Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Jurnalektika 3: Ngabuburit Membahas Cinta, Pertanian dan Cecurhatan

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
01/05/2021
in Cecurhatan
Jurnalektika 3: Ngabuburit Membahas Cinta, Pertanian dan Cecurhatan

Banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa. Salah satu di antaranya dengan berjurnalektika.

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, jurnelaktika ketiga bersama seorang petani muda yang juga pengagum Gus Dur plus memiliki kegemaran mancing, Suharno namanya.

Mewah tak perlu megah atau sesuatu yang menurut orang lain “wah”. Kemewahan hidup apabila rajin bersyukur. Begitulah ungkap petani muda asal Pangkalanbun, Kalimantan Tengah tersebut. Saya bertemu dengan petani beruisa 18 tahun itu di sebuah gubuk yang berada di Cianjur, Jawa Barat.

Pemilik nama kecil Muhammad Irfan Fauzi itu, senantiasa ceria. Diamnya saja mengundang tawa, apalagi tingkahnya, wqwqwq. Namun, Nabs, selain Suharno atau yang biasa dipanggil Harno gemar menghibur kawan-kawan, tetapi ia juga terkenal dengan sifatnya yang rajin, tidak suka menunda-nunda pekerjaan, pekerja keras, dan suka salawatan.

Di usianya yang masih muda, ia memiliki banyak harapan ihwal dunia pertanian di Indonesia wabilkhusus di Pula Borneo, Kalimantan. Pelajar plus petani yang masih duduk di sebuah SMK Muhammadiyah di Pangkalanbun itu sedang belajar plus menyelami agribisnis, tanaman pangan, dan hortikultura atau ATPH.

Siapa sih, sebenarnya sosok kelahiran 2 November 2002 tersebut? Biar Nabsky tidak penasaran sila simak Jurnalektika berikut ini.

Selamat sore Suharno. Apa kabar? Selamat menunaikan ibadah puasa. Hmm.., kira-kira apa yang melatar belakangi Suharno tertarik dengan dunia pertanian?
Sore, Mas. Alhamdulillah sehat, luar biasa, hu ha. Saya tertarik dengan pertanian karena menarik perhatian. Aslinya tidak suka, aslinya nganu, terpaksa. Sebelumnya, ingin mengambil jurusan farmasi, karena saya agak takut dengan jarum suntik maka tidak jadi, xixixi. Selain terpaksa, memilih pertanian juga karena dorongan orang tua. Awalnya terpaksa sih, namun lama kelamaan setelah mengetahui dunia pertanian, jadi jatuh cinta. Karena di dalam pertanian, ada ilmu alamnya dan juga berhubungan dengan pangan yang berkaitan dengan hidup orang banyak, begitu.

Bagaimana pandangan Harno terkait dunia pertanian di 2021?
Pandangan mengenai dunia pertanian, kayaknya semakin surut khususnya di beberapa daerah yang ada di Kalimantan. Karena di sana, terjadi alih fungsi lahan. Lebih banyak perkebunan sawit. Di Kalimantan Tengah jarang ditemui lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman pangan seperti padi, sayuran, dan lain sebagainya. Lebih banyak sawitnya, sih. Dan sayuran-sayuran di Pangkalanbun kebanyakan impor.

Baik, kira-kira mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Karena di Pangkalanbun, kebanyakan orang-orang beranggapan bahwa berkebun lebih menguntungkan dari pada bertani. Padahal kan, pertanian kayak hortikultura, tanaman hias, sayuran ini kan lebih bermanfaat. Tetapi di sana lebih mementingkan sawit, karet, dan pertambangan khususnya itu aspal.

Apakah dengan adanya perkebunan dan pertambangan yang seperti sekarang ini, memberikan kesejahteraan bagi warga Kalimantan dan sekitarnya, khususnya di masyarakat sekitar tempat tinggalmu?
Menurut saya sendiri sih tidak. Karena suatu saat pekerja-pekerja itu kan merasa bosan, soalnya kalau perkebunan itu kan jangka panjang, tidak setiap hari panen. Saya rasa, apabila lebih menelateni budidaya sayuran (organik) hasilnya lebih melimpah dari pada sawit. Sayuran biasanya satu bulan sekali bisa panen, kalau sawit kan sebelum panennya itu, ada proses pemupukan, peruningan, dan tidak selalu berbuah, jadi kurang optimal jika dibandingkan dengan sayuran, kalau yang telaten budidaya sayuran (organik) sebenarnya lebih menguntungkan, hehe.

Selain itu, apa dampak dari adanya perkebunan yang terjadi karena alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke perkebunan?
Kalau ditanami sawit itu kan, lahannya jadi kering. Kan dianalisis kan, kalau tidak salah, sawit itu kan satu harinya membutuhkan 5 liter air. Kebanyakan diperoleh dari air tanah. Jadi di sana itu kering dan hal itu beberapa kali menyebabkan kebakaran lahan. Dan rata-rata, tanahnya di sana basa. Dalam jangka panjang akan merugikan khususnya pada kesuburan tanah.

Pernahkah terngiang dalam pikiran Harno, mengapa masyarakat Kalimantan lebih banyak menanam sawit?
Karena pemikirannya sih, menurut saya. Soalnya pemikiran manusia berbeda-beda to, Mas. Nah, umumnya sih orang tua menanam sawit kelihatan enak, gitu. Soalnya habis itu menanam, terus mupuk, tinggal menunggu beberapa bulan, terus beberapa tahun terus meruning, terus mupuk, ya gitu-gitu aja perawatannya, kemudian nganu, memanen buahnya. Habis panen harus dipupuk dulu, harus kuat pupuknya juga, gitu. Pupuknya berbahan kimia juga yang dipakai itu, gak organik. Sehingga menimbulkan pencemaran terhadap air, udara, dan tanah.

