Di tengah arus zaman yang bergerak serba cepat, Pondok Pesantren Irsyaduth Tholabah Rowobayan, Kuncen, Padangan, Bojonegoro, memilih langkah berbeda: duduk sejenak, membuka kembali lembar sejarah, lalu mengajak masyarakat berbincang tentang sejarah dan budaya Padangan.
Melalui sarasehan bertajuk Padangan Heritage of Bojonegoro (Pager Negoro), pesantren Irsyadud Thalabah Rowobayan menghadirkan ruang dialog sejarah dan budaya Padangan. Kegiatan yang bukan sekadar membahas masa lalu, tapi juga merawat identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Kegiatan ini menampilkan kolaborasi budaya antara Jogjakarta dan Bojonegoro. Mengingat, Bojonegoro sejak lama dikenal sebagai Mancanegara Wetan Kesultanan Jogjakarta. Dalam kegiatan ini, tema yang diangkat adalah Perang Jawa (1825-1830 M). Tema ini dinilai sangat tepat. Karena secara empiris, mampu menggambarkan posisi Bojonegoro (Jipang) sebagai bagian terpenting dari Mancanegara Wetan Kesultanan Jogjakarta.
Kegiatan sarasehan ini tak hanya dihadiri para periset dari Bojonegoro saja. Namun sejumlah pegiat budaya dari Jogjakarta. Di antara para penampil dan narasumber meliputi Rendra Pamungkas, Yoga WR, Ali As’ad, Maulana Jawi, Agus Salim, dan Wahyu Rizky.
Rendra Pamungkas, Maulana Jawi, dan Ali As’ad membuka acara dengan penampilan Kidung Ronce yang membius para penonton. Suasana kian menggema dan mengharu-biru ketika para santri ponpes Irsyadud Thalabah tampil membawakan kidung. Momen yang seolah mampu menghentikan waktu.
Sementara memasuki kegiatan diskusi, Agus Salim mengajak para penonton untuk menyaksikan data-data penting yang disampaikan Yoga WR dari Jogjakarta, dan Wahyu Rizki dari Bojonegoro. Keduanya menyampaikan bermacam data kuno Mancanegara Wetan, yang menjadi simpul perjuangan Perang Jawa.
Forum sarasehan sejarah dan budaya Padangan ini, menjadi pertemuan sekaligus pertautan gagasan antara santri, tokoh masyarakat, pegiat budaya, hingga generasi muda yang ingin memahami akar daerahnya sendiri. Titik pertautan yang membawa nuansa dan identitas Perang Jawa.
Bagi masyarakat Padangan, sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama tokoh. Ia hidup dalam tradisi, tutur lisan, nama kampung, hingga kebiasaan warga sehari-hari. Sarasehan ini berangkat dari kesadaran bahwa sebuah daerah tidak bisa melangkah jauh apabila mulai kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri.
Pesantren pun kembali mengambil peran lamanya sebagai penjaga memori sosial masyarakat. Bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga ruang peradaban— tempat di mana nilai, budaya, dan pengetahuan selalu diwariskan lintas generasi.

Dalam forum ini, pembahasan tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Sejarah justru dipertemukan dengan gagasan masa depan. Bagaimana warisan budaya tetap hidup di tengah modernitas, bagaimana generasi muda tetap mengenal jati dirinya meski hidup di era digital, hingga bagaimana Padangan dapat tumbuh tanpa tercerabut dari akar budayanya.
Ada suasana yang hangat dalam sarasehan ini. Masyarakat datang dengan latar belakang yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh kegelisahan yang sama: jangan sampai anak muda lebih hafal tren media sosial daripada cerita kampung halamannya sendiri.
Lucunya, manusia modern memang sering rajin memperbarui aplikasi di telepon genggamnya, tetapi lupa memperbarui pengetahuan tentang tanah tempat ia berpijak. Padahal, sejarah sering bekerja diam-diam. Ia seperti akar pohon: tidak terlihat, tetapi menentukan kokoh atau tidaknya batang di atasnya.
Karena itu, sarasehan budaya di Ponpes Irsyaduth Tholabah Rowobayan menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Ia adalah upaya merawat ingatan kolektif masyarakat Padangan agar tidak hilang ditelan zaman. Sebab masa depan yang kuat biasanya lahir dari masyarakat yang masih ingat dari mana mereka berasal.








