Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Semesta dan Bagaimana Semestinya Manusia Selaras dengan Alam

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
05/09/2020
in Cecurhatan
Semesta dan Bagaimana Semestinya Manusia Selaras dengan Alam

Film Semesta tak hanya bertutur mengenai orang yang semata merawat alam. Tapi juga menawarkan bagaimana menerapkan energi yang baik dan ramah lingkungan.

Bagian terburuk dari meningkatnya populasi manusia adalah semakin banyak pula risiko kerusakan alam. Itu dapat dilihat dari betapa perlu bekerja kerasnya masyarakat Kalimantan untuk mendapat akses udara yang sehat, saat kebakaran hutan.

Dalam dokumenter yang digarap Watchdoc Documentary, dengan mudah kita dapat menyaksikan para penjaja oligarki seperti tanpa ampun memberantas alam. Tentu saja, itu digapai demi meraup keuntungan yang kita tahu juga dinikmati oleh kalangan tertentu.

Ongkos yang perlu dibayar tak main-main. Kasus kebakaran hutan merajalela tiap tahun, dan laut-laut kian tercemari oleh limbah, dan terumbu karang tempat bermukimnya ikan-ikan tak urung remuk.

Alam, kita tahu, memiliki mekanisme sendiri yang tak bisa dikelabuhi. Sedikit saja kita berpaling atau melakukan cela, ia akan menujukan apa yang mesti kita “bayar”.

Kepercayaan demikianlah yang menjadikan film Semesta, sebuah dokumenter yang disutradarai Chairun Nissa di bawah naungan Tanakhir Film yang dikomandoi Mandi Marahimin dan Nicholas Saputra menjadi istimewa dan relevan.

Dengan durasi 1,5 jam kita dibawa menyeksamai Indonesia, yang terwakilkan dalam 7 orang dari kepercayaan dan latar belakang masing-masing, berkelindan dalam sudut pandang “selaras dengan alam”.

Lihatlah, mula-mula kita menemui Umat Hindu di Bali. Ada alasan khusus, mengapa tiap tahunnya diadakan Hari Raya Nyepi. Yaitu, demi memberi jeda bagi manusia untuk kontemplasi juga kesempatan alam untuk bernapas dan melakukan siklus alami.

Atau, di fase kedua di mana Suku Dayak di Kalimantan Barat yang merawat hutan agar tetap lestari.

Secara luas, sejatinya film Semesta tak hanya bertutur mengenai orang yang semata merawat alam. Namun juga menawarkan bagaimana menerapkan energi yang baik, yang ramah lingkungan, bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti tenaga mikrohidro yang dipakai masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur, untuk mengaliri listrik. Ia memanfaatkan alam, yakni aliran sungai di sana.

Selanjutnya, kisah mama-mama Kelompok Waniti Gereja Lokal di Kapatcol Papua Barat yang memilih melakukan Sasi atau larangan pengambilan sumber daya di laut, demi mewujudkan regenerasi biota laut untuk anak cucu kelak.

Kesadaran bahwa alam adalah pengejewantahan prilaku manusia juga tergambar dalam tayangan masyarakat Pameu, Aceh, yang memilih ‘berdamai’ dengan gajah liar yang merusak hasil panen mereka.

Alih-alih melakukan perburuan binatang tersebut, masyarakat justru memilih melakukan doa bersama agar hal tersebut tak berulang. Sebab, orang di sana percaya jika gajah bisa berulah demikian juga tersebab manusia.

Lain halnya dengan penerapan makna Thayyib dalam Islam di sebuah keluarga di Yogyakarta. Mereka mengamalkan gagasan tersebut dengan mewujudkan sistem permaculture.

Yaitu, bagimana mengombinasikan alam dengan manusia dalam bidang pertanian, bisnis, peternakan dan sebagainya. Gagasan ini menjadi khas, sebab tidak berpatokan pada ambisi dan kerakusan.

Malahan fokus utamanya ialah agar tak ada yang berlebih/tersisa dari kegiatan manusia. Pendek kata, menghindarkan kita dari mubadzir dan mendekatkan manusia pada istilah Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Dan bagian akhir film ini ditutup dengan aktivitas Urban Farming di Jakarta. Yaitu, bagaimana orang-orang di kota dapat kembali bercengkrama lewat alam, terutama melalui pertanian dan perkebunan urban.

***

Kita mungkin masih beruntung dapat menghirup nafas di era sekarang, yang sejatinya kondisi alamnya tak baik-baik amat. Namun, itu jauh mendingan ketimbang di masa depan, di masa anak cucu kita nanti, yang mungkin terpaksa membayar lebih untuk menikmati karunia alam yang kita nikmati secara gratis saat ini.

Sebabnya, tentu saja para oligarki yang buta, tuli, dan ignorance terhadap alam yang mengeksploitasinya secara culas.

Kita tentu berharap langkah-langkah yang tertera dalam Semesta mampu mengilhami seluruh elemen manusia. Sebab jika tidak begitu, seperti yang tertera dalam buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner, “Ketika pohon terakhir ditebang. Ketika sungai terakhir dikosongkan. Ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang”.

Tags: AlamFilm SemestaSemesta
Previous Post

Sebuah Memoar: Sains, Sastra dan Nirwan Arsuka

Next Post

Anjay dan Lelucon soal Insecuritas

BERITA MENARIK LAINNYA

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)
Cecurhatan

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal
Cecurhatan

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya
Cecurhatan

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026
Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

24/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: