Suatu sore di Yogyakarta. Hujan baru saja reda. Di sebuah pendapa sederhana yang menghadap kebun singkong dan pepohonan yang masih basah, saya duduk bersama Vandana Shiva. Di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain. Di meja hanya ada teh hangat, beberapa umbi singkong rebus, dan catatan-catatan tentang pendidikan, pangan, serta masa depan desa.
Saya: Dr. Shiva, saya sering berpikir bahwa Indonesia sebenarnya memiliki jalan sendiri menuju kemandirian pangan. Salah satunya melalui singkong. Tanaman ini tahan kekeringan, relatif tahan hama, bisa tumbuh di lahan marjinal, dan dekat dengan kehidupan rakyat kecil. Tetapi banyak orang masih menganggapnya pangan kelas dua.
Vandana Shiva: Itu bukan hanya persoalan Indonesia. Di banyak negara, masyarakat diajarkan untuk mengagumi pangan yang dipromosikan pasar global dan melupakan pangan yang tumbuh di tanah mereka sendiri. Ketika sebuah masyarakat kehilangan penghormatan terhadap tanaman lokalnya, sebenarnya mereka sedang kehilangan sebagian dari kebebasannya.
Saya: Karena mereka menjadi bergantung pada pasar?
Vandana Shiva: Ya. Ketergantungan dimulai dari benih, lalu pupuk, lalu teknologi, lalu distribusi. Pada akhirnya masyarakat tidak lagi mengendalikan sistem pangannya. Singkong yang tumbuh di kebun rakyat mungkin tidak terlihat modern, tetapi ia mengandung sesuatu yang jauh lebih penting: kedaulatan.
Saya: Saya sering membayangkan bahwa singkong dapat menjadi basis industri pangan masa depan. Dengan fermentasi modern, kandungan gizinya bisa ditingkatkan. Dengan penelitian yang tepat, kita dapat menghasilkan berbagai produk pangan baru.
Vandana Shiva: Itulah yang saya sebut inovasi yang berakar. Banyak orang mengira inovasi harus selalu datang dari laboratorium besar atau perusahaan multinasional. Padahal inovasi terbaik sering lahir dari dialog antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern. Pertanyaannya bukan apakah singkong cukup modern. Pertanyaannya adalah: apakah modernitas cukup bijaksana untuk belajar dari singkong?
Saya: Saya bekerja bersama anak-anak. Mereka melakukan riset sendiri tentang berbagai hal: maggot, mentimun, kopi, topeng kardus, bahkan es lumut. Saya percaya pendidikan harus dimulai dari kehidupan nyata.
Vandana Shiva: Itu sangat penting. Anak-anak memiliki hubungan alami dengan keingintahuan. Sistem pendidikan modern sering mengubah keingintahuan menjadi kepatuhan. Ketika seorang anak meneliti maggot atau menanam tanaman, ia tidak hanya belajar sains. Ia sedang belajar bahwa dirinya adalah bagian dari jaringan kehidupan.
Saya: Kadang saya khawatir. Dunia digital semakin kuat. Anak-anak semakin jauh dari tanah, air, dan makhluk hidup.
Vandana Shiva: Karena itu pendidikan ekologis menjadi semakin penting. Anak yang tidak pernah menanam benih akan menganggap makanan berasal dari supermarket. Anak yang tidak pernah menyentuh tanah akan menganggap bumi hanyalah sumber daya. Padahal bumi adalah komunitas kehidupan.
Saya: Anda sering mengkritik pertanian industrial. Banyak orang berpendapat bahwa tanpa sistem tersebut dunia tidak akan mampu memberi makan populasi yang terus bertambah.
Vandana Shiva: Itu mitos yang sangat berhasil dipasarkan. Yang memberi makan sebagian besar manusia di dunia bukan perusahaan agribisnis raksasa. Justru jutaan petani kecil. Masalah terbesar bukan kurangnya produksi pangan. Masalah terbesar adalah ketidakadilan distribusi dan penghancuran sistem pangan lokal.
Saya: Di Indonesia saya melihat petani semakin tua. Anak-anak muda enggan bertani.
Vandana Shiva: Karena selama bertahun-tahun pertanian dipresentasikan sebagai simbol kemiskinan. Padahal petani adalah penjaga kehidupan. Masyarakat yang kehilangan petaninya sesungguhnya sedang kehilangan masa depannya.
Saya: Pemikiran ekofeminisme Anda sering menarik perhatian saya. Bagaimana hubungan perempuan dan alam yang Anda maksud?
Vandana Shiva: Saya tidak mengatakan bahwa perempuan lebih dekat dengan alam secara biologis. Yang saya katakan adalah bahwa dalam banyak masyarakat, perempuan berada di garis depan kehidupan sehari-hari: menyiapkan makanan, mengelola air, menjaga benih, merawat keluarga. Ketika tanah rusak, ketika air tercemar, ketika benih dikuasai korporasi, perempuan sering menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Karena itu perjuangan lingkungan dan perjuangan keadilan sosial tidak bisa dipisahkan.
Saya: Berarti persoalannya bukan hanya ekologis.
Vandana Shiva: Benar. Setiap krisis lingkungan pada akhirnya adalah krisis hubungan manusia dengan kehidupan. Matahari mulai turun. Cahaya keemasan menyentuh daun-daun singkong di tepi kebun.
Saya: Jika Anda harus menyampaikan satu pesan kepada Indonesia hari ini, apa yang akan Anda katakan?
Vandana Shiva: Jangan mencari masa depan dengan meninggalkan akar. Keanekaragaman hayati Indonesia adalah kekayaan yang tidak ternilai. Benih-benih lokal, pengetahuan petani, kebudayaan desa, dan kreativitas anak-anak adalah modal yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Masa depan bukanlah menjadi salinan negara lain. Masa depan adalah menemukan kembali kekuatan yang sudah ada di tanah sendiri.
Saya: Dan jika saya harus memulai dari satu langkah kecil? Vandana Shiva tersenyum sambil mengambil sepotong singkong rebus.
Vandana Shiva: Tanamlah sesuatu. Ajak seorang anak mengamatinya tumbuh. Lalu dengarkan cerita yang muncul dari sana. Perubahan besar sering dimulai dari benih yang dianggap terlalu kecil untuk diperhatikan.
Hujan telah berhenti sepenuhnya. Di antara aroma tanah basah dan singkong rebus, percakapan itu terasa seperti pengingat sederhana: bahwa masa depan mungkin tidak selalu lahir dari teknologi yang paling canggih, tetapi dari kemampuan manusia untuk kembali membangun hubungan yang sehat dengan tanah, pangan, dan sesamanya.








