Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Di Antara Embargo dan Martabat

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
07/04/2026
in Cecurhatan
Di Antara Embargo dan Martabat

antara embargo dan martabat

Di banyak tempat, agama sering menjadi jalan menuju keselamatan pribadi. Tentang pahala. Tentang surga. Tentang nasib individu. Tetapi di Iran, agama sering dipahami sebagai panggilan untuk bertahan bersama—bahkan jika harus berkorban.

Siang itu, udara terasa lebih tenang dari biasanya di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (Pak Beye). Tidak ada pidato resmi. Tidak ada panggung kenegaraan. Hanya sebuah pertemuan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan lapisan-lapisan makna yang mungkin baru akan terasa bertahun-tahun kemudian.

Seorang duta besar dari Iran datang membawa sebuah kitab. Bukan dokumen diplomatik. Bukan pula proposal kerja sama militer atau ekonomi. Ia membawa Qur’an. Kitab itu kemudian disodorkan kepada Muhammad Zainul Majdi, seorang ulama yang dikenal tenang, teliti, dan terbiasa membaca teks dengan kesabaran seorang guru pesantren.

Ia membuka halaman demi halaman. Huruf demi huruf. Ayat demi ayat. Dan akhirnya, ia mengangkat wajahnya. Isinya sama. Persis sama. Tidak ada perbedaan. Tidak ada versi lain. Tidak ada “Qur’an Iran” seperti yang selama ini dibisikkan dalam berbagai prasangka yang beredar diam-diam di ruang-ruang percakapan umat. Momen itu sunyi, tetapi terasa seperti retakan kecil pada tembok panjang yang dibangun oleh ketakutan, rumor, dan propaganda.

antara embargo dan martabat

Beberapa jam kemudian, percakapan panjang berlangsung dalam sebuah studio rekaman. Selama hampir satu setengah jam, Gita Wirjawan duduk berhadapan dengan seorang profesor Iran: Mohammad Marandi. Bukan debat. Lebih mirip pengakuan.
Profesor itu tidak memulai dengan statistik atau teori geopolitik.

Ia memulai dengan kisah pribadi—tentang bagaimana ia tumbuh dalam dunia yang selalu memandang negaranya dengan kecurigaan. Tentang bagaimana sebuah bangsa bisa diisolasi bukan hanya oleh embargo ekonomi, tetapi oleh sesuatu yang jauh lebih halus dan lebih kejam: narasi.

Narasi, katanya, adalah senjata yang tidak terlihat. Ia tidak menghancurkan bangunan. Ia menghancurkan persepsi. Selama hampir setengah abad, Iran hidup di dalam bayang-bayang cerita yang ditulis oleh pihak lain—cerita tentang negara yang berbahaya, radikal, dan tidak rasional. Cerita itu diulang di media, di ruang akademik, di forum internasional. Dan perlahan-lahan, dunia mempercayainya.

Ironisnya, embargo ekonomi mungkin melukai tubuh sebuah bangsa. Tetapi narasi—narasi yang terus diulang—melukai martabatnya. Dan luka martabat, seperti yang kita tahu dari sejarah panjang bangsa-bangsa, sering kali jauh lebih sulit disembuhkan.

Namun ada satu bagian percakapan yang terasa menggantung. Sebuah kata kunci yang hanya disentuh sekilas, lalu dibiarkan mengambang di udara. Karbala. Asyura. Pengorbanan Imam Hussein.
Nama Hussein ibn Ali muncul seperti bayangan panjang dari abad ke-7—bayangan yang masih hidup dalam kesadaran kolektif bangsa Iran hingga hari ini. Ia bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol. Simbol tentang seorang cucu Nabi yang memilih mati daripada tunduk pada kekuasaan yang dianggap tidak adil. Simbol tentang keberanian untuk kalah secara fisik, tetapi menang secara moral.

Di Iran, cerita itu tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia menjelma menjadi etos nasional. Menjadi bahasa politik. Menjadi alasan untuk bertahan. Mungkin di situlah perbedaan yang paling halus—dan paling menentukan—antara dua dunia Islam yang sama-sama membaca kitab yang sama.

Di banyak tempat, agama sering menjadi jalan menuju keselamatan pribadi. Tentang pahala. Tentang surga. Tentang nasib individu. Tetapi di Iran, agama sering dipahami sebagai panggilan untuk bertahan bersama—bahkan jika harus berkorban. Bukan selalu benar. Bukan selalu ideal. Tetapi nyata.

Ketika Prof. Marandi ditanya tentang hubungan negaranya dengan Rusia dan Tiongkok, jawabannya terdengar diplomatis. Terlalu diplomatis, mungkin. Ia tersenyum. Ia memilih kata dengan hati-hati. Ia tidak mengkritik. Tetapi juga tidak memuji.
Di balik kesantunan itu, tersirat sesuatu yang lebih jujur: bahwa dalam politik internasional, tidak ada sahabat abadi—hanya kepentingan yang kebetulan sejalan. Sejarah mengajarkan hal itu berulang kali. Dan bangsa yang terlalu percaya pada sekutu sering kali menjadi korban pertama dari perubahan arah angin geopolitik.

Iran bukan bangsa yang makmur seperti negara-negara petrodollar di Teluk. Embargo panjang membuat ekonominya rapuh, infrastrukturnya tertatih, dan rakyatnya harus belajar hidup dalam keterbatasan. Namun ada sesuatu yang tetap mereka jaga—sesuatu yang tidak bisa diembargo. Harga diri.

Mereka mungkin tidak kuat dalam angka-angka ekonomi. Tetapi mereka kuat dalam keyakinan bahwa bertahan adalah bentuk perlawanan. Sementara di tempat lain, kekayaan minyak membangun gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan mewah, dan kota-kota yang berkilau seperti kaca. Indah. Megah.

Tetapi kadang terasa rapuh—seperti istana kertas yang berdiri di atas fondasi narasi. Karena pada akhirnya, seperti yang diam-diam disampaikan dalam percakapan panjang itu, kekuatan terbesar sebuah bangsa bukanlah senjata, bukan uang, dan bahkan bukan teknologi.

Melainkan cerita yang mereka yakini tentang diri mereka sendiri. Dan mungkin itulah sebabnya, bagi sebagian orang, podcast itu terasa seperti diskusi geopolitik. Bagi sebagian lainnya, ia terasa seperti kuliah sejarah. Tetapi bagi Anda—dan bagi saya—ia terasa seperti sebuah puisi panjang.

Tags: Catatan Toto RahardjoEmbargo IranMakin Tahu Indonesia
Previous Post

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

Next Post

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

BERITA MENARIK LAINNYA

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi
Cecurhatan

Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi

05/04/2026
Transportasi Publik: Tulang Punggung yang Terlupakan
Cecurhatan

Transportasi Publik: Tulang Punggung yang Terlupakan

03/04/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: