Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sebuah Memoar: Sains, Sastra dan Nirwan Arsuka

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
05/09/2020
in Figur
Sebuah Memoar: Sains, Sastra dan Nirwan Arsuka

Di hadapan Pak Nirwan, semesta sains dan sastra mampu bermetamorfosis menjadi organisme baru nan lucu tapi tetap menyebalkan.

Ada dua nama penulis yang membuat saya telaten menekuni istilah dan kalimat-kalimat rumit. Mereka adalah Goenawan Mohamad dan Nirwan Ahmad Arsuka. Meski tak selalu paham maksudnya, saya suka sekali membaca nuansa dan intonasi tulisan mereka.

Nirwan Ahmad Arsuka mungkin lebih dekat dengan saya, dibanding Goenawan Mohamad. Selain tergabung dalam satu organisasi kultural yang sama, Pak Nirwan dan saya masih sering berkomunikasi — meski sekadar via WA.

Dulu semasa kuliah, tulisan Nirwan Ahmad Arsuka, entah saat di kolom Kompas atau di tempat lainnya, kerap saya simpan untuk saya baca berkali-kali. Sebab ia tak pernah bisa dibaca dalam sekali duduk.

Sampai kini, bahkan saya masih sering membaca esai Pak Nirwan sebagai suluh ide. Esai-esai itu kerap jadi rumus ajaib yang membuat saya menemukan ide baru untuk menulis dalam sudut pandang berbeda.

Sebagai lelaki yang tak cukup akrab dengan matematika dan fisika, saya amat berterimakasih pada Pak Nirwan. Dia sosok yang membuat saya “memaafkan” matematika dan fisika —- dua mata pelajaran sulit yang membuat saya tak betah sekolah dan sering bolos.

Nirwan Arsuka mampu membuat adukan antara matematika, fisika dan sastra menjadi organisme baru yang rumit, asik, renyah tapi tetap menyebalkan. Meski menyebalkan, setidaknya tak lagi membosankan. Dan unsur menyebalkan ini, justru membuat saya suka membacanya.

Di tangan Pak Nirwan, rumitnya matematika bisa jadi prosa. Bisa jadi puisi. Bahkan bisa jadi teman yang menuntun pada semesta imajinasi masa depan yang amat menyenangkan.

Meski sialnya, saya mengenal Pak Nirwan setelah saya tak lagi berkutat dengan rumitnya pelajaran matematika ataupun fisika — dua perkara membosankan tapi sesungguhnya amat menyenangkan itu.

“Hubungan antara matematika dan puisi agaknya memang lebih erat dibanding hubungan antara manusia dengan benak di tengkoraknya.” Begitu kata Pak Nirwan dalam sebuah tulisan berjudul Catatan Kecil tentang Burung.

Bagaimana mungkin, dua hal yang hidup di dua kutub berbeda, mampu dia rekatkan menjadi dua sosok akrab yang seolah bisa saling mengenal satu sama lain. Baginya, matematika mirip puisi yang membubung seperti burung halilintar: terbang meledakkan cahaya sembari meremehkan batas-batas.

Benar jika Pak Nirwan sosok yang sudah mencapai maqam puncak ektase matematis — yang mampu menjadikan universalitas matematika sebagai titik tumpu dalam memainkan dan mengendalikan segala persamaan secara sesuka hati.

Sesungguhnya, saya memang amat menyukai sains — andai ia sekadar biologi dan kimia. Tapi sayang, sains adalah tubuh yang bertulangkan matematika dan fisika. Hal itu membuat saya agak menjauhi sains sejak dalam lembar jadwal pelajaran.

Dan Pak Nirwan, mampu mengembalikan sains pada tempat yang menyenangkan, tanpa pergi dari ruang yang menyebalkan. Pak Nirwan mampu mengembalikan sains pada urusan imajinasi dan masa depan, alih-alih rumitnya hitung-hitungan.

“Sains dan sastra adalah dua entitas yang luar biasa luas, yang beririsan setidaknya di dua ranah penting. Pertama adalah ranah ”metafisis”: sains dan sastra sama berupaya mengajukan model tentang kenyataan. Yang kedua adalah ranah formal: sains dan sastra sama bermain dengan manipulasi simbolik.”

Paragraf pembuka dalam esai berjudul Keajaiban Nalar dan Imajinasi itu, membuat saya merevisi banyak hal tentang horornya sains. Sebab bagaimanapun, banyak perihal sastrawi yang terbangun dari sains.

Bagaimana mungkin kita bisa membenci sains, sementara kita diam-diam amat suka pada karya berbasis science fiction atau sci-fi atau fiksi ilmiah, misalnya. Meski menurut Pak Nirwan, banyak fiksi ilmiah yang menghadirkan penyalahgunaan khazanah sains.

Pak Nirwan sering mengingatkan saya pada sebuah grup band asal Amerika, Angles and Airwaves (AVA) yang di tiap lagu dan video clip-nya, tak pernah bosan menebar provokasi tentang semesta jagat sains dan kehidupan luar angkasa.

Jika Angles and Airwaves mengkonstruksi lirik dan harmoni musik menggunakan atmoster sains, Pak Nirwan menjadikan atmosfer sains sebagai adukan utama dalam tiap karya prosa puitisnya.

Apapun itu, Pak Nirwan mampu memoles horornya matematika dan fisika menjadi prosa puitis yang amat mengagumkan. Di hadapan Pak Nirwan, sains dan sastra mampu bermetamorfosis menjadi organisme baru nan lucu tapi tetap menyebalkan.

Dan atas alasan itulah, saya yang dulu sering tak bisa akrab dengan guru matematika selama bersekolah, mendaku diri sebagai santri Pak Nirwan. Bahkan tak peduli jika beliau tak menganggap saya sebagai muridnya.

Saya sesungguhnya telah mempersiapkan memoar ini cukup lama. Saya ingin hadiahkan tepat di ulang tahun Pak Nirwan. Sayang, saya selalu gagal mengetahui kapan Pak Nirwan berulang tahun. Inilah hebatnya. Pak Nirwan sosok yang amat tawadhu. Sampai tak mengizinkan wikipedia mengetahui tanggal lahirnya.

Saya tak akan pernah tahu kapan Pak Nirwan berulang tahun, andai teman-teman di grup Pustaka Bergerak tak menyampaikan ucapan selamat. Dan sialnya, meski sudah tahu kapan tanggal kelahirannya, sampai saya tulis memoar ini, saya belum tahu berapa usia Pak Nirwan.

Apapun itu, terimakasih, Pak Nirwan. Selamat ulang tahun. Salam takzim dari saya.

Tags: Nirwan Ahmad ArsukaSainsSastra
Previous Post

Green Day dan Dialektika Kesunyian

Next Post

Semesta dan Bagaimana Semestinya Manusia Selaras dengan Alam

BERITA MENARIK LAINNYA

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme
Figur

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno
Figur

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital

EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital

16/06/2026
Tanda-Tanda Reformasi Jilid 2

Tanda-Tanda Reformasi Jilid 2

15/06/2026
Tahun Baru Islam dalam Lintasan Zaman

Tahun Baru Islam dalam Lintasan Zaman

14/06/2026
Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: