Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Perempuan-perempuan Hebat Pengurus PBNU dan Isu Gender Bangsa yang Harus Ditangani

Intan Setyani by Intan Setyani
15/01/2022
in Headline, Peristiwa
Perempuan-perempuan Hebat Pengurus PBNU dan Isu Gender Bangsa yang Harus Ditangani

Masuknya nama-nama perempuan di kepengurusan PBNU, tak hanya mencetak sejarah baru. Tapi juga menunjukan betapa NU sangat memahami masalah bangsa saat ini.

Banyak kabar-kabar seliweran tidak mengenakan, seperti yang kita tahu dan baca di media massa. Beberapa pengasuh Pondok Pesantren menjadi pelaku kekerasan seksual pada santri-santrinya. Mirisnya, sampai hari ini keadilan belum memihak korban.

Kondisi ini cukup memperihatinkan untuk adik, anak, saudara atau kita semua. Kita tahu bahwa pesantren dan lembaga pendidikan tempat agung untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Idealnya ini menjadi tempat bersih dari segala bentuk kejahatan, dosa, kezaliman dan kerabatnya itu. Tapi, yang kita temui hari ini, ini sungguh berbeda dan menyeramkan.

Nabs, kra-kira apa yang tidak beres dengan kejadian ini?

Lembaga pendidikan tidak sepenuhnya menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk perempuan belajar di dalamnya. Banyak perempuan menjadi korban kekerasan seksual.

Kondisi ini tentu membikin para perempuan geram dan marah besar. Kabar tidak mengenakan ini hadir selama bertahun-tahun. Negara tak kunjung hadir melindungi korban.

Nabs, di tengah kejengkelan dan kemarahan dan keinginan untuk menghajar para pelaku itu, ada kabar baik datang dari organisasi raksasa — dengan akar menghujam bumi dan pohon tembus langit —- Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam kepengurusan teranyar, NU menghadirkan sosok-sosok perempuan sebagai pengisi tempat-tempat strategis. Ini tentu sebuah terobosan luar biasa. Mengingat, sejak didirikan, ini kali pertama NU menghadirkan sosok perempuan sebagai pengurus inti.

Selain sebuah terobosan, ini merupakan pengakuan luar biasa pada perempuan. Pengakuan tentang betapa berperannya perempuan pada pembangunan peradaban manusia.

Ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) bersama Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar telah umumkan daftar pengurus PBNU periode 2022-2027 di Jakarta, Rabu 12 Januari 2022 lalu.

Ada 47 nama pengurus PBNU masa khidmat 2022-2027. Ini diharapkan dapat mengcover seluruh kepentingan konstituen PBNU serta mencerminkan realitas multipolar yang ada di Indonesia, baik dari segi kedaerahan maupun dari perspektif gender.

Ini kali pertamanya, semenjak Nahdlatul Ulama didirikan tahun 1926, PBNU diisi pengurus perempuan. Perempuan dimasukkan dalam struktural kepengurusan. Ini menjadikan PBNU semakin berwarna dan berwajah baru.

Dalam kepemimpinan Gus Yahya, perempuan diberi ruang dan dipercaya berperan aktif masuk jajaran Tanfidziyah, sebagaimana visi Gus Yahya untuk menghidupkan Gus Dur.

Dengan cara memberi ruang pada perempuan untuk bergerak dan berperan aktif seperti halnya laki-laki inilah, menunjukan nilai-nilai yang diyakini Gus Dur bisa hidup kembali.

Sejujurnya, secara umum, Nahdlatul Ulama memang tidak pernah membatasi peran perempuan di dalam berorganisasi. Namun, sejauh ini, hampir diusianya yang seabad, kepengurusan inti di PBNU belum pernah ada perempuannya.

Tentu saja ini sangat mengukir sejarah baru tentang NU yang telah mencatatkan perempuan di jajaran Tanfidziyah. Kalau di Suriyah mah biasa perempuan dilibatkan.

“Sejak awal didirikan sebenarnya tidak ada pembatasan di PBNU. Sekarang tokoh perempuan dimasukkan karena memang ada kebutuhan yang mendesak,” ucap Gus Yahya saat membacakan susunan pengurus PBNU melalui akun youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya menyebutkan, ada masalah-masalah besar terkait isu perempuan. Karena itu, ada sejumlah nama-nama perempuan tangguh dan kuat yang dimasukan jajaran struktural, seperti Ibu Khofifah Indar Parawansa hingga Ibu Alissa Wahid.

Sepakat dengan apa yang disampaikan Bu Lies Marcoes dalam tulisannya, kalau di Suriyah memang bukan hal tabu perempuan ada di dalamnya. Untuk pengurus Tanfidziyah yang selama ini dianggap sebagai jabatan politik maskulin, ini tentu menjadi sebuah lompatan besar.

Bagaimanapun, menurut saya, ada isu gender di dalam sebuah organisasi yang cukup memiliki sayap. Perempuan selama ini ditempatkan di dalam organisasi khusus “perempuan” seperti Fatayat dan Muslimat.

Dan kalaupun sekarang perempuan ditempatkan dan mendapat posisi di organisasi induknya yang dianggap organisasinya laki-laki itu, ini menjadi gebrakan dan dobrakan. Pemikiran dan ide perempuan sudah selayaknya dihargai dan didengarkan.

Selain Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa (Ketua PBNU), Nyai Hj Alissa Qatrunnada Wahid (Ketua PBNU) yang masuk dalam kepengurusan, ada banyak nama perempuan yang masuk dalam kepengurusan Tanfidziah. Diantaranya seperti;

Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz (Mustasyar PBNU), Nyai Hj. Shinta Nuriyah A Wahid (Mustasyar PBNU), Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid (Mustasyar PBNU), Nyai Hj. Nafishah Ali Maksum (A’wan PBNU), Nyai Hj. Badriyah Fayumi (A’wan PBNU), Nyai Hj. Faizah Ali Sibromalisi (A’wan PBNU), Nyai Rahmayanti (Wakil Sekretaris Jenderal PBNU), Nyai Hj Ida Fatimah Zainal (A’wan PBNU), Nyai Hj. Masriyah Amva (A’wan PBNU).

11 tokoh perempuan inilah yang mengisi dan akan memberikan warna baru di PBNU selama beberapa tahun mendatang. Lihatlah, betapa hebatnya NU. Nahdlatul Ulama memang harus hebat dan menghebati.

Artinya, masuknya perempuan di PBNU memang seharusnya tidak hanya dijadikan pelengkap kepengurusan, pemanis apalagi tamu di ruang publik melainkan sebagai kebutuhan utama dalam hidup bersama.

Keberadaan perempuan-perempuan hebat di tubuh PBNU, diharap mampu menyadarkan betapa istimewanya perempuan di mata PBNU. Selaras dengan itu, bermacam masalah patriarki, semoga kian mudah ditangani.

Membangun bersama Islam yang semakin ramah, menjawab PR dan tantangan NU ke depan dalam menyelesaikan persoalan. Satu lagi NU agaknya juga memiliki tugas besar memberantas kejahatan mantan kemanusiaan bangsa.

Tags: Gus Yahya PBNUPengurus PBNUPerempuan PBNU
Previous Post

Mbah Nizar Qabbani, Penyair Bucin Maqom Hakekat

Next Post

Janji: Sebuah Film Pendek untuk Ginan Koesmayadi

BERITA MENARIK LAINNYA

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro
Peristiwa

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

24/05/2026
TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih
Peristiwa

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

22/05/2026
Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  
Peristiwa

Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

22/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026
Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

27/05/2026
Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

27/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: