Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
25/04/2026
in Cecurhatan
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ilustrasi: ajian penyirepan

Waktu menunjukkan pukul 12.45 malam. Suasana begitu sunyi saat dua sosok lelaki berjalan mengendap-endap, menjaga jarak aman di balik kegelapan. Mereka bergerak dari arah selatan, melintasi tanah bengkok dan menembus hamparan semak belukar menuju utara. Meski perlahan, gerak-gerik mereka menyimpan tekad yang bulat.

Tujuan mereka hanya satu: sebuah rumah joglo besar yang berdiri kokoh tepat di sebelah utara tanah bengkok. Pemiliknya adalah Mbah Joyo Sedono, sosok sesepuh desa yang dikenal kaya raya. Malam itu, Kasmuri dan Sarijan telah membuang rasa takut mereka.

Warga desa sebelah itu datang dengan niat gelap untuk menyatroni kediaman sang sesepuh, berharap membawa pulang secercah keberuntungan yang bisa mereka berikan kepada anak dan istri.

Malam itu: Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, keberuntungan berada di utara dan timur. Begitu menurut petungan orang Jawa Kuno yang tertulis dalam naskah-naskah primbon. Sebagai pencuri profesional, Kasmuri dan Sarijan hafal betul petungan semacam itu. Tak lupa, keduanya melengkapi dirinya dengan berbagai ajian yang acapkali di miliki para maling, semacam Aji Welut Putih dan Sirep Begananda.

Setelah rumah Mbah Joyosedono tampak di depan mata, Kasmuri dan Sarijan segera duduk bersila. Mereka melaflakan Aji Sirep Begananda secara bersamaan;

“Hong ingsun amatak ajiku sirep begananda kang ana indrajit, kumelun nglimuti ing mega malang, bul peteng dhedet alimengan upas racun daribesi, pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara, kang katempuh jim setan peri prayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes wuta tan bisa krekat, blek sek turu kepati saking kersane Allah ”

”Hong saya berniat melafalkan ajian sirep begananda, milik Sang Indrajit, menyembur di mega yang melintang. Bul, gelap gulita diliputi racun berbisa daribesi, Tertutup rapat, buntu, kabur, kacau balau, berlalu-lalang karena datangnya panah yang sakti. Siapa pun yang terkena—baik itu jin, setan, peri, prayangan, gandarwa, hingga manusia sekalipun—tak urung akan ambruk lemas, buta, tidak bisa bergerak. Seketika jatuh tertidur sangat pulas atas kehendak Allah.”

Keduanya lantas menepuk tanah di hadapan mereka sebanyak tiga kali. Tak butuh waktu lama, daya magis ajian itu mulai bekerja, merayap masuk ke setiap sudut ruangan. Seluruh penghuni rumah Mbah Joyosedono seketika terlelap. Tidur yang amat pulas.

Namun, mantra itu mental di hadapan Mbah Joyo. Sang sesepuh tetap terjaga, seolah tak tersentuh oleh ilmu sirep serendah itu. Ia hanya berbaring tenang sembari menatap langit-langit kamar. Sebagai putra Demang Loceret yang masyhur akan kesaktiannya, Mbah Joyo memang bukan orang sembarangan.

Sepanjang hidupnya, ia karib dengan berbagai laku tirakat; bicara seperlunya, jarang tidur, dan memiliki kesabaran setebal baja. Meski hartanya melimpah, hidupnya bersahaja. Perutnya hanya diisi satu lepek nasi dan segelas kopi setiap harinya. Bahkan urusan berpakaian pun sangat sederhana—memiliki dua pasang baju, satu melekat di badan, dan satunya lagi sedang dicuci.

—0—

Pintu yang terkunci tak lebih dari persoalan kecil bagi keduanya. Dalam hitungan menit, mereka telah berada di dalam rumah, menyisir ruangan, menemukan apa yang mereka cari; Televisi, Radio, dan segepok uang.

“Cepat,” bisik Kasmuri.

