Suwuk Padangan dikenal sebagai tradisi Islam yang bukan sekadar teknik pengobatan, tapi juga metode interaksi dengan alam, dan upaya menghadapi masalah kehidupan.
Padangan Bojonegoro, dikenal sebagai kawasan yang dihuni para mualif yang memproduksi sejumlah kitab (manuskrip) keilmuan. Pembatas Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah itu, juga masyhur akan Suwuk Mujarobat sebagai tradisi Islam yang memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat akar rumput.
Dari ratusan judul kitab terdapat dalam Manuskrip Padangan, tema Risalah Suwuk memiliki peranan penting sebagai pelengkap dari kitab-kitab fan keilmuan Fiqih, Tauhid, Tasawuf, Aqidah, Mushaf Quran, hingga tentu saja Ilmu Alat (Nahwu-Shorof). Suwuk berperan sebagai instrumen sosial dalam dakwah Ulama Padangan.
Suwuk Padangan, mayoritas ditulis menggunakan perpaduan huruf Arab – Jawi (Pegon). Namun, huruf Pegon Padangan memiliki corak yang sedikit berbeda dengan huruf pegon hari ini. Perbedaan itu, tampak dalam kaidah penulisan huruf vokal dan konsonannya. Pegon Padangan ditulis lebih sederhana, tapi lebih rumit saat dibaca.
Baca Juga: Padangan, Tanah Kontemplasi Para Begawan
Instrumen doa dan air sudah sangat terkenal di Padangan sebagai medium sugesti pengobatan. Ini tercatat sejak abad 19 M. Artinya, ratusan tahun sebelum ilmuwan Jepang bernama Masaru Emoto melakukan eksperimen Molekul Kristal Air (2003), Masyarakat Padangan sudah lebih dulu menguasai kaidahnya.
Manuskrip Padangan membuktikan, Suwuk berperan sebagai jembatan penghubung antara para Ulama Padangan dengan masyarakat sekitar. Catatan dari abad 19 M itu, menunjukan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang ketika masyarakat menghadapi masalah kehidupan.
Di wilayah Padangan, Suwuk bukan sekadar teknik pengobatan. Namun metode penanganan masalah hidup yang dialami masyarakat. Mulai dari masalah perdagangan, peternakan, keuangan, hingga masalah keharmonisan keluarga. Ini seperti tercatat dalam lembar-lembar Manuskrip Padangan.

Secara etimologi bahasa, Suwuk berasal dari Bahasa Sanskerta yang memiliki arti “berhenti”. Dalam makna yang lebih baru, Suwuk juga memiliki kepanjangan: sumingkire wujud kangkolo (menyingkirnya perihal buruk). Semua makna di atas, bermuara pada harapan akan berhentinya sebuah malapetaka.
Konsep Rabbaniyah
Karena lahir dari tradisi Ulama, Suwuk tentu mengusung konsep Tauhid Rabbaniyah. Sebab, selalu menyertakan nama Allah beserta ayat-ayat Allah sebagai wasilah penolak bala. Ayat Quran, air, doa, dan garam, adalah instrumen suwuk yang masyhur di Padangan.
Itu semua, tentu punya dalil kuat. Dalam Quran disebutkan: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang beriman” (Q.S Yunus [10]: 57).
Al Qur’an memiliki banyak nama. Di antaranya, Asy-Syifa (penyembuh). Ini juga disinggung dalam sebuah hadits: “Bagi kalian, ada obat penyembuh, yaitu madu dan Alquran” (H.R Ibnu Majah dan al-Hakim). Quran jelas sebuah obat. Terlepas caranya dirapal atau ditiup ke air (suwuk), itu hanya soal teknis di lapangan saja.
Air sebagai pilar penting dalam Suwuk, juga punya dalil kuat dalam Al Qur’an. Itu terlihat pada ayat: “…Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Al Anbiya: 30). Ini menunjukan betapa pentingnya air bagi kehidupan. Bukan kebetulan jika doa (Ayat Qur’an) dan air menjadi pilar terpenting dalam konsep Suwuk Padangan.
Garam sebagai pilar penting dalam Suwuk, juga memiliki dasar dalam Al Qur’an. Ini terdapat dalam ayat: “…Yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (Al Furqon: 53). Dari ayat itu, keramat garam tentu sebagai batas dinding (perlindungan).
Konsep Muamalah
Suwuk Padangan, secara esensi, menjadi jembatan antara para ulama dengan masyarakat kecil. Suwuk memiliki peran muamalah (sosial) yang sangat penting. Mengingat, pada abad 19 M, bermacam layanan kesehatan belum ada. Kalaupun ada, hanya diperuntukan kaum aristokrat. Pada titik ini, Suwuk hadir sebagai solusi yang mudah diakses masyarakat kecil.
Suwuk Padangan, juga memberi informasi penting bahwa figur Kiai ternyata punya bermacam tugas. Status Kiai menjadi entitas sosial dengan bermacam keahlian. Mulai dokter, penasehat, ahli pertanian, ahli peternakan, hingga tentu konsultan di bermacam bidang.
Sidi Abdurrohman Klotok (Pesantren Klotok), selain menulis kitab bermacam fan keilmuan, juga menulis Risalah Suwuk. Begitupun Sidi Syihabuddin Betet (Pesantren Betet), cukup banyak ditemukan Risalah Suwuk di antara kitab-kitab fan keilmuan tasawuf yang telah beliau tuliskan.
Risalah Suwuk Padangan, tak sekadar membahas teknik pengobatan secara Islami. Tapi juga tata cara doa untuk perdagangan, penanganan hewan ternak, teknik menanam dan menebang pohon, keharmonisan keluarga, hingga metode komunikasi dengan alam dan interaksi sosial masyarakat.
Suwuk Padangan tak hanya mencatat anjuran berbuat baik pada sesama manusia, tapi juga makhluk lain. Dalam hal ini adalah hewan dan tumbuhan. Suwuk terkait hewan cukup masyhur di Padangan. Terbukti, banyak catatan membahas metode pengobatan untuk hewan-hewan ternak.
Sementara suwuk membahas tumbuhan, terlihat dari teknik dan syarat menebang pohon. Di mana, untuk menebang pohon pun tidak boleh sembarangan. Ada doa dan syarat yang harus dipenuhi. Ini membuktikan bahwa sejak lama, ajaran-ajaran Islam memang sangat dekat dengan ekologi (hubungan timbal balik dengan alam).
Itu belum termasuk catatan-catatan tentang teknik pertahanan diri. Dalam Risalah Suwuk Padangan, pertahanan diri menjadi perkara penting. Mengingat, abad 19 M adalah zaman perang dan pendudukan penjajah. Suwuk Padangan bertema pertahanan diri cukup banyak.
Sidi Muhammad Syahid Kembangan (Pesantren Kembangan) juga cukup banyak mengeluarkan Risalah Suwuk pertahanan diri. Di antara yang paling terkenal adalah Risalah Kebonambang, Bisteguh, hingga Lembu Sekilan. Secara kaidah umum, kesemuanya merupakan doa-doa tafsir Qur’an berbahasa Jawa.
Risalah Suwuk Padangan, secara fungsi, mungkin sudah tidak kontekstual terhadap zaman. Tapi secara esensi, keberadaannya jadi bukti otentik bahwa pembumian Islam benar-benar terjadi. Konsep Rabbaniyah benar-benar menjadi Tradisi Muamalah. Kaum Ulama benar-benar dekat dengan masyarakat akar rumput.
Suwuk Padangan, dalam paradigma Ilmiah Barat, mungkin sangat mirip konsep sugesti dan hipnoterapi. Bedanya, Suwuk menggunakan wasilah air dan doa. Sementara hipnoterapi mengandalkan sugesti si penghipnosis itu sendiri. Keduanya sama-sama mengandalkan lini kerja psikologi.
Dengan standar penilaian yang sama, Suwuk lebih ilmiah dari Hipnoterapi. Suwuk mungkin lebih ilmiah karena berwasilah air dan garam. Sehingga mediumnya benar-benar tampak. Sementara hipnosis, karena tanpa medium, tentu lebih ghaib dan harusnya lebih mudah di-bid’ahkan daripada Suwuk.








