Nyatanya, buku cetak membuat kita konsentrasi dalam memperoleh informasi.
Membaca dua berita media ternama di Indonesia –kompas.com dan detik.com, perihal negara Swedia yang mengubah sistem pendidikannya– semula berbasis perangkat digital sebagai media pembelajaran, kini kembali menggunakan buku cetak sebagai media pembelajaran menarik untuk diulas.
Kemenarikan itu, bagi penulis, menunjukkan bila masa depan buku cetak “tidak lagi suram” kalau boleh mengilustrasikan.
Ngomongin keberadaan buku cetak “yang suram”, itu karena aktivitas membaca tidak hadir nyata di sekeliling kita. Ia seakan berada di ruang yang jauh, dan hanya fokus kepada lingkungan tertentu yang dalam bahasa Nanang Fahrudin (2019:3) disebut sebagai kotak pendidikan. Yakni, sekolah, perguruan tinggi (PT), pesantren, komunitas taman baca dan sebagainya.
Sehingga ketika kita lepas dari kotak tersebut, membaca sudah luput, dan akan langka dilakukan di tempat publik. Alhasil, kala kita membaca –di tempat umum sebagai misal, serasa jadi alien yang “salah tempat” melakukan aktivitas membaca.
Coba bila membaca dekat dengan aktivitas kita, dan riil dilakukan di manapun dan oleh siapapun, bagi penulis masa depan buku tidaklah suram lagi. Karenanya, meski penulis di warung kopi bersama teman-teman, buku cetak tetap penulis bawa untuk dibaca agar menunjukkan bila keberadaannya mencerahkan yang membaca.
Kembali kepada negara Swedia, melalui keputusan untuk kembali kepada buku (back to the book) bukan tanpa asal. Tetapi, setelah mengganti semua buku cetak dengan perangkat digital sebagai media pembelajaran pada 2009, hal itu tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Malahan, beberapa orang tua banyak mengeluh bila anaknya mengalami penurunan dalam keterampilan dasar membaca dan menulis. Pendidik juga menyadari, hadirnya buku pembelajaran berbasic elektronik nyatanya menjadikan siswa sulit berkonsentrasi dan mengingat informasi.
Karenanya, agar konsentrasi dan daya ingat terhadap informasi menjadi kuat, keputusan untuk kembali menggunakan buku cetak sebagai media pembelajaran bagi penulis adalah hal menarik untuk dicermati kita-kita yang ada di Indonesia ini.
Titik Terang
Melihat potret Swedia yang coba kembali dari kepada buku cetak sebagai media pembelajaran, bagi penulis ada titik terang untuk geliat perbukuan.
Pertama, penerbit buku memiliki optimisme tinggi untuk selalu menghadirkan karya yang tercetak kertas. Terlebih, mengutip blog.tempoinstitute.com, bila kelebihan membaca buku secara fisik adalah hadirnya pengalaman sensorial.
Hal itu bisa didapat saat kita melihat dan meraba setiap halaman yang tercetak, hingga merasakan bau buku dan kertas saat dipegang. Pengalaman sensorial seperti inilah yang bisa memuaskan diri, di samping ada peran mendukung untuk tumbuh kembang anak.
Selain pengalaman sensorial, kelebihan membaca buku cetak akan mekonsentrasikan membaca. Itu karena, saat kita membaca, gangguang-gangguang aktivitas membaca tidak ada. Beda bila kemudian membaca via gadget –sebagai misal, godaan untuk melakukan aktivitas lain terbuka dan datang silih berganti.
Berikutnya, kelebihan membaca buku secara cetak juga akan membuat mata tidak cepat lelah. Bahkan lebih nyaman. Coba bila kemudian kita membaca lewat gadget atau sejenisnya, cahanya yang memancar akan menjadikan mata cepat lelah dan ekstra kerjanya. Bahkan, bila itu dilakukan secara lama dan panjang, daya penglihatan akan menurun perlahan-lahan.
Adapun yang terakhir, kelebihan membaca buku cetak kita akan memiliki koleksi pengetahuan yang akan bisa diwariskan dalam jangka waktu yang lama.
Beberapa kelebihan yang penulis sampaikan, tentu angin segar bagi para penerbit. Baik yang sudah lama, maupun yang baru sebagaimana media online Jurnaba.Co, yang kini juga telah memiliki penerbit sendiri bernama PT Jurnaba Digital Multiplatform.
Kedua, kampanye membaca bisa semakin masif dilakukan. Hal ini sebagaimana penulis lakukan pada mata kuliah Jurnalistik mahasiswa Prodi PAI kelas 7 A, B, C dan D, bila pembelajaran bersama mahasiswa, bersepakat untuk menghasilkan output buku.
Alhasil, selama satu semester, mahasiswa Prodi PAI selain belajar keilmuan Jurnalistik, juga belajar menghasilkan karya buku berbentuk antologi cerita pendek (cerpen) untuk Kelas 7 A berjudul “Rantai Tinta Mahasiswa”, kemudian Kelas 7 C berjudul “Perjalanan Huruf dan Kisah-kisah Kita”, lalu 7 D berjudul “Lintang Pena”. Adapun untuk 7B, berbuah antologi puisi berjudul “Pena dan Aksara Kita” yang sudah ready untuk dibedah pada Februari 2025.
Inilah kampanye riil mengajak mahasiswa senantiasa membaca. Minimal selama kuliah di Unugiri, bentuk kangen mereka bisa ditumpahkan kembali untuk membaca karya bersama yang pernah dihasilkan dalam sebuah perkuliahan.
Selanjutnya, dari hati penulis yang terdalam, mereka semua tidak sungkan atau ciut nyalinya berkaya di masa depan. Yakni, dengan kembali melahirkan buku sebagai hasil dari buah membaca yang dilakukan kapanpun dan di manapun.
Ini artinya, jika jumlah kelas 7 A, B, C dan D adalah 106 mahasiswa, artinya penulis telah ikut mengampanyekan generasi Z untuk cinta membaca.
Bila kemudian dikoralasikan dengan penelitian UNESCO, di mana dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 yang suka membaca, sekarang melalui kampanye melahirkan buku, telah ada 106 generasi muda Indonesia –bahkan lebih, yang akan suka membaca. Tidak hanya suka membaca, tetapi penulis yakin akan terampil melahirkan karya buku pula.
Menutup tulisan ini, semoga geliat buku semakin cerah sebagai media mencerahkan generasi mendatang berwujud konsentrasi membaca. Amin ya rabbal ‘alamin.
Penulis adalah Dosen Pengampu Mata Kuliah Jurnalistik Prodi PAI, serta Pembina LPM Arusgiri dan UKMPGC Unugiri.








