Sukamse menjadi minuman menyehatkan yang mulai dikenali masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. Selain karena manfaat kesehatannya, Sukamse memiliki sejumlah varian rasa buah-buahan. Ini yang menjadikan Sukamse tak hanya disukai orang-orang tua, tapi juga anak-anak kecil dan remaja.
Susu kambing Sukamse diproduksi di Bojonegoro. Tepatnya di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Nama Sukamse sendiri, merupakan akronim dari Susu Kambing Segar. Istilah ini diambil karena proses produksi Sukamse, diperah sendiri dari ternak kambing Sepera yang ada di Ngablak.
Pemilik usaha perah susu Sukamse, Yanuar Kriswanto bercerita, usaha perah ini dimulai pada 2018 silam. Sebelumnya, ia hanya beternak kambing. Untuk ternak kambing sendiri, ia memulainya sejak 2014. Di antara kambing hasil ternaknya adalah jenis kambing; sapera, sanen, etawa, dan domba.
“Yang bisa diperah susunya sapera, etawa, dan sanen. Yang paling produktif memang sapera” Kata Yanuar.
Lelaki 36 tahun itu menceritakan, sampai saat ini, kambing jenis sapera lebih diunggulkan dalam produktivitas perah susu. Sebab, secara kuantitas lebih banyak, serta lebih lama masa kering susunya dibanding jenis kambing lainnya. Saat ini, ada sekitar 130 ekor kambing sapera dan etawa yang ada di Kandang Ngablak, kandang kambing miliknya.

Sukamse produksi Kandang Ngablak, dikemas dalam botol ukuran 250 ml. Dengan bermacam varian rasa buah. Di antaranya; rasa cocopandan, melon, dan original. Menurut Yanuar, pilihan rasa juga menentukan klasifikasi usia konsumen. Untuk rasa original memang lebih disukai orang-orang berusia tua.
“Kalau rasa buah biasanya anak-anak dan remaja” Ungkap bapak 3 anak tersebut.
Sampai saat ini, susu kambing Sukamse tak hanya diminati masyarakat Bojonegoro. Tapi hingga luar kota bahkan provinsi seperti Surabaya (Jawa Timur) hingga Semarang (Jawa Tengah).
Lelaki kelahiran Kota Tuban itu menceritakan, popularitas Sukamse mengalami peningkatan pasca Covid 19. Hal ini karena mulai banyak masyarakat tahu akan nilai manfaat susu kambing. Khususnya dalam peningkatan imun. Saat ini, penjualan Sukamse rata-rata masih tembus 500 liter per bulan.
“Kalau sebelum Covid masih sedikit. Mungkin sekitar 200 ml” Imbuhnya
Menurut Yanuar, Sukamse adalah produk turunan dari ternak kambing miliknya yang memiliki nilai manfaat tinggi. Baik manfaat dari segi kesehatan tubuh, maupun manfaat pendapatan ekonomi. Selain Sukamse, kata dia, ada keuntungan lain. Yaitu daging, kohe (kotoran kambing untuk pupuk), dan tentu anakan kambing sebagai investasi.

Kambing-kambing ternaknya, diberi pakan silase tebon, konsentrat, dan legum (tumbuh-tumbuhan). Pakan-pakan ini untuk memaksimalkan kecukupan nutrisi kambing. Sehingga menghasilkan perahan susu yang optimal. Untuk mengurus kandang kambing miliknya, saat ini Yanuar dibantu dua orang karyawan.
Yanuar mengatakan, beternak memang entitas profesi yang mulai dilupakan anak-anak muda. Padahal, selain memiliki potensi pendapatan besar, beternak juga pekerjaan mulia yang diajarkan para bijakbestari sejak lama. Karena itu, dia berpesan pada generasi muda agar tak malu beternak.
“Bahkan beternak sudah disebut dalam hadits” Ucapnya kelakar sambil tersenyum.
Pria pehobi mancing ini bercerita, kandang pertama yang dia buka semula hanya berukuran 9×1,5 meter (m), dan hanya berisi 7 ekor domba dan dua ekor indukan kambing perah. Kandang awal itu, kini sudah berkembang cukup pesat.
Dari dua ekor indukan kambing perah itu, ia mampu mengembangkan bisnis perah susunya. Pada 2023 misalnya, jumlah kambing perah Yanuar mencapai 47 ekor kambing siap perah. Bahkan, ukuran kandang miliknya juga berubah kian besar. Kini sekira 60×20 meter.
Dari Kandang Kambing, Yanuar tak hanya berbisnis susu perah. Tapi juga jual beli pakan ternak berbahan limbah pertanian. Bahkan, ia juga pernah dipercaya men-suplai ratusan domba ke wilayah Jabotabek hingga Malaysia.








