Bojonegoro yang dulu bernama Jipang, dikenal tanah sejahtera selama berabad-abad. Dimulai sejak abad 13 M, 14 M, hingga 19 M. Esensi kesejahteraan inilah yang ingin dibangkitkan Wahono-Nurul (WanNur) untuk Bojonegoro hari ini.
Di berbagai kesempatan, Mas Wahono sering berkata bahwa visi utama yang dia bangun adalah “kesejahteraan” dan “kebanggaan” terhadap Bojonegoro. Dua kata ini, tentu bukan kata biasa. Namun “suwuk azimat” yang memiliki landasan historis dan primordialisme psikologis begitu kuat mengakar.
Wajib diketahui, Bojonegoro tercatat sebagai tanah berkesejahteraan sejak abad 13 M, 14 M, hingga 19 M. Namun, semua kejayaan itu seolah terhapus karena pada abad 20 M, peneliti Australia bernama C.L.M Panders, menulis buku Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty yang fokus menceritakan kemiskinan.
Padahal, C.L.M Panders hanya fokus menulis dan meneliti Bojonegoro abad 20 M, yang kebetulan penuh kesengsaraan pasca Perang Dunia. Andai C.L.M Panders mau sedikit menengok abad 19 M ke belakang, tentu peneliti Australia itu akan tersentak dengan banyaknya fakta kejayaan yang ada di Bojonegoro.
Falsafah Kesejahteraan
Kesejahteraan Jipang (Bojonegoro) sudah tercatat sejak era Kerajaan Singashari. Dalam Prasasti Maribong (1248 M), Raja Wisnuwardhana menaruh hormat pada para Brahmana Bojonegoro, yang berjasa besar bagi berdirinya Kerajaan Singashari. Ini alasan Raja Wisnuwardhana menetapkan Maribong (Bojonegoro) sebagai tanah Para Brahmana.
Para Brahmana Bojonegoro dihormati Raja Wisnuwardhana karena memiliki pengaruh besar, sejahtera, dan berdaya secara sosial-ekonomi. Sehingga punya integritas dan tak mudah diintervensi. Integritas yang dimiliki para Brahmana Bojonegoro, muncul karena mereka mampu mengelola dan mengendalikan sungai dengan baik.
Kesejahteraan Bojonegoro kembali dicatat pada era Raja Hayam Wuruk Majapahit. Dalam Prasasti Canggu (1358 M), Raja Hayam Wuruk memberi banyak titik pelabuhan sungai (naditira pradeca) untuk Bojonegoro, dengan jumlah melebihi jumlah wilayah lainnya. Ini karena Hayam Wuruk sangat menghormati Para Brahmana Bojonegoro.
Seperti dijelaskan J. Noorduyn dalam Further Topographical Notes on the Ferry Charter of 1358, ada sebanyak 17 pelabuhan sungai Bengawan Bojonegoro. Lokasinya tersebar merata dari Jipang Hulu (Margomulyo) hingga Jipang Hilir (Baureno). Jumlah ini tentu terbanyak dibanding wilayah lainnya.
Selain memberi banyak pelabuhan sungai, Hayam Wuruk juga menjadikan Jipang (Bojonegoro) sebagai vasal istimewa: Vasal Brahmana. Di mana, Bojonegoro tak pernah dipimpin Bhre (Bathara) seperti negeri vasal lainnya. Bojonegoro dipimpin Brahmana. Sebagai vasal Brahmana, Bojonegoro adalah wilayah khusus yang tidak menyetor upeti ke pusat.
Selain jadi pusat Brahmana, privilege (keistimewaan) itu didapat karena Bojonegoro sangat sejahtera dan berdaya secara sosial-ekonomi. Sehingga berintegritas dan tak mudah diintervensi. Integritas para Brahmana Bojonegoro, didapat karena mampu mengelola sumber daya sungai dengan baik.
Saat Islam masuk ke Pulau Jawa, Bojonegoro (Jipang) kembali dipimpin Para Brahmana Islam. Syekh Jimatdil Kubro (kakek Sunan Ampel) dan Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus), tercatat empiris menanamkan pengaruh kuat di Jipang (Bojonegoro). Data literatur terkait keduanya, bisa dibaca di kitab Tarikhul Aulia dan History of Java.
Di Jipang, Mbah Jimatdil Kubro dan Mbah Ngudung tak hanya dikenal sebagai ulama pendakwah. Tapi juga figur yang mensejahterakan masyarakat melalui tradisi berdagang dan bertani. Keduanya masyhur Wali yang mampu mengelola tanah pertanian dan mengendalikan sumber daya sungai dengan baik.
Pada abad 19 M, Jipang (Bojonegoro) tercatat sebagai pusat literatur dan ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sebutan Biladi Nur fi Biladi Jipang. Frasa Biladi Jipang, menunjukan betapa besar pengaruh Bojonegoro di bidang pengetahuan islam. Manuskrip Padangan (1820) menyebut, frasa “Biladi Jipang” bahkan masyhur hingga ke Tanah Madinah.
Kebesaran Biladi Jipang (Bojonegoro) dalam bidang keilmuan Islam, bisa terwujud karena posisinya sudah sejahtera, dan berdaya secara sosial-ekonomi. Dan itu semua terjadi karena masyarakat Bojonegoro mampu mengelola alam dan mengendalikan sungai dengan baik.
Kesejahteraan Bojonegoro di atas bukan sekadar klaim. Tapi fakta yang bahkan diceritakan orang Belanda sendiri. Dalam buku berjudul Beschrijving Der Nederlandsche Bezittingen In Oost-Indie (1857 M), seorang pelancong Belanda bernama A. J. Van der Aa mencatat bahwa Bojonegoro merupakan wilayah makmur, penguasa transportasi sungai Bengawan.
Posisi Bojonegoro memang mampu mengendalikan kesejahteraan wilayah Hulu dan Hilir Bengawan. Kesejahteraan wilayah Surakarta dan Gresik, pernah ditentukan Bojonegoro. Sebab, pada abad 19 M, posisi Bojonegoro adalah pengendali dan pengatur distribusi kesejahteraan.
Energi Kebanggaan
Energi kesejahteraan Bojonegoro yang tercatat tinta emas di atas, tentu masih ada sampai saat ini. Sebab sesuai Kaidah Fisika, energi tak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dan ini terbukti dari besarnya potensi energi di Bojonegoro.

Kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu memang penting sebagai pijakan primordialisme untuk maju. Namun, yang lebih penting dari itu, adalah kemauan untuk memunculkan lagi energi kejayaan masa lalu itu, dalam wujud yang kontekstual dan sesuai zaman.
Esensi kesejahteraan dan energi kejayaan Jipang (Bojonegoro) yang tercatat secara empiris itulah, yang ingin dibangkitkan dan diwujudkan kembali Pasangan Calon Wahono-Nurul (WanNur) dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan zaman.








