Suatu malam, Asrul Sani (1927-2004) dan Chairil Anwar jalan-jalan di kawasan Pasar Baru. Sepanjang jalan, Chairil jalan sambil nunduk terus. Karena heran, Asrul nanya, “Bung, lagi nyari apa sih?” Dengan santainya Chairil menjawab, “Masa di kota sebesar Batavia ini nggak ada dompet jatuh satu pun?”
Kelakuan nekat Chairil nggak sampai di situ. Suatu hari, mata Chairil berbinar melihat buku Also sprach Zarathustra karya Nietzsche terpajang di sebuah toko buku. Naluri pencurinya langsung keluar. “Kau awasi penjaga tokonya,” bisik Chairil ke Asrul. Aksi pencurian itu sukses.
Begitu sudah agak jauh dari lokasi, Chairil dengan bangga mengeluarkan buku yang diselipkan di dalam jasnya. Tapi sejurus kemudian mukanya langsung kecut. “Sialan, salah bawa!” umpat Chairil. Bukannya membawa buku Nietzsche, Chairil malah membawa sebuah Alkitab!
Itu adalah sepenggal kisah Chairil Anwar (1922-1949), nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sosok laki-laki dengan mata menyalang, rambut berantakan, dan jemari yang tak pernah lepas dari asap rokok. Kita mengenalnya sebagai Si Binatang Jalang, pelopor Angkatan 45, lelaki yang mati muda namun puisinya abadi menerobos zaman.
Di balik larik-larik yang memukau, Chairil Anwar adalah manusia biasa yang penuh lubang. Hidupnya didera pekatnya kemiskinan dan hasratnya yang meluap-luap. Dan di sanalah sisi kelam itu bermula. Demi bertahan hidup, atau demi memuaskan dahaga jiwanya yang liar, Chairil tak segan mengambil apa yang bukan miliknya.
Bukan rahasia lagi di kalangan sahabat-sahabat dekatnya, ia acapkali mencuri buku-buku mahal dari toko. Kelakuan nekat ini membekas di ingatan jurnalis senior, Mochtar Lubis (1922-2004). Dalam tulisannya di majalah Horison (April 1985) “Chairil Anwar, Sebuah Kenang-Kenangan”, Mochtar menceritakan momen serunya bareng si Binatang Jalang saat main ke sebuah toko buku.
Satu ketika, Mochtar bilang kepada Chairil kalau dia lagi nyari buku seputar jurnalistik. Sayangnya, buku yang dicari nggak ketemu. Tapi begitu mereka melangkah keluar toko, Chairil tiba-tiba menepuk perutnya sambil ketawa lepas. “Coba tebak, ada apa di balik baju ini?” tanya Chairil. Mochtar yang penasaran, ia meraba perut Chairil. Sambil nyengir, Chairil membuka kancing kemejanya dan… Dia mengeluarkan dua buah buku tipis dari sana.
Mochtar Lubis mengatakan bahwa kebiasaan Chairil mencuri buku, tidak hanya untuk dibaca, tapi juga ia jual demi memenuhi kebutuhan hidup. Alih-alih membayar utang dengan uang tunai, Chairil melunasi pinjamannya kepada Mochtar dengan buku-buku hasil selundupan! Kalau bukan menjarah dari Van Dorp—toko buku raksasa dan paling hits zaman itu—Chairil bakal melipir ke perpustakaan USIS (United States Information Service) untuk melancarkan aksinya. Sambil terkekeh, Mochtar pun blak-blakan mengenang masa-masa itu, “Chairil itu menyumbang perpustakaan pribadi saya dengan buku-buku hasil curiannya.”
Di mata Mochtar, Chairil saat itu bukan sekadar mencuri, tapi sedang membebaskan buku dari wilayah Belanda. Ia justru kagum dengan nyali besar Chairil yang nekat beraksi di kandang musuh. Maklum, Jakarta saat itu lagi diduduki serdadu kolonial. Bagi para pejuang Indonesia masa itu, segala hal yang berbau Belanda dan milik mereka adalah sasaran empuk yang sah untuk dijarah!
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) punya pendapat lain soal kebiasaan Chairil Anwar. Menurutnya, Chairil berprinsip “bukumu bukuku, rumahmu rumahku”. Jangankan toko buku asing, buku-buku milik Subagio saja sering diembat Chairil lalu dijual ke Pasar Senen demi menyambung hidup. Lucunya, Subagio sudah hafal kelakuan ini. Dia tinggal jalan kaki ke lapak buku loak di Senen, dan buku-bukunya yang hilang pasti ketemu.
Kelakuan ini juga menular saat Chairil main ke perpustakaan pribadi H.B. Jassin bareng temannya, Bahrum Rangkuti. Kata Karim Halim, dua orang ini kalau pinjam buku Jassin hobi banget melompati prosedur alias tanpa izin dan tanpa ninggalin surat pinjaman.
Jassin sendiri mengakui kalau kelakuan Chairil sering membuatnya kesal. “Dia punya sifat yang kadang-kadang membuat menggelegak. Misalnya dia biasa datang ke rumah meminjam buku, meminjam mesin tulis, tapi ada kalanya dia meminjam tanpa tanya, terus dibawa saja,” kenang Jassin.
Bukti kuat kelakuan nekat ini terekam jelas dalam surat Chairil kepada Jassin pada 15 Maret 1943.
Jassin, Tadi datang. Rumah kosong. Ada menunggu kira-kira sejam. Sementara itu tentu ta’ dapat melepaskan tangan dari lemari buku. Kubawa:
1. H.R. Holst, De nieuwe Gentroste
2. H.R. Holst, Keur uit de Gedichten
3. Huizinga, In de schaduw van Morgen
4. Huizinga, Cultuur Historische Verkenningen.
Maksud datang tentu dapat Jassin menerka. Minta terima kasih 1001 kali. Jassin, Aku tak bertukar. Masih seperti dulu juga lagi. Tapi kalau 10 hari lagi dihukum tentu lemah & jinak. Relaas perkaraku akan membuktikan aku ta’ bersalah. Apa?! Disumpahi Eros. Kuminta padamu sekali lagi 1001 terima kasih. Aku katakan: You are well.
Dus, Chairil Anwar tidak hanya mencuri buku, ia juga pernah mencuri Cat pada masa pendudukan Jepang. Dalam buku Sudjojono dan Aku, Mia Bustam (1920-2011) bercerita. Satu Ketika, Chairil ingin wajahnya abadi di atas kanvas. Maka, dengan langkah kaki yang ringkih, ia mendatangi sebuah rumah di Jalan Segara. Rumah Sindoedarsono Soedjojono (1913-1985). Di sana, Djon—lelaki yang dikenal sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia—sedang menatap kanvasnya.
“Aku mau kau lukis, Djon,” ujar Chairil.
Soedjojono menatap sahabatnya itu tajam. “Boleh,” sahut Djon tenang, namun tegas. “Tapi ada maharnya. Kau harus membawa cat zinkwit . Putih seng. Persediaanku nipis, dan kau tahu sendiri, di zaman Jepang ini, mencari cat minyak sama susahnya dengan mencari keadilan.”
Chairil mengangguk. Jiwanya yang tak pernah bisa diam itu hanya melompat, menjelajahi seisi ruangan. Matanya yang merah dan tiba-tiba terletak pada tumpukan buku milik Mia Bustam, istri Djon. Di sana, menyembul sebuah buku De Nieuwe Spijzen karya Andre Gide, sastrawan Prancis yang dipujanya bagai dewa.
Buku itu didapat Mia dari pasar loak dengan harga murah. Namun, bagi Chairil yang maniak buku, itu adalah sebuah mustika. Dengan gerakan secepat kilat—Chairil mencomot buku itu.
“Wah, bagus sekali, Djon!” Matanya berbinar, memancarkan cahaya kegembiraan.
“Itu Jeng Mia yang dapat dari loakan,” balas Djon.
“Wah, wah! Perempuan yang tahu cara menyelamatkan Andre Gide dari loakan adalah istri yang ideal, Djon!” seru Chairil, tawanya lepas memecah kesunyian Jalan Segara.
Seperti angin malam yang datang dan pergi tanpa pamit, usai membolak-balik halaman buku, Chairil melenggang pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Beberapa hari kemudian, sang penyair kembali. Langkahnya mantap. Di tangan, tergenggam satu tabung besar cat zinkwit. Dari mana dia mendapatkannya? Chairil hanya bungkam.
Belakangan, sebuah kabar buruk hinggap di telinga Mia Bustam. Zinkwit itu dicuri Chairil dari Yamamoto, seorang pelukis Jepang peranakan Prancis. Hal itu diketahui Mia Bustam ketika ia baru saja pulang menimbangkan putranya, Tedjabayu. Di sudut jalan, ia melihat Chairil sedang digiring dua orang Kenpeitai. Setiap beberapa langkah, popor karaben yang dingin dan keras disodokkan ke tubuh Chairil yang ringkih. Buka! Buka! Ujar serdadu Jepang.
Kondisi sang penyair sangat mengenaskan. Wajah yang biasa mendongak angkuh itu kini sembab. Kedua pelupuk mata membiru, bengkak, dan darah mengering di sudut bibir. Ia berjalan sempoyongan. Mia Bustam tidak berani menatap langsung, dalam dadanya, ada sesuatu yang mendidih. Kebencian terhadap serdadu Jepang memuncak hingga ke ubun-ubun.
Chairil adalah paradoks nyata. Seorang pencuri yang sekaligus seorang maestro. Sisi gelap yang justru berjalan beriringan dengan karya-karya monumentalnya yang kita nikmati hingga hari ini. Bakatnya yang genius kadang menyelinap, mencuri ide, menerjemahkan bait-bait penyair asing lalu menyelipkannya sebagai karyanya sendiri. Jika kita kilas balik sejarah tersebut, HB Jassin (1917-2000) pernah berseteru dengan Chairil Anwar soal plagiasi.
Suatu hari, Chairil mengirimkan puisi berjudul Datang Dara Hilang Dara untuk dimuat Jassin di majalah Panji Pustaka. Awalnya aman-aman saja, sampai akhirnya Jassin syok setelah tahu kalau puisi itu ternyata bukan karya asli Chairil, melainkan terjemahan dari puisi A Song of the Sea milik penyair Tiongkok, Hsu Chi Mo! Akibat insiden ini, keduanya terlibat cekcok. Uniknya, ini bukan kali pertama si Binatang Jalang tersandung isu plagiasi. Puisi legendarisnya Karawang-Bekasi belakangan diketahui mirip The Young Dead Soldier karya Archibald MacLeish.
Namun, di balik tudingan miring yang menerpa sang penyair, H.B. Jassin lewat buku, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45 mencoba meluruskan sejarah dengan mengelompokkan karya-karya Chairil yang dituduh menjiplak. Baginya, batasnya jelas, ada bait yang sekadar menyerap pengaruh luar, ada yang disadur secara kreatif seperti Karawang-Bekasi, dan ada pula yang murni sebagai terjemahan. Jassin juga memberikan argumen mengenai motif di balik keputusan Chairil untuk tidak mencantumkan atribusi saduran atau terjemahan. Chairil kala itu berada dalam kondisi keuangan yang krusial untuk membiayai perawatan medisnya.
Pada akhirnya, Chairil tidak bisa dipandang menjadi sebuah monumen gading yang bersih tanpa cacat, karena ia sendiri menolak untuk rapi. Chairil adalah sosok yang gelisah, datang untuk mengusik kenyamanan kita tentang apa yang disebut sebagai kebenaran dan moralitas.
Chairil dikenang bukan karena ia seorang penyair yang saleh, melainkan karena dalam seluruh kerapuhannya, dalam dosa-dosa kecil dan kepenyairannya yang liar, berhasil menangkap hakiki tentang manusia. Bahwa manusia adalah makhluk terluka, yang haus akan atributasi. Sementara kita masih termangu di depan bait-baitnya, dan perlahan menyadari bahwa keindahan acapkali tumbuh dari tanah yang paling berlumpur.








