Deretan kursi di Smart Class Gedung Pascasarjana Universitas Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro, Minggu (28/6/2026), perlahan dipenuhi wajah-wajah muda yang membawa harapan bersama lembaran karya terbaik mereka. Sebagian datang dengan naskah cerita pendek yang telah berkali-kali direvisi. Sebagian lainnya menggenggam puisi yang lahir dari perenungan panjang. Di ruang itulah, kata-kata memperoleh panggungnya.
Melalui Pena Pancasila 2026 bertajuk Pekan Apresiasi Nusantara Aksara, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penulisan dan Penalaran Griya Cendekia UNUGIRI Bojonegoro mempertemukan pelajar dan mahasiswa se-Karesidenan Bojonegoro—meliputi Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan—dalam sebuah kompetisi sastra yang mengangkat semangat literasi sekaligus nilai-nilai Pancasila.
Ajang tersebut menghadirkan dua kategori lomba. Mahasiswa berkompetisi melalui karya cerita pendek, sedangkan siswa SMA/sederajat menyalurkan gagasan mereka dalam bentuk puisi. Di balik perlombaan itu, tersimpan harapan agar sastra tidak sekadar menjadi rangkaian kalimat indah, melainkan medium untuk menyampaikan pemikiran yang lahir dari pengalaman, kepedulian, dan nilai-nilai kehidupan.
Pembina UKM Griya Cendekia, Usman Roin, menilai kemampuan menulis merupakan bekal yang akan terus dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan. Menurutnya, prestasi dalam kompetisi kepenulisan juga dapat menjadi portofolio yang bernilai bagi masa depan peserta.
“Kemampuan yang dibutuhkan di pekerjaan atau bidang-bidang panjenengan dalam menulis atau sebagainya. Ini akan menjadi portofolio yang baik ketika menjadi juara,” ujarnya.
Semangat serupa disampaikan Ketua Panitia Pena Pancasila 2026, Tsalitsa Azahra Febianty. Baginya, kegiatan ini bukan hanya tentang menentukan siapa yang menjadi pemenang. Lebih jauh, ajang tersebut diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk kembali merenungkan nilai-nilai luhur Pancasila, lalu menerjemahkannya ke dalam karya yang nyata.
“Acara ini adalah sebuah wadah atau panggung, khususnya bagi generasi muda untuk kembali merenungkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam menuliskan ide-ide dalam bentuk karya yang nyata,” katanya.
Sebanyak 22 peserta mengirimkan karya terbaik mereka untuk mengikuti kompetisi ini. Setelah melalui proses seleksi, masing-masing kategori menyisakan tiga finalis yang berhak tampil pada babak grandfinal.

Di hadapan dewan juri, para finalis cerita pendek tidak hanya mempresentasikan hasil tulisan mereka, tetapi juga mengisahkan proses kreatif di balik lahirnya sebuah cerita. Mulai dari bagaimana sebuah ide ditemukan, alur dirancang, hingga pilihan diksi dipertimbangkan dengan cermat menjadi bagian dari penilaian.
Sementara itu, finalis kategori puisi menghadirkan suasana yang berbeda. Mereka membacakan karya masing-masing dengan penghayatan, kemudian menjelaskan makna yang tersembunyi di balik setiap larik yang ditulis. Pada momen itulah, puisi tidak hanya terdengar sebagai untaian kata, tetapi juga menjadi ruang dialog antara penulis, karya, dan para penikmatnya.
Rangkaian penilaian akhirnya melahirkan para pemenang. Kategori cerita pendek dimenangkan oleh Dedy Indra Setiawan dari IKIP PGRI Bojonegoro melalui karya berjudul “Taman Aksara di Ujung Ladang”. Sementara itu, gelar juara kategori puisi diraih Sepma Abizatul dari SMK Negeri 5 Bojonegoro lewat karya bertajuk “Potret Nyawa”.
Pena Pancasila 2026 pun meninggalkan pesan bahwa sastra bukan sekadar ruang untuk merangkai kata-kata. Melalui cerita pendek dan puisi, generasi muda diajak menyuarakan gagasan, merawat nilai-nilai Pancasila, sekaligus membuktikan bahwa literasi tetap memiliki tempat untuk tumbuh di tengah perubahan zaman.








