Apapun yang dilakukan dengan bahagia, tak akan menimbulkan kecewa. Begitupun dengan presentasi, berikut tips agar presentasi sampai ke hati. Ehh ~
Nabs, setiap mahasiswa pasti pernah dihadapkan untuk membuat dan melakukan presentasi. Entah untuk tugas mata kuliah di kelas, rapat organisasi, mengisi seminar, dan lain sebagainya.
Kegiatan presentasi di kalangan mahasiswa sudah menjadi hal yang lumrah. Umumnya materi perkuliahan disampaikan melalui proses presentasi secara bergantian berdasarkan pembagian kelompok.
Presentasi sendiri merupakan salah satu bentuk public speaking yang dapat mengasah keterampilan berbicara di depan umum. Sebuah presentasi dikatakan efektif apabila penyampaiannya dilakukan secara singkat, dan padat pada materi.
Sehingga mampu diterima dan dipahami dengan baik oleh audience atau pendengar.
Pada beberapa kasus, sering terjadi proses presentasi yang tidak efektif dikarenakan presentator kurang menguasai materi yang akan disampaikan. Akibatnya, audiens banyak yang mengabaikan presentator dengan asik bermain gawai, ngobrol, maupun tertidur pulas, Nabs.
Kemampuan presentator dalam membawakan materi sangat mempengaruhi efektivitas presentasi. Kegiatan presentasi di depan kelas tidak hanya bermanfaat ketika kuliah saja, juga melatih mahasiswa berbicara di depan umum dan di dunia kerja nanti.
Oleh karena itu, sangat penting bagi Nabsky untuk mengetahui tips agar bias melakukan presentasi dari hati dengan bahagia. Nah, pada artikel yang saya tulis kali ini akan memberikan ide agar belajar presentasi dengan waktu yang sangat singkat, yaitu 10 menit namun berkesan. Berikut ini ulasannya:
Pertama, bisa dilakukan dengan membuat outline presentasi, yang di dalamnya berisi poin-poin dari materi presentasi dan highlight.
Berisi hal-hal yang paling penting. Ini jadi salah satu cara efektif untuk mempelajari materi presentasi dan memudahkan kita mengingat poin penting dalam waktu yang singkat.
Selain itu, outline presentasi juga bias menjadi guideline supaya kita nggak out of topics saat menyampaikan presentasi.
Kedua, kamu bisa menggunakan teknik use mind maps atau teknik mengingat hal-hal tertentu secara visual. Jika kamu termasuk orang yang visual learner, bisa membuat outline presentasi dengan menggunakan mind maps.
Cara ini bisa bantu kamu lebih mudah untuk mempelajari dan mengingat materi presentasi dalam waktu yang singkat, karena mind maps berisi poin-poin ringkas atau resume yang dibuat dengan visual atau diagram mirip ranting pohon yang mudah dibaca dalam satu halaman.
Ketiga, harus lebih fokus dalam mempergunakan waktu selama 10 menit itu. Delapan detik pertama saat membaca atau belajar hal-hal baru, itu jadi waktu yang paling penting buat kita untuk transfer informasi ke otak.
Karena, ini adalah waktu yang dibutuhkan otak untuk memproses potongan informasi ke dalam memori. Jadi, supaya bisa mempelajari materi presentasi dengan efektif, jangan sambil melakukan hal lain seperti ngetik/texting, atau cek surat elektronik.
Keempat, kamu bisa menggunakan cara rehearse out loud (berlatih dengan suara). Dalam suatu penelitian dibuktikan bahwasanya belajar materi presentasi dengan cara diucapkan ternyata bisa jadi 10% lebih efektif dibanding dibaca dalam hati. Misalnya sambil menatap cermin untuk bantu kurangi nervous.
Nabs, langkah yang Kelima bisa dilakukan teknik rekaman. Yaitu saat kamu belajar soal materi presentasi, jangan lupa rekam suara kamu dengan menggunakan smartphone.
Jadi, ketika masih ada waktu sebelum presentasi, kamu masih bias mengingat lagi resume presentasi yang baru dipelajari dengan cara menyalakan ulang rekaman presentasi tadi.
Menurut penelitian, belajar dengan cara mendengar suara rekaman sendiri bisa bantu meningkatkan kemampuan memori dalam mengingat berbagai hal.
Kelima langkah di atas adalah sedikit panduan tentang bagaimana belajar presentasi dengan waktu 10 menit.
Dengan melakukan kelima langkah di atas, kamu pasti bisa melakukan presentasi dengan baik dan efektif sehingga presentasi bias berjalan lebih asik dan tidak membosankan. Jangan lupa untuk berlatih agar performa meningkat.
Penulis adalah Mahaiswa Prodi PAI Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro.








