Umpling, bisa jadi adalah caramu, caraku atau cara siapapun yang sudah berupaya memberi cinta cahaya pada orang lain, tapi hasilnya masih amat kecil dan kerap diragukan.
Musim hujan telah tiba. Waktunya siap siaga. Wabilkhusus warga Bojonegoro yang suka mati lampu. Ingat! sedia payung sebelum hujan itu perlu. Yang tidak perlu, ngebut nikah sebelum waktunya heheii ~
Hujan sering datang tanpa diundang, tanpa diduga dan tanpa dikira. Seperti jodoh, segalanya akan datang tanpa dipaksa-paksa, termasuk hujan. Tidak bisa dipungkiri, jika dalam sepekan, hujan terjadi berkali-kali.
Hujan turun, semua waspada, semua berdoa, semua berlindung. Sebab, hujan kali ini membawa angin yang agak emosi. Sehingga banyak rumah-rumah dan pepohonan roboh akibat menerima tamparan angin.
Hujan datang, angin ribut dengan kencang, lampu mati dari segala penjuru. Semua orang bermunajat dan memohon agar kedatangan hujan, cukup membawa berkah saja, tanpa petaka.
Tapi, berbeda dengan bocah kecil yang kini masih duduk di bangku SMP itu, dia memilih mencari terang di dalam gelap, kala orang-orang pada ketakutan.
Bocah ndeso ini selalu mahir mencipta cahaya di dalam gelap, Nabs. Termasuk cahaya tuyul. Sudah cahaya kok masih ada tuyul? Hemm Intan ngomong apa si hhe ~
Saat lampu mati, semua gelap, wajah-wajah tak terdeteksi kecuali lengking suara yang menjadi ciri. Sulit sekali menjangkau sesuatu, boro-boro menjangkau nasi saat perut perlu diisi, menjangkau korek api saja sudah alhamdulillah sekali.
Peran korek api, dalam hal ini, sangatlah besar, serupa peran maaf dalam kisah percintaan. Sebab tanpa korek api, cahaya tak bisa hadir dalam kegelapan. Seperti jodoh yang tak hadir dalam kejombloan ~
Oke-oke, jadi gini, seorang bocah, sebut saja namanya Arik. Dia seringkali mencipta kreasi dari buah botol bekas minuman Hemaviton. Diisi dengan bensin dan diberi kain sepanjang 7 cm, untuk dijadikan Umpling.
Umpling atau biasa disebut cahaya api kecil, memang berfungsi sebagai penerang rumah saat mati lampu. Meski cahaya yang dikeluarkan kecil, manfaat yang dihasilkan amatlah besar. Setidaknya mampu mereduksi kekalutan akibat gelapnya ruangan.
Nabsky harus tahu, meski bahan dan komposisinya hampir sama, Umpling berbeda dengan Ublik lho, Nabs. Kalau Umpling ini lebih sederhana dan bikinan sendiri. Kalau Ublik, bisa tuh, dibeli di toko-toko atau di pasar.
Dari Umpling kecil inilah, konon mampu mengundang tuyul-tuyul berdatangan. Maksudnya sih tuyul tetangga — anak tetangga yang masih balita. Sebab, balita atau anak kecil suka sekali sama Umpling buat mainan ~
Ohya, Arik bisa membikin Umpling kayak gini, berkat diajari kakeknya. Dulu, tiap kali hujan turun dan sedang mati lampu, kakeknya sering sekali menggunakan Umpling untuk penerangan darurat.
Umpling memang unik dari segi nama dan bentuk. Bahkan, sudah jarang dijumpai di masyarakat. Kebanyakan masyarakat kini, memilih lilin sebagai penerang darurat. Selain praktis, mudah didapat.
Hebatnya, Arik, bocah kecil yang masih SMP itu, sama sekali tak tertarik dengan lilin. Dia memilih cara yang dinukil dari kakeknya. Mungkin dia ingin mempertahankan tradisi, atau memang gak sempat beli lilin.
Saat hujan lebat dan gelap gulita, dia coba menerangi orang-orang di sekelilingnya menggunakan Umpling. Sebuah laku kecil yang tak hanya mengundang cahaya, tapi membuat orang-orang di dekatnya tertawa.
Saat semua bermunajat dan berdoa, Arik asik sendiri dan tak menghiraukan untuk berdoa. Rupanya dia memilih cara lain dengan hatinya. Yakni merancang Umpling untuk menerangi orang-orang yang sedang berdoa.
Meski dia tak berdoa, melalui Umpling itu dia sudah berjasa besar bagi orang-orang di dekatnya. Meninggalkan doa karena sibuk menyusun cara, memilih jalan sendiri untuk menerangi.
Umpling adalah tradisi lama yang Arik pertahankan demi menerangi orang-orang di sekitarnya. Meski cahaya yang dihasilkan tak terlalu besar, setidaknya dia sudah berupaya.
Umpling, bisa jadi adalah caramu, caraku atau cara siapapun yang sudah berupaya memberi cinta cahaya pada orang lain tapi hasilnya masih amat kecil dan kerap diragukan.
Arik, anak kecil itu, bisa jadi adalah kamu, aku, atau siapapun yang merasa punya keyakinan bisa menerangi dan menghangatkan sesuatu, meski yang dihasilkan masih amat kecil dan cukup mengundang tawa saja.
Ehtapi, bukankah tawa itu sesuatu yang mahal yak?








