Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menangkal Sentimen dalam Berkawan, Memang Bisa?

Cahyo Raharjo by Cahyo Raharjo
27/04/2022
in Cecurhatan
Menangkal Sentimen dalam Berkawan, Memang Bisa?

Akhir ini sentimentasi selalu kita jumpai di sekitar, khususnya di kalangan remaja. Mengapa hal itu terjadi?

Sentimen timbul akibat kurangnya memahami keragaman sikap dan organisasi suatu perguruan yang telah ada. Bahkan tidak hanya faktor itu, kadang faktor ekonomi, rupa, keterbatasan fisik pun turut mendukung jalannya sentimentasi tersebut.

Maksud sentimen tersebut, dapat diartikan sebagai suatu pendapat berupa pandangan yang melibatkan perasaan yang berlebih-lebihan, memunculkan sikap rasa iri, dendam, yang menguntungkan hanya mementingkan pribadi dan acuh akan kondisi sekelilingnya.

Kejadian ini sering dirasakan dikalangan mahasiswa yang kurang beruntung dalam segi pencapaian nilai, finansial juga segi fisiknya yang terbatas. Seakan, ia dikucilkan dalam berteman karena tidak se-frekuensi denganya. Kondisi ini, jika dijadikan budaya sangatlah miris sekali. Karena, tidak mengedapankan nilai sosial dan perasaan, padahal sejatinya manusia itu saling membutuhkan.

Entah apa yang dipikirkan, mungkin hanya mencari populer ataupun ia gengsi. Di tengah keberagaman organisasi perguruan yang beraneka ragam, mungkin itu salah satunya jadi penyebab,  karena dari beranggapan yang tidak seorganisasi menjadikan hanya satu aliran saja. Tetapi, di luaran itu banyak sekali, salah satu pemikiran itu hanya dapat dijumpai seseorang yang masih berfanatik di lingkup tersebut.

Memang kita boleh mencari dan memilah  dalam berkawan yang nantinya kelak akan menjadi jembatan memperluas wawasan keintelektuan.  Seperti halnya ada kata pepatah jawa yang terpopuler “Sopo seng gembulan bakol minyak yo melu keno wangine, sopo siro gembul tukang pande yo keno ambu sangite.” Namun, di samping itu harus mengedepankan sosialnya dan perasaan agar tidak melukai.

Korban dari sentimentasi dalam berkawan, biasanya akan timbul rasa malas,  karena apa, karena dia-nya tidak punya teman yang dapat diajak bicara.  Kita sebagai mahasiswa, jika menemukan kejadian seperti ini maka kita wajib iba kepada hal tersebut,  khususnya dikalangan mahasiswa yang menjurusnya ke pendidikan. Jika kebiasaan masih dijadikan budaya, maka nanti terjunnya di masyarkat ya seperti itu.

Karena kita sebagai pendidik, kita wajib santun dalam bersosial dan menghormati saling tegur sapa, baik itu laki atau perempuan itu semua sama, dan tidak membedakan itu merupakan suri tauladan yang harus dikunci.

Nah karena apa hal di atas, tidak lain karena mengandung ibadah. Yang sulit justru, hubungan antar sesama manusia (hablum minannas), karena ini menyangkut hati dan perasaan, maka harus saling membantu, dan hormat, karena saudara se-umat dan se-muslim dan se-manusia. Kalau kita hanya berfakum pada segi mengkaji kitab sana sini, itu juga penting. Karena itu bekal. Tapi, itu semua katakanlah hanya teori.

Segi pengaplikasianya itu di umat, karena kita terjun di umat langsung dari kesadaran tersendiri, spontan tanpa ada yang menyuruh. Semua itu ibadah sosial, jika tidak terbiasa ya sulit. Inilah yang harus digaris bawahi sebagai PR kita.

Sikap sentimen dalam berkawan, akan menimbulkan ketidakrukunan teman satu dengan teman yang lain. Dan  pastinya akan menimbulkan perpecah belahan, bila sikap ini dalam artian berlebihan.

Adapaun cara kita bisa merasakan suatu yang dialami dalam menangkal sentimentasi dalam berkawan, dengan kita langsung terjun langsung sharing-sharing diajak ngobrol, menjunjung keberagaman toleransi, menjaga sikap ramah tamah, dan yang paling penting menyadari bahwa perbedaan itu unsur yang sudah wajar. Dan jangan lupa, menempatkan rasa cinta kasih sesama, serta tidak ada diskriminasi dalam berkawan.

Penulis adalah Mahasiswa PAI UNUGIRI Bojonegoro.

Tags: PersahabatanSentimen Berkawan
Previous Post

Bersiaplah Jatuh Cinta dengan Menulis, Lewat Tiga Hal Berikut!

Next Post

Puasa dan Tanda-tanda Hadirnya Rasa Cinta

BERITA MENARIK LAINNYA

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis
Cecurhatan

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

12/10/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

20/10/2026
Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

19/10/2026
Api Abadi Singgah di Trucuk, Kali Pertama dalam Sejarah Kirab Hari Jadi Bojonegoro

Api Abadi Singgah di Trucuk, Kali Pertama dalam Sejarah Kirab Hari Jadi Bojonegoro

18/10/2026
Kirab Api Abadi: Singgah ke Bengawan, Merawat Keseimbangan Pembangunan

Kirab Api Abadi: Singgah ke Bengawan, Merawat Keseimbangan Pembangunan

17/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: