Imagine Promosindo merupakan Event Organizer nasional yang melegenda. Tak banyak yang tahu jika pendirinya adalah pemuda asal Bojonegoro.
Nama Imagine Promosindo identik sebagai EO berkelas nasional yang meng-handle bermacam giat-giat acara besar. Mulai konser musik hingga bermacam event berskala nasional dan internasional. Namanya tak pernah ketinggalan jika menyebut EO besar.
Imagine Promosindo tak hanya menghelat konser musik. Tapi juga membawahi sejumlah unit lain seperti Rima Audiosystem, Bona TV, dan sejumlah agency promotor konser hingga event planer lainnya. Ini yang menjadikan Imagine Promosindo bisa melintasi bermacam zaman.
Tapi, belum banyak yang tahu jika sosok besar di balik berdirinya EO raksasa tersebut adalah pemuda asli Bojonegoro. Beberapa hari lalu, Jurnaba.co berkesempatan ngobrol panjang dengan sang pendiri Imagine Promosindo, Amir Syaifuddin.
Meski saat ini berdomisili di Kota Malang, Amir lahir dan tumbuh besar di Kota Bojonegoro, dan menjadi bagian dari daftar panjang nama-nama Orang Bojonegoro Sukses di Luar Kota, yang saat ini sedang dihimpun secara serius tim Jurnaba Institute.
Kepada Jurnaba, pria 39 tahun itu bercerita banyak tentang perjalanan karir membangun Imagine Promosindo, sebuah jenama yang mengantar ingatan kita pada konser besar di bermacam kota-kota di Indonesia.
“Kami memulainya (Imagine Promosindo) sejak 2005 silam”. Kata Amir pada Jurnaba.
Pria kelahiran 1982 itu berkisah, menjalankan EO besar tentu bermula dari sesuatu yang kecil. Itu yang dia alami dan lakukan. Pada 2005, dia bersama tim membangun EO dengan konsep seadanya. Namun, segala pelayanan tetap dilakukan secara maksimal dan profesional.
Bertahun kemudian, Imagine Promosindo mulai dikenal publik dan memperlebar cakrawala peran di berbagai event konser berkelas Nasional. Nama Imagine Promosindo mulai tertempel di berbagai panggung besar di Indonesia.
Namun, Amir berkisah jika badai tsunami kebangkrutan juga sempat diterimanya. Itu terjadi pada 2009 ketika Imagine Promosindo berusia 4 tahun. Usaha yang dia bangun mengalami kebangkrutan luar biasa besar.
“Itu sampai membuat saya sempat merasa alergi dan trauma dengan EO” kata Amir mengenang.
Tapi karena dia yakin bahwa rizkinya memang di dunia EO, pelan-pelan Imagine Promosindo mulai kembali merangkak dari bawah. Tepatnya pada 2011, Imagine Promosindo menemukan momentum untuk kembali terbang menggelar backdrop panggung.
Sejak 2011 itulah, nama Imagine Promosindo kembali berkibar dan terus bergeliat di dunia hiburan Indonesia. Tak hanya menggelar konser, bahkan bermacam event outdoor di beberapa kota juga mampu dia dan tim handle.
Amir bercerita jika menjalankan EO tak semudah yang dibayangkan. Sebab, setiap saat selalu dihadapkan dengan bermacam potensi resiko yang tak kecil. Tapi, hal itu membuatnya belajar lebih peka dan lincah untuk bergerak dan melompat dari event ke event.
Amir mengatakan, esensi dari bisnis EO profesional adalah menjalankan mandatory klien. Meski terkesan sekadar menjalankan, resiko yang mengancam juga cukup besar. Terutama dalam hal kebutuhan yang tak terduga.
Hal itu, menurut Amir, terjadi di event-event lapangan berbasis outdoor. Terutama konser musik, opening ceremony, hingga pesta keolahragaan yang melibatkan stadion besar. Dimana kebutuhan tak terduga juga banyak bermunculan.
Dia mencontohkan, misal purchase order dari klien hanya A-K, tapi ternyata, yang haru dicover harus A-Z. Itu sangat butuh penanganan khusus. Dan mau tak mau harus dikerjakan pihaknya. Sebab, dia dan tim bertanggung jawab penuh.
“Sementara ini (masing-masing poin) melibatkan bnyak pihak, kita harus tetap tanggung jawab”. Ungkapnya.
Dia bercerita, pada 2008, dia dan tim ikut menyelesaikan tour musik rock di Bandung. Acara itu dihelat tepat seminggu setelah tragedi besar Beside (yang menewaskan 11 orang) di gedung Asia Afrika terjadi. Tentu itu sangat sulit sekali, terutama soal perizinan.
“Dan itu kami harus ekstra keras agar acara tetap berlangsung”. Kenangnya.
Hal-hal semacam itu menjadi pengalaman menarik yang cukup mendewasakan dia dan tim dalam bermacam perhelatan event. Sebab, di tiap kesulitan yang dia dan tim terima, selalu ada cara dan metode baru untuk bisa dipelajari.
Lebih jauh Amir menceritakan, resiko besar tentu mengandung profit yang juga besar. Sebab, seberapa profit yang didapat, bergantung dari seberapa besar tanggung jawab yang diemban. Meski, dia juga mengakui bahwa pandemi sangat berdampak bagi berjalannya roda bisnis.
“Kita kalau sebelum pandemi memang surga. Dan saat pandemi, kita langsung beradaptasi”. Imbuhnya.
Saat ini, kata dia, hampir semua lini bisnis bergerak di era digital. Begitupun bisnis EO yang dia jalankan. Sebab, digitalisasi sangat membawa dampak.
Saat ini semua tak ada yang fisik.
“Semua pembayaran tiketing pakai platform online. Dan itu memudahkan gerak bisnis kita”. Kata dia.
Amir berpesan pada generasi muda Bojonegoro bahwa selalu ada mimpi di tiap kesulitan. Di saat yang sama, selalu ada harapan yang menyertainya. Hanya, ada mimpi yang satu langkah harus dipercepat geraknya.








