Ghosting bukanlah fenomena baru. Pada 2018, Gili Freedman (dkk) melakukan penelitian berjudul Ghosting and Destiny: Implicit Theories of Relationship Predict Beliefs About Ghosting.
Kamu kadang tertarik pada seseorang yang kamu rasa cocok denganmu. Kamu merasa terikat dengan orang itu meskipun baru mengenal dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Kamu mendapat keintiman dalam hubungan tersebut dengan sering kontak satu sama lain dan seolah-olah tidak ada yang dapat menghentikan progres kalian berdua.
Namun suatu hari, ketika kamu mengirim pesan ke dia, dia mulai tidak memiliki respon yang sama seperti sebelumnya, tidak replyable. Setiap permintaan untuk bertemu dengannya, tak mendapat respon yang baik, meskipun kamu sudah berupaya maksimal.
Pada akhirnya, dia menghilang, entah ke mana, sosial medianya hilang, rumah atau kosnya pindah, teman-temannya susah menemukannya. Seakan dia tidak pernah hadir di kehidupanmu dan perjumpaanmu dengannya, tak lebih sekadar ilusi semata.
Nah, Nabs, itu namanya ghosting dalam suatu hubungan. Dengan segala keahliannya, dia datang dan pergi entah dari mana dan ke mana.
Ghosting sebenarnya tidak hanya terjadi pada hubungan asmara, melainkan juga terjadi di semua jenis hubungan. Seperti lingkungan organisasi, komunitas, tempat kerja, bahkan teman dekat.
Ghosting bukanlah fenomena baru. Penelitian dilakukan Gili Freedman (dkk) pada Journal of Social and Personal Relationship yang berjudul Ghosting and Destiny: Implicit Theories of Relationship Predict Beliefs About Ghosting pada 2018 menerangkan, seperempat dari seluruh partisipan yang berjumlah lebih dari 100, pernah di-ghosting oleh seseorang setidaknya sekali. Sedangkan 1 dari 5 orang, pernah mengghosting orang lain.
Parahnya, pada perkembangan teknologi komunikasi saat ini, ghosting dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah. Namun untuk kehidupan nyata, orang-orang yang terghosting akan bertanya-tanya, ke mana dia? Apa yang terjadi padanya?
Kenapa ghosting menyakitkan?
Saat kita berada dalam situasi penolakan sosial, pada dasarnya itu sama dengan luka fisik pada tubuh kita. Memperlakukan luka emosi sama dengan luka fisik, setidaknya akan memudahkan kita dalam mengkonsepsikan bentuk luka yang sedang kita rasakan.
Sebagai seorang manusia, kita ingin selalu terhubung dengan orang lain. Seperti keluarga, teman, komunitas, atau di tempat kerja kita. Kita juga mempunyai sistem kontrol sosial diri yang membantu kita merespon berbagai macam konteks pembicaraan dengan lingkungan orang-orang di sekitar kita.
Namun terkadang kita sendiri tidak mengetahui bahwa kita sedang dighosting, hanya saja kita berpikir ini semacam perlakuan diam yang tak terbatas. Sebaliknya, kadang kita menyalahkan diri sendiri, apa yang salah dengan diri kita sehingga seseorang menghilang dari hidup kita lalu kita merasa insecure.
Menerka motif Ghoster
Terkadang, seseorang melakukan ghosting karena mereka merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, baik kondisi maupun seseorang. Mungkin orang ini memiliki kemampuan sosial yang baik.
Namun, karena dia mendapatkan trauma ketika memiliki hubungan dengan orang lain di masa lalu, dia sesegera mungkin kabur dari suatu hubungan karena mendapati tanda-tanda itu ada di seseorang tersebut, sehingga dia segera kabur sebelum dia jatuh ke hamparan luka yang sama.
Sebagai suatu respon, mereka lari begitu saja untuk menghindari masalah. Bagaimanapun, orang dewasa mungkin lebih memilih kabur dari masalah karena merasa tak terlalu punya banyak waktu untuk hal demikian dan lebih memilih sesuatu yang dipikir banyak manfaat untuknya. Namun, jika kamu pernah atau sering melakukan ghosting, coba perhatikan pertanyaan di bawah ini.
Kenapa saya kabur?
Bagaimana perasaan orang tersebut jika saya menghilang?
Bisakah saya membicarakan ketakutan saya pada orang ini?
Dukungan apa saja yang bisa saya dapatkan sehingga tidak membuat orang lain tidak merasa dighosting?
Di sisi lain ada sebagian orang merasa nyaman saja melakukan ghosting atau dighosting oleh seseorang. Contoh mudahnya adalah kita melakukan ghosting kepada seseorang dibalik jubah anonim kita, baik itu dalam aplikasi game online atau aplikasi kencan online, yang bisa kita tinggalkan kapanpun dan di mana pun karena tidak memiliki tanggungjawab sosial di kehidupan nyata daripada ikatan romantis jangka panjang yang tentunya sangat sulit untuk ditinggalkan.
Namun hati-hati, melakukan tindakan ghosting menjadi perihal yang sangat berbahaya karena bisa menjadi kebiasaan buruk dan akan mempertumpul kepekaan sosial kita terhadap situasi, kondisi, maupun perasaan orang lain yang ada di sekitar kita. Sekali kita melakukannya, maka kita akan merasa sah saja melakukan kedua atau ketiga kalinya karena kita mendapati pembenaran yang ada di dalam diri kita untuk melakukan hal itu.
Charles Duhigg, dalam bukunya The Power of Habit mengatakan bahwa sesuatu yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan yang memungkinkan kita kehilangan rasa akan sesuatu atau susah untuk mengubahnya, sehingga menjadi pembenaran di masa depan. Seperti anda membiasakan bangun pagi hari setiap hari akan kesulitan bangun tidur di siang hari.
Ketika ada sesuatu yang menyakiti kita, kita harus mengingat bahwa itu bukanlah refleksi dari diri kita, hanya saja kita masih belum tahu bagaimana kita harus bereaksi terhadap suatu kondisi seperti sedang menjalin sebuah hubungan.
Oleh karena itu alangkah lebih baiknya skeptis terhadap diri sendiri untuk terus belajar cara mengontrol perasaan akan jauh lebih baik ketika melakukan kencan untuk pertama kali daripada setelah menikah.
Namun bagaimanapun juga, tetap jaga sekeliling kita dengan orang-orang terdekat yang selalu mendukung dan kritis terhadap kita agar terus maju sehingga dapat menjadi kontrol sosial diri. Sehingga dapat menghadapi kemungkinan terburuk terhadap situasi sosial di luar sana.








