PC ISNU Bojonegoro: Intelektual Bersarung harus menanam dan sadar ekologis.
PC ISNU Bojonegoro ucapkan selamat atas dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, sekaligus terpilihnya Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro, bukan dengan mengirim karangan bunga, tapi dengan menanam pohon. Semiotika ekologis ini, punya makna harapan yang amat besar.
Dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono dan Nurul Azizah, sekaligus terpilihnya Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro, KH Ahmad Maimun Syafii dan dr H. Kholid Ubed SpPd, mengundang banyak ucapan selamat dari berbagai pihak. Termasuk PC ISNU Bojonegoro.
Ucapan selamat, umumnya dilakukan dengan mengirim karangan bunga. ISNU Bojonegoro tak memilih demikian dalam memberi ucapan. ISNU Bojonegoro, justru memilih menanam pohon sebagai ucapan kebahagiaan. Karangan bunga adalah benda mati, sementara menanam pohon adalah simbol upaya untuk menghidupkan.
Sebagai lembaga Intelektual Bersarung, sudah sepatutnya ISNU Bojonegoro membangun atmosfer intelektualitas berbasis perihal sederhana yang pro-ekologis. Perihal sederhana itu, termasuk memilih menanam pohon sebagai ucapan selamat, sebagai penanda momen-momen bahagia.
Ketua PC ISNU Bojonegoro, Dr. KH. Yogi Prana Izza mengatakan, menanam pohon dipilih sebagai ucapan selamat, bukan tanpa alasan. Pihaknya ingin membuktikan bahwa kebahagiaan, sudah sepatutnya dirayakan dengan cara “menghidupkan”. Dan menanam pohon, adalah simbol kuat dari “upaya menghidupkan”.

Kiai Yogi menyatakan, ucapan selamat berupa menanam pohon, sekaligus diniati mempersembahkan tanaman sebagai sedekah oksigen. Makna filosofis dari kegiatan ini, kata beliau, adalah pengharapan agar Bojonegoro dapat tumbuh berkembang, dan apat memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Secara normatif, menanam pohon ini bagian penting dari ajaran Rasulullah Saw untuk sadar dan peduli ekologi” Ucap Kiai yang juga doktor lulusan Al Azhar Mesir tersebut.
Untuk diketahui, PC ISNU Bojonegoro memiliki program sadar ekologi. Kesadaran ekologis ini, dilakukan melalui kajian-kajian diskusi. Ini sebagai salah satu bentuk aksi sadar ekologi. Karena sesungguhnya, alam dan kita adalah sama-sama makhluk Allah yang bersifat saling membutuhkan.
“Jika kita baik pada alam, niscaya alam pun akan baik kepada kita. Lebih dari itu, kita berharap ridha Allah Swt”. Imbuh Kiai








