Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mesin Kombi dan Analisis Sederhana Masa Depan Dunia Pertanian

Ruri Fahrudin Hasyim by Ruri Fahrudin Hasyim
13/02/2020
in Cecurhatan, JURNAKULTURA
Mesin Kombi dan Analisis Sederhana Masa Depan Dunia Pertanian

Seperti patah hati ataupun putus cinta, kekuatan produksi baru akan diikuti hadirnya pacar baru relasi baru pula. Sehingga buruh tani tak ada lagi. 

Kombi. Nama aslinya adalah Combine Harvester, menjadi alat pemanen padi yang lagi nge-trend hari ini. Entah siapa yang mengawali nyeluk Kombi, barangkali lebih renyah diucapkan dan mudah diingat.

Seiring transformasi pengetahuan di kalangan petani, popularitas Kombi terbawa lewat getuk tular seperti cerita Angling Darmo. Dari mulut ke mulut, lalu menjalar ke warkop-warkop, hingga kebawa nanti pada waktu yasinan, tahlilan, dan arisan.

Tentu saja, penting penulis sampaikan untuk bahan evaluasi bagi perusahaan Kombi ini, yang menurut Bernstein, ia masuk industri kapital input pertanian, agar kedepan bila menamai mesin terbarunya lagi jangan keminggris.

Bagi kawasan pinggir benggawan solo, Kombi menjadi teknologi yang paling mutakhir. Kekuatan produksi baru merupakan anti tesis dari perkembangan sebelumnya, jarene Mbah Marx.

Artinya, daya inovasi Kombi ini berangkat dari alat-alat panen yang sudah digunakan.

Dulu, masyarakat memakai alat tradisional berupa Papan Gebyok, lalu digantikan Erek Padi dengan tenaga kaki (kerjanya dinamai ngedos),  tenaga kaki tadi mula-mula digantikan mesin, yang kemudian dinamai Grentek.

Barang tentu Kombi dinilai lebih terjangkau, karena menghemat tenaga kerja, waktu, dan biaya. Kita bisa bandingkan efesiensi antara Kombi dan Grentek dalam sebuah proses panen.

Misalnya saja mengacu pada sepetak sawah yang memiliki luasan 2500 m2, kata Bapak saya, sawah ini bisa menghasilkan dua ton gabah, asal tidak kebanjiran.

Grentek akan melibatkan 10 buruh, untuk menyabit padi, menggrenteknya, baru mengantongi ke dalam karung-karung. Kinerjanya memakan waktu 7 jam, sehingga pemilik lahan sedianya mengirim sarapan dan makan siang, ples rokoknya tiap satu orang.

Oh iya, ongkos Grentek 500 ribu per-ton maka dua ton menjadi satu juta rupiah. Gabah-gabah lalu ditumpuk di pinggir jalan poros desa, penebas datang dan akan membelinya dengan kisaran harga Rp. 4800 per-kilogram.

Sedang mesin Kombi cukup melibatkan 4 buruh saja. Untuk mobilisasi di tengah sawah sambil menuai padi, merontokkan bulir, dan mengantonginya sekaligus. Hanya perlu waktu 2 jam, barang sekali makan sudah cukup, sarapan saja ples rokoknya.

Biayanya juga lebih terjangkau, Rp 400 ribu per-ton, bila dikali dua menjadi Rp 800 ribu rupiah. Dan satu lagi benefit-nya, hasil panenan lebih bersih sehingga meninggikan harga tebasannya, hingga Rp. 5200 per-kilogram.

Meski analisa sederhana di atas belum dikalkulasi secara matematis, dengan diangan-angan saja sudah cukup kelihatan jika Kombi lebih hemat dan mahal hasilnya.

Inilah yang menjadi alasan mendasar bahwa Kombi semakin diminati dan akhirnya menggeser jasa Grentek, perubahan kondisi teknis ini seperti yang dibilang Pak BJ Habibi, adalah akibat dari gencarnya penetrasi pasar pada komodifikasi pertanian.

Lalu bagaimana nasib petani yang tak berlahan (tunakisma), ataupun berlahan sempit? Untuk tetap survival mereka akan rela menjual tenaganya sebagai buruh tani, termasuk menjadi penyedia jasa Grentek tadi.

Sementara peranan Grentek sudah mulai teraleniasi, sebagaimana lanjutan pendapat Mbah Marx bahwa kekuatan produksi baru akan diikuti oleh relasi yang baru pula, sehingga buruh-buruh Grentek tak lagi dibutuhkan.

Atau, seperti patah hati ataupun putus cinta, kekuatan produksi baru akan diikuti hadirnya pacar baru relasi baru pula. sehingga buruh tani tak ada lagi.

Jika Grentek bisa pesan ke pengrajin besi lokalan,  Kombi hanya bisa dibuat oleh perusahaan besar. Maka hanya petani kaya yang mampu menjangkau berkat dari akumulasi hasil pertaniannya yang melimpah.

Pada akhirnya, penulis mendambakan sebuah paguyuban petani atas dasar kepentingan yang sama, termasuk melindungi kerentanan relasi petani-buruh dari penetrasi pasar bebas.

Lalu mempunyai koperasi sendiri, yang menurut Chayanov, untuk mengalirkan seluruh keuntungan kepada usaha-usaha kecil. Hingga nanti bisa beli mesin Kombi sendiri, yang bisa digunakan secara kolektif.

Ruri Fahrudin Hasyim, mahasiswa progresif yang sesekali ngamati mantan, berkali-kali ngamati dunia pertanian. 

Tags: Mesin KombiPadiPertanian
Previous Post

Sebuah Fragmen tentang Menggenang dan Mengenang

Next Post

Hari Penuh Kasih Sayang bagi Angel Di Maria

BERITA MENARIK LAINNYA

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini
JURNAKULTURA

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri
Cecurhatan

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian
Cecurhatan

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

21/08/2026
Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: