Survei kolaboratif antara Good News From Indonesia (GNFI) dengan perusahaan riset Populix memberi pemahaman baru tentang optimisme generasi muda terhadap dunia pendidikan dan kebudayaan.
Berbeda dengan hasil survei tahun sebelumnya yang mendapatkan nilai tertinggi pada dimensi kebutuhan dasar, tahun ini skor tertinggi ada pada dimensi pendidikan dan kebudayaan. Dalam dimensi ini, “kuliner Indonesia dapat diterima dunia” memiliki skor tertinggi, yaitu 9,04. Lebih tinggi dibandingkan dengan keyakinan anak muda mampu berkontribusi pada pengembangan IPTEK yang mendapatkan skor 8,00 poin.
“Anak-anak mdua Indonesia sangat bangga terhadap budayanya, termasuk percaya bahwa kuliner kita punya potensi untuk dapat dikenal oleh dunia. Sementara di bidang IPTEK tidak seyakin itu. Mungkin, generasi muda Indonesia saat ini merasa sains kita tidak kuat dan belum mampu berinovasi. Boleh dibilang ini adalah stereotype, tapi ini menjadi persepsi anak-anak muda Indonesia dalam sektor pendidikan dan kebudayaan.” papar Timothy.
Survei ini juga mengungkapkan mayoritas responden terlihat lebih optimis dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan gizi pada pasangan dan anak, dibandingkan pemenuhan gizi seimbang diri sendiri. Tingkat optimisme ini berbeda dengan dimensi Ekonomi & Kesehatan, di mana bagi responden mahasiswa dan yang belum bekerja, memiliki tingkat optimisme yang rendah untuk terserap di dunia pekerjaan.
“Sebagai anak muda, kami sebenarnay optimis punya kesempatan untuk berkembang. Namun tingginya optimisme ini butuh rangkulan dalam mendorong perkembangan tersebut baik dari segi pendidikan, budaya dan juga wawasan. Terutama dalam memeroleh pengetahuan dan pendidikan, kami merasa banyak akses yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, jadi kami lebih mudah mengeksplor pendidikan secara lebih baik, untuk mengembangkan wawasan dan skill set agar bisa berkompetisi di dunia kerja maupun prestasi lainnya,” ungkap Rinaldi Nur Ibrahim, Founder Youth Ranger Indonesia, sebuah komunitas pengembangan diri yang beranggotakan ribuan anak-anak muda, terutama generasi Z.
Di sisi lain, responden merasa resah dengan kondisi media sosial, di mana etika bermedia sosial dilihat masih akan menjadi masalah di masa depan.
“Pada 2020 lalu, semua orang terpaksa hidup di ruang digital. Tidak heran kalau semua orang jadi gagap. Secara kultural, masyarakat kita secara offline bisa membangun harmoni, tetapi begitu ada ruang digital yg di dalamnya orang bisa tampil secara anonim, mereka bisa menembus ruang-ruang digital dan batas-batas kultural. Di ruang digital kita bisa jadi siapa saja, sehingga bisa menjadi sangat tidak sopan,” tutur Devie Rahmawati, Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia.








