Waktu dalam kerelatifan manusia berjalan linier lurus-lurus saja, bukan spiral pegas berliku penuh drama-konflik naik-turun berputar-putar.
Waktu dalam narasi Mimpi-mimpi Einstein, fiksi karya Alan Lightman, dibedakan menjadi dua: waktu mekanis dan waktu tubuh. Waktu mekanis sebagaimana yang dijalani manusia 24 jam sehari, 7 hari sepekan, dan 12 bulan setahun. Manusia melintas dan berjalan di dalam waktu tersebut dengan tanpa bisa menghentikan dan menginterupsi. Waktu ini bersifat mutlak.
Selanjutnya tentang waktu tubuh. Tubuh dengan akal-pikiran sebagai koordinator utama, mempunyai kuasa dalam merencanakan, mengendalikan, menentukan, dan melaksanakan apa-apa yang diinginkan manusia selama dalam lautan waktu.
Bangun hingga tidur lagi, manusia memiliki otonomi masing-masing dalam menjalani dan mengisi kehidupannya. Tentu dengan demikian, berjalannya waktu ini berbeda-beda bergantung dengan masing-masing manusianya. Waktu menjadi relatif. Relativitas itu bergantung dengan kemampuan manusia mengendalikan manusia, bukan sebaliknya.
Dua ribu dua puluh, yang telah berpisah sebelas hari, memiliki dua makna sesuai pendekatan di atas. Sebagai konsep waktu mekanis, dua ribu dua puluh, telah paripurna dan sempurna menjalankan perannya sebagai lautan waktu yang terbentang dari hari pertama hingga hari tiga ratus tiga puluh enam. Tanpa interupsi, koreksi, dan reduksi.
Dua ribu dua puluh dalam kerelatifan manusia berjalan dengan linier lurus-lurus saja, bukan spiral pegas berliku penuh drama-konflik naik-turun berputar-putar.
Dua ribu dua puluh berjalan layaknya pengemudi masuk ke jalan bebas hambatan: Jalan lurus, tanpa rintangan, cepat, hingga begitu tidak terasa sudah sampai di ujung. Akibatnya manusia memiliki memori kolektif yang relatif sama.
** **
Sejarah umat manusia berjalan dengan interaksi konflik-kreatif antara challenge berupa tantangan, masalah, dan ancaman dengan tanggapan atau respons mengatasinya.
Interaksi ini berlangsung terus-menerus dimungkinkan karena dimilikinya akal-budi. Ujungnya adalah terwujudnya budaya dan kebudayaan.
Faktor lain yang menunjang keberlangsungan perjalanan kehidupan umat manusia adalah adanya solidaritas antarmanusia. Solidaritas ini semakin tertata dan terpola dalam sebuah bentuk komunitas-serikat dalam beraneka wujud dan namanya.
Dengan serikat yang dibuat manusia, kepentingan dan kebutuhan bersama dapat diusahakan dan diperjuangkan bersama. Cita-citanya adalah solidaritas dan kebersamaan.
Akal-kebudayaan dan organisasi-solidaritas menjadi jembatan manusia dalam berjalan melintas waktu. Bahkan dengan kegilaannya, manusia terobsesi untuk menginterupsi waktu: memprediksi masa depan dan mereka-ulang masa lalu.
Di tahun yang masih serba abu-abu di tengah pandemi, manusia dipacu untuk memproduksi kebudayaannya untuk mampu, sekali lagi, mengatasi persoalan virus.
Di sisi yang lain, solidaritas antarmanusia global harus senantiasa diasah, bahwa krisis kemanusiaan adalah krisis global. Dengan keduanya yang diupayakan terus-menerus, wajah masa depan kemanusiaan akan tetap cerah.
Lantas, apa hubungannya dengan sebelas januari? Tulisan ini tidak ada hubungan apapun judul dengan ini. Kalaupun ada, hanyalah satu hal: tulisan ini dibuat pada tangggal 11 Januari. Dua nol dua satu.








