Mbah Menden bukan sekadar punden cikal bakal desa. Tapi secara ilmiah, jadi penanda peradaban Islam era Wali Songo.
Jejak dakwah Sunan Bonang di wilayah Menden (Blora) bukan sekadar dongeng. Tapi terbukti ilmiah melalui temuan artefak makam kuno bernisan Batu Putih Klastika (Batu Wali). Dan sekumpulan Batu Putih berbentuk kotak persegi, serta gurat tipis inskripsi Arab yang menggambarkan prasasti dakwah era Wali Songo.
Dusun Menden, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, memang identik legenda pertempuran antara Sunan Bonang dan Blacak Ngilo. Legenda, secara ilmiah, memang bukan bukti primer sejarah. Tapi ia punya fungsi sebagai pelengkap alur kisah.
Di Desa Menden, tepatnya di Goa Sentono, masyhur lokasi pertarungan antara Blacak Ngilo dan Sunan Bonang. Dalam legenda ini, Blacak Ngilo diceritakan sebagai veteran Majapahit yang jadi tokoh antagonis, karena suka membuat rusuh. Sementara Sunan Bonang datang menemuinya untuk mengajaknya bertaubat.
Seperti dikisahkan Cariyosipun Banawi Sala (1918), adu kesaktian pun tak bisa dihindari. Sebelum pertempuran dilakukan, mereka berdua membuat kesepakatan. Jika Blacak Ngilo kalah, ia akan menjadi murid Sunan Bonang, begitupun sebaliknya. Dan di Goa Sentono, pertempuran sengit antara keduanya pun terjadi.
Dongeng diakhiri dengan kekalahan Blacak Ngilo. Sunan Bonang berhasil mengalahkan Blacak Ngilo beserta para pengikutnya. Dongeng pun berhenti pada kekalahan Blacak Ngilo. Hampir semua dongeng yang membahas Blacak Ngilo dan Sunan Bonang, mayoritas berhenti pada kekalahan Blacak Ngilo.
Bagaimana Blacak Ngilo bertaubat dan menjadi seorang muslim taat, tak pernah diceritakan sama sekali. Padahal, para Wali punya tradisi menobatkan lawan dan menjadikannya murid. Tradisi ini dikenal dengan “Santri Telukan”. Tradisi yang punya sanad musalsal. Sebab, pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW pada Khalid bin Walid. Sama seperti dilakukan Sunan Bonang pada Mbah Blacak Ngilo.
Mbah Menden, Bukti Peradaban Islam
Di Desa Menden, tepat di belakang lokasi Pasar Menden, terdapat sebuah lokasi keramat yang dikenal Makam Panjang (makam Mbah Menden). Jaraknya yang hanya sekitar 1 km dari lokasi Goa Sentono, sempat diindikasikan sebagai makam dari tokoh Mbah Blacak Ngilo.

Sejauh ini, lokasi makam Mbah Menden tak pernah terjamah manusia. Ia dikenal sebagai tempat keramat sekaligus punden yang cukup dijauhi. Walhasil, lokasi di tengah sawah bengkok desa itu, hanya jadi rumbuk angker yang dipenuhi tanaman liar setinggi orang dewasa.
Pada Sabtu, 18 Mei 2024, masyarakat sekitar Dusun Menden beserta para sesepuh desa melakukan bersih-bersih di sekitaran keramat Mbah Menden. Tak dinyana, di lokasi tersebut ditemui banyak bukti ilmiah akan adanya pusat peradaban Islam.
Lokasi yang puluhan bahkan ratusan tahun tak dijamah manusia itu, memang tak terawat. Namun, di bawah belukar tanaman liar, justru ditemui sejumlah makam. Jajaran makam kuno bernisan Batu Putih Klastika (Batu Wali). Identitas nisan Islam Pesisir periode 1501 – 1600 M (abad 16 M).
Nisan-nisan bermotif yang terbuat dari Batu Putih (Batu Wali) tersebut, juga dilengkapi inskripsi huruf Arab yang secara samar masih bisa terlihat. Di dekat nisan, bahkan ditemui cukup banyak artefak Batu Putih berbentuk kotak persegi bekas prasasti, yang mengindikasi papan informasi khas Islam pesisiran abad 16 M.

Nisan beserta artefak yang ditemukan di Menden, terbuat dari jenis batuan yang sama persis dengan jirat dan nisan Sunan Bonang di Tuban. Yakni Batu Putih, batu khas peradaban Islam Pesisir abad 16 M. Melalui sejumlah nisan makam kuno ini, dakwah Sunan Bonang di Menden benar-benar terbukti empiris.
Dakwah Sunan Bonang di wilayah Menden (Blora), bukan sekadar dongeng. Meski, dongeng juga punya peran penting sebagai pengawet cerita. Keberadaan Sunan Bonang di Menden, justru terbukti ilmiah melalui artefak makam kuno bernisan Batu Putih, serta inskripsi Arab yang menggambarkan era dakwah Wali Songo.
Makam Mbah Menden yang berada tepat di belakang Pasar Menden, secara empiris membuktikan bahwa Islam telah berkembang di Menden sejak periode 1501 M. Tepat di era dakwah Sunan Bonang. Tentu ini dibuktikan dari nisan Batu Putih, beserta gurat inskripsi Arab yang sudah aus.
Banyaknya artefak Batu Putih berbentuk kotak persegi, serta gurat inskripsi Arab yang samar terbaca, memberi informasi penting bahwa Islam komunal telah dikenal di wilayah Menden sejak periode Wali Songo. Ini menunjukan jejak dakwah Islam era Sunan Bonang di wilayah Blora Selatan tersebut.
Meski dimulai sejak abad 16 M, peradaban Islam komunal di Menden bertahan cukup lama. Hingga abad 19 M, kawasan Menden diperkirakan masih jadi pusat peradaban Islam. Ini tampak dari sebaran Batu Putih serta bermacam jenisnya motif artefak dan nisan yang ada di wilayah tersebut.
Mbah Menden bukan sekadar punden cikal bakal desa. Tapi jadi penanda ilmiah akan peradaban Islam era Wali Songo. Secara empiris, makam Mbah Menden juga menjadi bukti otentik akan keberadaan pusat dakwah Islam periode Wali Songo di kawasan itu.
Makam Mbah Menden jadi bagian penting dari rantai sanad peradaban Islam yang berlangsung secara urut di Nagari Jipang. Mbah Menden merupakan pelanjut peradaban Islam era Mbah Jipangulu (periode akhir 1400 M), Santri Songo Jipang (periode awal 1400 M), hingga Mbah Jimatdil Kubro Tebon (periode 1300 M).