Namun saat keduanya berbalik hendak pergi, sesuatu yang tak mereka duga terjadi.

Di ujung ruangan, Mbah Joyo telah berdiri. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya—melambai pelan.

“Masuklah,” kata lelaki tua itu lembut.

Aneh. Tidak ada kekuatan yang terlihat, bukan kekuatan fisik—lebih seperti perasaan yang tak bisa dijelaskan. Kedua pencuri itu merasa kaki mereka berat, seperti ada sesuatu yang menahan mereka untuk tetap di tempat.

Mereka saling pandang. Bingung. Ragu. Tapi mereka menuruti.

Di ruang tengah, telah tersedia makanan hangat. Nasi, lauk sederhana, dan dua cangkir kopi yang masih mengepul.

“Duduklah. Kalian pasti lapar,” ujar Mbah Joyo.

Mereka duduk. Kikuk. Seperti anak kecil yang tertangkap mencuri buah, tetapi justru diberi makan oleh pemilik kebun. Sendok pertama terasa berat. Bukan karena makanan itu keras, melainkan karena rasa bersalah. Dalam waktu kurang dari 15 menit, semua hidangan itu telah berpindah ke perut Karmuri dan Sarijan.

“Ambillah itu semua,” ujar Mbah Joyo, menunjuk barang-barang yang mereka kumpulkan. “Bawa pulang. Keluarga kalian menunggu.”

“Kenapa… Anda tidak marah?” tanya Sarijan.

Mbah Joyo tersenyum, menatap keduanya dengan mata yang dalam.

“Marah adalah milik mereka yang merasa memiliki segalanya,” katanya pelan. “Sedangkan aku… hanya dititipi.”

Kedua pencuri itu terdiam.

“Tugas pencuri adalah mencuri,” lanjutnya, “kalian juga hanya sekadar menjalankan peran.”

“Peran?” tanya Kasmuri, bingung.

“Setiap orang berjalan di jalannya masing-masing?” kata Mbah Joyo. “Ada yang diberi jalan sebagai pedagang, petani, penguasa… dan ada pula yang berjalan di jalan seperti kalian.”

Sunyi jatuh di antara mereka berdua.

“Sudahlah,” kata Mbah Joyo lagi, ringan. “Bawalah barang-barang itu.”

“Apa?”

“Bawalah. Untuk keluarga kalian. Agar mereka tersenyum malam ini.”

“Tapi… ini milik Anda.”

“Tidak ada yang benar-benar milikku,” jawab Mbah Joyo. “Hari ini di tanganku, besok mungkin di tangan orang lain. Dunia ini hanya tempat singgah, bukan tempat memiliki.”

Kata-kata itu seperti menembus sesuatu dalam diri mereka. Sesuatu. Mereka bangkit. Canggung. Tak berani menatap lama. Barang-barang itu tetap mereka bawa, tapi langkah mereka tidak lagi sama seperti saat datang. Ada beban yang berat. Bukan lagi beban curian, tapi perasaan yang menggelayut.

—0—

Beberapa hari berlalu.

Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Kasmuri dan Sarijan berdiri di depan rumah Mbah Joyo. Kali ini, tanpa sembunyi-sembunyi. Mereka mengetuk pintu.

Mbah Joyo membukanya, seolah sudah tahu kedatangan mereka.

“Kami datang untuk mengembalikan semuanya,” kata Sarijan, suaranya bergetar. “Dan… jika Anda berkenan… kami ingin berguru kepada anda.”

Mbah Joyo memandang mereka—seperti seorang petani melihat benih yang mulai tumbuh.

“Belajar apa?” tanyanya lembut.

“Belajar menjadi manusia,” jawab mereka hampir bersamaan.

Mbah Joyo tersenyum. Tanda bahwa ia menerima mereka sebagai murid.

Tags: Humor dan Hikmah Santri
Previous Post

Di Antara Piring dan Kekuasaan

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 
Cecurhatan

‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 

22/04/2026

Anyar Nabs

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 

‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 

22/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: