradisi colok-colok tidak hanya menjadi ritual penutup Ramadan, tetapi juga medium untuk menyambung silsilah batin—bahwa kehidupan hari ini tidak lepas dari mereka yang telah lebih dulu berpulang.

Dalam konteks masyarakat Jawa, khususnya di Bojonegoro, praktik seperti ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang memadukan nilai Islam dengan tradisi setempat. Tahlil bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan dan pengingat akan keterhubungan manusia lintas generasi.

Malam Songo sendiri memiliki posisi istimewa dalam tradisi Ramadan di banyak daerah di Jawa. Ia menjadi penanda bahwa bulan suci hampir usai. Karena itu, perayaannya seringkali dibuat meriah sekaligus reflektif.

Di Gang Makam Sedeng, colok-colok Malam Songo menjadi simbol penutup yang penuh makna. Cahaya obor yang dinyalakan bersama-sama mencerminkan semangat kolektif: bahwa perjalanan spiritual selama Ramadan tidak berakhir begitu saja, melainkan harus terus dijaga setelahnya.

Suasana Colok Makam Songo di Gang Sedeng Bojonegoro

Tradisi ini juga menjadi bentuk resistensi kultural di tengah modernitas. Ketika lampu listrik dan gemerlap kota semakin dominan, warga tetap memilih menyalakan obor—cara sederhana yang justru menghadirkan kedekatan emosional dan nilai simbolik yang kuat.

Menjaga Tradisi, Merawat Identitas

Apa yang dilakukan warga Gang Makam Sedeng pada Ramadan 2026 ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus megah untuk bermakna. Justru dalam kesederhanaan, nilai-nilai itu terasa lebih hidup.

Di tengah arus globalisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi seperti colok-colok Malam Songo menjadi penting sebagai penanda identitas lokal. Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak hanya hidup dalam ruang fisik, tetapi juga dalam ruang nilai dan sejarah.

Gang Makam Sedeng telah menunjukkan bahwa ruang seni bisa menjadi ruang spiritual, bahwa tradisi bisa dirawat tanpa kehilangan relevansi, dan bahwa kebersamaan adalah inti dari semua perayaan.

Ketika malam semakin larut dan obor-obor mulai redup, yang tersisa adalah makna: tentang kebersamaan, tentang doa, dan tentang harapan yang terus menyala—bahkan setelah Ramadan usai.

 

Tags: Colok Malam SongoGang Sedeng BojonegoroMakin Tahu Indonesia
Previous Post

‎Kiai Sanusi Mbarangan, Mlampah Lillah Kalimatillah ‎

Next Post

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot
Peristiwa

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara
Peristiwa

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan
Peristiwa

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: