Kita hidup di zaman ketika bencana sudah bisa diprediksi, tetapi kerusakan tetap dianggap takdir. Padahal takdir sering hanyalah kesalahan yang diulang terlalu lama.
Langit belum benar-benar retak, tetapi para ilmuwan sudah membaca guratan halus di permukaannya—seperti dokter yang mengenali demam bahkan sebelum kening terasa panas. Para peramal cuaca di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menatap grafik-grafik yang bergerak pelan, garis-garis tipis yang naik beberapa derajat, lalu mengangguk dengan wajah yang tidak panik, namun juga tidak tenang.
Mereka menyebutnya dengan nama yang sudah lama akrab namun selalu terasa asing: El Niño. Seperti tamu lama yang setiap kali datang selalu membawa kabar duka, tetapi tetap disambut karena tak ada pintu yang cukup kuat untuk menahannya di luar.
Sinyalnya sudah terlihat sejak April.Masih samar—seperti asap tipis di kejauhan yang oleh sebagian orang disebut kabut, oleh sebagian lain disebut peringatan. Hingga Maret, laut dan angin masih bersikap netral. Tidak marah, tidak juga bersahabat. Namun para ahli tahu, alam jarang memberi tanda tanpa maksud.
Baca Selengkapnya: Catatan Toto Rahardjo, Pinisepuh Jurnaba
Semester kedua 2026 diperkirakan menjadi panggungnya. Kemarau akan datang lebih cepat, dan ketika datang, ia tidak akan tergesa pulang. Ia akan duduk lama di beranda desa, mengeringkan sumur-sumur, memecahkan tanah sawah seperti piring yang jatuh dari tangan ibudi dapur yang kehabisan air.
Agustus, September, Oktober—tiga bulan yang biasanya hanya nama di kalender sekolah, akan berubah menjadi musim ujian bagi petani, bagi hutan, bagi kota-kota yang terlalu percaya pada hujan. Seorang petani menatap langit dengan cara yang berbeda dari para ilmuwan. Ia tidak punya grafik. Ia hanya punya tanah yang retaknya bisa ia sentuh dengan telapak tangan. Ia tidak menyebutnya anomali iklim. Ia menyebutnya “padi yang tidak jadi”.
Di tempat lain, hutan-hutan menunggu seperti gudang mesiu yang dikelilingi percikan kecil. Satu puntung rokok, satu musim yang terlalu kering, satu kebijakan yang terlambat—cukup untuk menyalakan neraka yang asapnya akan menyeberang pulau, menyeberang negara, dan akhirnya menutup paru-paru anak-anak yang tidak pernah menyalakan api.
Kita menyebutnya karhutla dengan nada administratif, seolah itu sekadar singkatan. Padahal di balik huruf-huruf itu ada burung yang kehilangan sarang, orangutan yang kehilangan pohon, dan bayi yang belajar batuk sebelum belajar berjalan.
Negara selalu berkata: “Waspada.” Kata itu diulang di rapat-rapat, di spanduk-spanduk, di layar televisi yang berkedip tanpa henti. Namun kewaspadaan sering berhenti sebagai slogan. Ia tidak menjelma menjadi embung.
Tidak berubah menjadi hutan yang dijaga. Tidak menjadi kebijakan yang berani menolak pembakaran lahan meskipun keuntungan sedang menunggu di ujung kontrak.
Kita hidup di zaman ketika bencana sudah bisa diprediksi, tetapi kerusakan tetap dianggap takdir. Padahal takdir sering hanyalah kesalahan yang diulang terlalu lama. Kemarau 2026 mungkin belum datang, tetapi bayangannya sudah berjalan di depan kita— panjang, kurus, dan membawa jeriken kosong. Ia mengingatkan kita pada kearifan yang sederhana, yang pernah hidup di mulut para leluhur: jangan mengambil lebih dari yang mampu ditanggung bumi.
Karena bumi bukan gudang tanpa dasar. Ia hanya rumah—dan rumah yang terus dirampas akan suatu harimeminta kembali segala yang pernah kita ambil darinya.