Oh, ya. Sebenarnya, apa sih yang membuat Suharno semangat dalam hal bertani?
Pokoknya jangan gampang menyerah, terus berdo’a, habis itu selalu mensyukuri apa yang diberikan Allah. Dan jangan pernah durhaka kepada orang tua karena do’a ibu menyertai kita. Di pertanian, terdapat nilai-nilai itu, maka dari itu saya semangat dalam hal bertani.

Menurut Suharno, perlukah petani-petani muda belajar bahasa Inggris, komputer, dan ngaji?
Kalau di sekitar tempat tinggal saya, program pengembangan seperti bahasa Inggris, komputer, dan ngaji itu minim sekali, kurang. Dan belajar bahasa Inggris, komputer, dan ngaji penting sih, menurutku. Karena petani dulu dengan sekarang berbeda (masanya). Belajar bahasa Inggris penting banget, misalnya kita bertemu dengan orang luar negeri, kita bisa ngobrol dengan bahasa Inggris. Komputer juga bisa digunakan sebagai media pemasaran, khususnya hasil pertanian agar pemasarannya lebih efektif. Membuat catatan melalui komputer, jadi tidak lagi di kertas, takutnya hilang, wkwkwk.

Bagaimana pengalaman kegiatan bertani Suharno di daerah asal?
Kalau saya juga belajar di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Tempatnya di dekat pesisir. Karena minimnya akses pendidikan di daerah pesisir, P4S hadir. Kebanyakan di sana itu bedeng kemudian di sekitarnya ada parit, jadi bedeng, parit, bedeng, dan parit. Emm, parit berfungsi untuk mengaliri sekitar bedeng dan tentunya menyediakan air. Nah, disana kan ada air laut, jadinya kalau masuk (tercampur) tidak baik bagi tanaman. Mengakibatkan tanaman kerdil, dan kebanyakan apabila terkena air laut akan mati. Disana lahannya luas, namun masih kurang dalam hal pasca panen (pemasaran) seperti pengemasan sayuran yang menarik. Di P4S, saya dan kawan-kawan menanam cabai, Solanum melongena (terong), dan lain sebagainya. Juga belajar beternak sapi, budidaya ikan, dan tanaman pangan kayak Zea mays (jagung).

Oh, ya. Kalau menurut Suharno, bagaimana pandangan Suharno tentang literasi dan pentingkah literasi wabilkhusus untuk kaum tani (muda)?
Menurut saya, literasi itu kalau tidak salah, mengulang. Maksudnya mengulang apa yang diajarkan. Kayak literasi sekolah itu kan, habis baca buku itu juga kegiatan literasi. Namun literasi tidak hanya membaca buku. Misalnya, kita belajar mengenai literasi pertanian, tetapi kita juga harus bisa membudidayakan. Bukan hanya sekadar teori, melainkan praktik juga.

Oke. Matoh. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Suharno mengidolakan Gus Dur?
Karena perjuangannya. Karena Gus Dur, dia itu senantiasa salat terus, hahaha. Kemudian humoris, dan saya sangat suka dengan syi’ir yang dinyanyikan ataupun yang diciptakan oleh Gus Dur. Habis itu, perkataannya sakti gitu, mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh orang lain. Selain itu, saya juga suka kata-kata Gus Dur dan rasa kemanusiaannya yang tinggi.

Adakah quote yang Harno jadikan pengingat?
Ada. Tak perlu bergaya, cukup berkarya dan berusaha. Wasseeek .

Baik. Sekarang, silakan gambarkan dirimu dengan 3 kata!
Sendiri, rajin, dan sabar. Dimanapun kita harus sabar, misalnya sabar dalam menghadapi realita kehidupan, sabar ketika ditinggal pas lagi sayang-sayange, dan juga sabar ketika mengalami percintaan yang bertepuk sebelah tangan, wkwkw.

Oke. Jawablah dengan santai beberapa pertanyaan yang saya berikan. Pakcoy atau kailan?
Pakcoy

Padi atau kapas?
Padi

Hitam atau putih?
Hitam

Sawit atau tembakau?
Tembakau

Pembangunan atau pertanian?
Pertanian

Pertanyaan terakhir, apakah ada hubungannya ritual keagamaan dengan lingkungan?
Ada.

Untuk menutup jurnalektika yang ketiga ini, sila, Harno beri closing statement!
Jadilah petani yang tidak angkuh, tangguh, dan tidak mudah menyerah.

Tags: Isu AgrariaJurnaletika JurnabaPertanian
Previous Post

Keikhlasan Tingkat Tinggi Syeikh ash-Shonhaji saat Menulis Kitab

Next Post

Dua Jam Sebelum Kapal Tenggelam

BERITA MENARIK LAINNYA

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian
Cecurhatan

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

17/05/2026
Kecil Itu Indah
Cecurhatan

Kecil Itu Indah

16/05/2026
Anak Macan Wall Street
Cecurhatan

Anak Macan Wall Street

15/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

17/05/2026
Kecil Itu Indah

Kecil Itu Indah

16/05/2026
Anak Macan Wall Street

Anak Macan Wall Street

15/05/2026
Bebersih Data Warga, Pemkab Bojonegoro Minta ASN Cek ke Lapangan

Bebersih Data Warga, Pemkab Bojonegoro Minta ASN Cek ke Lapangan

14/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: