Akhir ini sentimentasi selalu kita jumpai di sekitar, khususnya di kalangan remaja. Mengapa hal itu terjadi?
Sentimen timbul akibat kurangnya memahami keragaman sikap dan organisasi suatu perguruan yang telah ada. Bahkan tidak hanya faktor itu, kadang faktor ekonomi, rupa, keterbatasan fisik pun turut mendukung jalannya sentimentasi tersebut.
Maksud sentimen tersebut, dapat diartikan sebagai suatu pendapat berupa pandangan yang melibatkan perasaan yang berlebih-lebihan, memunculkan sikap rasa iri, dendam, yang menguntungkan hanya mementingkan pribadi dan acuh akan kondisi sekelilingnya.
Kejadian ini sering dirasakan dikalangan mahasiswa yang kurang beruntung dalam segi pencapaian nilai, finansial juga segi fisiknya yang terbatas. Seakan, ia dikucilkan dalam berteman karena tidak se-frekuensi denganya. Kondisi ini, jika dijadikan budaya sangatlah miris sekali. Karena, tidak mengedapankan nilai sosial dan perasaan, padahal sejatinya manusia itu saling membutuhkan.
Entah apa yang dipikirkan, mungkin hanya mencari populer ataupun ia gengsi. Di tengah keberagaman organisasi perguruan yang beraneka ragam, mungkin itu salah satunya jadi penyebab, karena dari beranggapan yang tidak seorganisasi menjadikan hanya satu aliran saja. Tetapi, di luaran itu banyak sekali, salah satu pemikiran itu hanya dapat dijumpai seseorang yang masih berfanatik di lingkup tersebut.
Memang kita boleh mencari dan memilah dalam berkawan yang nantinya kelak akan menjadi jembatan memperluas wawasan keintelektuan. Seperti halnya ada kata pepatah jawa yang terpopuler “Sopo seng gembulan bakol minyak yo melu keno wangine, sopo siro gembul tukang pande yo keno ambu sangite.” Namun, di samping itu harus mengedepankan sosialnya dan perasaan agar tidak melukai.
Korban dari sentimentasi dalam berkawan, biasanya akan timbul rasa malas, karena apa, karena dia-nya tidak punya teman yang dapat diajak bicara. Kita sebagai mahasiswa, jika menemukan kejadian seperti ini maka kita wajib iba kepada hal tersebut, khususnya dikalangan mahasiswa yang menjurusnya ke pendidikan. Jika kebiasaan masih dijadikan budaya, maka nanti terjunnya di masyarkat ya seperti itu.
Karena kita sebagai pendidik, kita wajib santun dalam bersosial dan menghormati saling tegur sapa, baik itu laki atau perempuan itu semua sama, dan tidak membedakan itu merupakan suri tauladan yang harus dikunci.
Nah karena apa hal di atas, tidak lain karena mengandung ibadah. Yang sulit justru, hubungan antar sesama manusia (hablum minannas), karena ini menyangkut hati dan perasaan, maka harus saling membantu, dan hormat, karena saudara se-umat dan se-muslim dan se-manusia. Kalau kita hanya berfakum pada segi mengkaji kitab sana sini, itu juga penting. Karena itu bekal. Tapi, itu semua katakanlah hanya teori.
Segi pengaplikasianya itu di umat, karena kita terjun di umat langsung dari kesadaran tersendiri, spontan tanpa ada yang menyuruh. Semua itu ibadah sosial, jika tidak terbiasa ya sulit. Inilah yang harus digaris bawahi sebagai PR kita.
Sikap sentimen dalam berkawan, akan menimbulkan ketidakrukunan teman satu dengan teman yang lain. Dan pastinya akan menimbulkan perpecah belahan, bila sikap ini dalam artian berlebihan.
Adapaun cara kita bisa merasakan suatu yang dialami dalam menangkal sentimentasi dalam berkawan, dengan kita langsung terjun langsung sharing-sharing diajak ngobrol, menjunjung keberagaman toleransi, menjaga sikap ramah tamah, dan yang paling penting menyadari bahwa perbedaan itu unsur yang sudah wajar. Dan jangan lupa, menempatkan rasa cinta kasih sesama, serta tidak ada diskriminasi dalam berkawan.
Penulis adalah Mahasiswa PAI UNUGIRI Bojonegoro.








