Diskusi kedua Ekspedisi Naga Api dalam Serial Literasi Geopark ini bukan hanya tentang minyak. Ia adalah tentang kebanggaan yang sempat dicuri, dan upaya panjang untuk mengambilnya kembali. Satu situs pada satu waktu.
Tim Ekspedisi Naga Api bersama pegiat sejarah berkumpul untuk berdiskusi membahas Situs Janjang. Tepatnya pada Minggu (31/5/2016) malam di Okupasi Ruang. Mereka adalah para penjaga memori beratribut pecinta sejarah, pelajar, mahasiswa dan awak media. Sekumpulan warga yang sadar bahwa tanah di bawah kaki ini menyimpan rahasia yang nyaris terlupakan.
Di bawah arahan M. Andrea sebagai moderator, diskusi kedua dalam serial Ekspedisi Naga Api pun dimulai. Kali ini, sorotan tertuju pada satu nama yang mungkin asing di telinga banyak orang: Situs Janjang.
Diskusi ini sebagai upaya kolektif untuk meruntuhkan narasi bahwa minyak bumi di Bojonegoro dan sekitarnya adalah “bawaan” Belanda. Sebaliknya, tim Ekspedisi Naga Api berupaya membuktikan bahwa nenek moyang kita jauh lebih canggih dari yang kita kira.
“Diskusi ini adalah bagaimana kita membicarakan tentang literatur bahwa minyak bumi atau sumber daya minyak bumi itu sudah dikelola sebelum zaman Hindia-Belanda,” ucap M. Andrea selaku ketua Komunitas Bojonegoro History membuka forum diskusi.
Sebuah garis waktu direntangkan, mulai dari Dandangilo di Bojonegoro melintas ke Janjang di Blora. Itulah jejak yang ditempuh tim Ekspedisi Naga Api. Mereka berjalan di atas lapisan-lapisan sejarah yang terkubur, sembari berharap menemukan potongan puzzle sejarah.
Janjang secara administratif masuk Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Janjang bukan sekadar situs arkeologi biasa. Ia berada di puncak Bukit Janjang, Pegunungan Kendeng. Dari sana, jika Anda menghadap ke timur, mata Anda akan bertemu dengan Dandangilo. Lalu, berputar sedikit ke selatan, mata akan menatap daerah Ledok, tempat lahirnya industrialisasi migas di wilayah Blora.
“Nah, posisi Janjang yang sangat strategis inilah yang kemarin kita kunjungi dalam rangka melihat betapa sebelum orang Belanda datang, masyarakat di sekitar situ sudah dolanan minyak. Sudah menggunakan sebagai bahan bakar obor,” jelas Wahyu.
Bojonegoro dan Blora ialah dua wilayah yang kini berada di provinsi berbeda, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sungguh keduanya adalah satu rumpun. Mereka berbagi karakter sosial, psikologi, bahkan nasib yang sama sebagai bagian dari masyarakat Jawa Utara.
“Blora dan Bojonegoro ini berada di satu rumpun sosial yang sama,” tegas Wahyu. “Dan bentuk-bentuk karakter psikologi mereka juga sama.”
Dandangilo di Jawa Timur sebagai “rahim” industri migas Bojonegoro. Sedangkan Ledok di Jawa Tengah sebagai permulaan industrialisasi migas Blora. Janjang sebagai jantung yang menghubungkan keduanya. Tanpa Janjang, mungkin kisah perminyakan di wilayah ini akan sangat berbeda.
“Sebelum diskusi saya harap ini diskusi mengalir. Jadi teman-teman punya perspektif apa tentang minyak, budaya, kondisi sosio-culture dan lain-lain yang ada di wilayah Janjang dan sekitarnya,” kata Andrea.
Diskusi berjalan dalam bentuk dialog langsung. Semuanya mengalir secara organik. Wahyu membuka dengan paparan, lalu peserta menyambut dengan pertanyaan, penambahan, bahkan pengalaman pribadi.
Dari sini, diskusi mengalir ke ranah yang lebih dalam. Wahyu membawa peserta pada sebuah perjalanan intelektual yang dimulai dari catatan sejarah tertua tentang minyak di wilayah itu, yakni tahun 903 Masehi.
“Kita tahunya kan minyak seolah-olah dibawa Belanda ya. Nah, ekspedisi kita ini berusaha (tidak hanya mencari tahu) membuktikan dan mempublikasikan ulang bahwa sejak lama masyarakat Bojonegoro sudah mengenal minyak bumi,” kata Wahyu.
Wahyu kemudian membuka sebuah nama yang jarang terucap: Telang. Itulah sebutan untuk masyarakat Bojonegoro pada masa lampau. Menurut Wahyu, mereka sudah mampu mencari minyak sendiri. Bukan dengan teknologi canggih, tetapi dengan pengetahuan lokal yang diajarkan turun-temurun.
“Cuma karena tidak maksimal, artinya tidak terindustrialisasi, sehingga Belanda datang membawa misi industrialisasi secara besar-besaran dan menghilangkan orang-orang yang dulu mencari minyak dengan tradisional,” jelas Wahyu.
Di sinilah letak tragedi sejarahnya. Bukan karena nenek moyang kita bodoh atau tertinggal. Mereka hanya berkemampuan dalam skala yang berbeda. Kemudian datanglah kolonialisme dengan mesinnya, dengan pabriknya, dengan bukunya yang menulis ulang sejarah—menghapus nama-nama seperti Telang dan menggantinya dengan nama-nama Belanda.
“Sebenarnya, sumur tua itu sumur yang jauh sebelum ada Belanda. Nah, inilah yang dilakukan teman-teman, berusaha membuktikan bahwa mbah-mbah kita dulu itu sudah keren,” tambah Wahyu dengan nada bangga.
Mengapa keberadaan situs Janjang menjadi begitu vital? Jawabannya terletak pada fungsinya, yaitu sebagai pusat sirkulasi pergerakan dan pendistribusian minyak bumi pada waktu itu. Bayangkan ribuan tahun lalu, sebelum Belanda tiba. Para penambang minyak tradisional dari Dandangilo membawa hasil panen mereka hingga sampai di Janjang.
Dari sini, minyak didistribusikan ke berbagai penjuru. Kala itu, minyak bumi digunakan untuk penerangan, pengobatan, ritual dan keperluan sehari-hari lain. Ledok, dengan sumber minyaknya yang melimpah, menjadi salah satu tujuan atau sumber dalam jaringan distribusi.
“Janjang menjadi titik yang sangat penting karena menjadi pusat sirkulasi pergerakan dan pendistribusian minyak bumi pada waktu itu,” simpul Wahyu sebelum mengakhiri materinya.

Di penghujung diskusi, Wahyu menyampaikan sebuah argumen yang menggugah cara berpikir peserta diskusi. Sebuah kata-kata yang bukan sekadar retorika. Sebuah undangan untuk menata ulang cara membaca sejarah.
“Biar bagaimanapun, sumber daya alam yang bagus pasti ada sumber manusia yang bagus. Hanya karena ada konsep yang berbeda, akhirnya seolah-olah tempat dan masyarakat kita ini tertinggal. Ini semua ditujukan untuk menghalau kecerdasan masyarakat lokal,” pungkas Wahyu.
Diskusi di Okupasi Ruang itu berakhir, tetapi perjalanan Naga Api belum usai. Setiap bulan, tim ini akan kembali menapaki jejak-jejak yang nyaris terhapus. Mereka bukan hanya mencari sumur tua atau artefak berkarat. Sejarah kita dimulai jauh sebelum itu. Di suatu tempat bernama Janjang, di mana api dari perut bumi telah menyala ribuan tahun sebelum orang Belanda tahu bahwa api itu ada.








