Kisah tentang Rahmat Allah Swt. yang tak terhingga.
Hari itu, di sudut kota Madinah al-Munawwarah yang damai, di bawah langit yang memancarkan cahaya keemasan senja, Rasulullah Saw. sedang duduk di Masjid Nabawi. Wajah beliau berpendar dengan ketenangan yang memancarkan kebijaksanaan. Para sahabat berkumpul mengitari beliau, bagaikan bintang-bintang yang mengorbit bulan purnama.
Hari itu adalah hari Kamis. Seperti biasa, Rasulullah Saw. menggunakan kesempatan tersebut untuk mengukir iman di hati para sahabat. “Sahabat-sahabatku,” Rasulullah Saw. memulai dengan suara yang lembut, namun menggema, “Kali ini, aku akan menuturkan sebuah kisah tentang rahmat Allah yang tak terhingga. Yaitu, tentang bagaimana kasih sayang-Nya melampaui segala batas.”
Para sahabat terdiam. Mata mereka terpaku pada Rasulullah Saw. Sedangkan hati mereka berdegup penuh antisipasi.
“Ketika Hari Hisab tiba, dan Allah Swt. selesai mengadili hamba-hamba-Nya, Dia akan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang Dia kehendaki. Dengan rahmat-Nya,” tutur Rasulullah Saw.
“Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dan pernah mengucapkan kalimat syahadat. Juga, yang memiliki bekas sujud di tubuh mereka. Bekas sujud itu adalah tanda yang dikenali para malaikat. Ini karena api neraka tidak akan melahapnya. Mereka akan dikeluarkan dari neraka, hangus terbakar, lalu disiram dengan air kehidupan. Bagaikan biji-bijian yang tumbuh subur di tanah yang dialiri air, mereka pun akan hidup kembali.”
Suasana pun hening. Hanya desiran angin yang membawa aroma kesucian Masjid Nabawi. Rasulullah Saw. kemudian melanjutkan, “Selepas semua hamba diadili, tersisa seorang laki-laki. Dia adalah penghuni surga yang paling terakhir masuk. Dengan wajah yang pucat dan hati yang penuh ketakutan, dia menghadap ke arah neraka. ‘Tuhan,’ pintanya dengan suara sangat gemetar. ‘Palingkanlah wajahku dari neraka! Uapnya menyiksaku! Nyalanya membakarku!’”
“Jika permintaanmu Aku penuhi, apakah engkau tak akan mengajukan permohonan yang lain lagi?” tanya Allah Yang Maha Mendengar kepada orang itu.
“Tidak, Tuhan! Aku tak akan memohon lagi. Apapun!,” jawab orang itu. Dengan sepenuh hati.
Allah Yang Maha Pengasih pun memenuhi permohonan orang itu. Namun, ketika orang itu menghadap ke arah surga dan melihat keindahannya, hatinya pun tergetar dan terpikat. Cahaya surga yang berpendar cemerlang, gemericik sungai-sungai mendamaikan hati, dan kebahagiaan yang tak terbayangkan membuat dia tercenung dan termenung: sangat terpesona.
Dia pun kembali memohon, “Tuhan. Dekatkanlah aku ke pintu surga.”
“Lo, bukankah engkau telah berjanji tak akan memohon lagi? Mengapa engkau ingkar janji?” tegur Allah Swt.
“Tuhan! Izinkanlah aku memohon sekali lagi. Sekali saja!” ucap orang itu. Dengan penuh harap.
“Jika Aku penuhi permintaanmu ini, apakah engkau tak akan memohon lagi?” tanya kembali Allah Swt.
“Demi keagungan-Mu, tidak, Tuhanku!”
Allah Swt. pun memenuhi permohonan orang itu. Namun, begitu orang itu berdiri di pintu surga dan menyaksikan segala keindahan dan kenikmatan di dalamnya, hatinya sangat terpesona dan tergoda. Dia pun memohon lagi, “Tuhan. Masukkanlah aku ke dalam surga.”
“Lo, lo, lo! Bukankah engkau telah berjanji? Mengapa engkau terus memohon?” tegur kembali Allah Swt.
“Tuhan. Aku bukanlah makhluk-Mu yang paling celaka,” jawab orang itu. Dengan polos.
Tanpa putus asa, orang itu terus memohon dan berdoa kepada Allah Swt. Hingga, akhirnya, Allah Swt. pun tertawa. Suara tawa-Nya menggema, penuh kelembutan dan kasih sayang. Orang itu pun bertanya, “Tuhan. Apakah Engkau menertawakanku? Bukankah Engkau Tuhan seluruh semesta alam?”
“Aku tidak menertawakanmu,” jawab Allah Swt. “Namun, Aku Mahakuasa atas segala yang Aku kehendaki.” Kemudian, Allah Swt. berfirman, “Masuklah engkau ke dalam surga!”
Betapa bahagianya orang itu mendengar firman tersebut. Dia pun melangkah masuk ke dalam surga, disambut oleh kebahagiaan yang tak terhingga. Namun, kisahnya belum berakhir. Allah Swt. lantas berfirman lagi, “Memohonlah dan berharaplah kepada-Ku!”
Orang itu pun memohon segala yang dia nginkan. Selepas semua permohonannya terpenuhi, Allah Swt. berfirman, “Itu semua adalah bagianmu. Dan, masih ada tambahan yang serupa lagi.”
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kisah ini menjadi lebih bermakna. Bulan Suci ini adalah waktu di mana rahmat Allah Swt. mengalir deras. Bagaikan air kehidupan yang menyirami orang-orang yang dikeluarkan dari neraka. Setiap malam, pintu-pintu surga dibuka lebar, dan doa-doa kita diangkat ke langit dengan penuh harapan.
Rasulullah Saw. berpesan, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ini adalah janji Allah yang tak boleh kita sia-siakan. Seperti orang dalam kisah di atas, kita pun harus terus memohon, berdoa, dan tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya. Di tengah malam-malam Ramadhan yang sunyi, ketika kita berdiri melaksanakan Shalat Tahajjud, atau saat kita membaca Alquran dengan khusyuk, ingatlah kisah ini. Ingatlah bahwa Allah Swt. Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tidak hanya membuka pintu surga. Namun, Dia juga memberikan tambahan rahmat yang tak terduga.
Maka, di bulan Ramadhan ini, marilah kita memperbanyak doa dan permohonan. Seperti orang dalam kisah ini, kita pun harus terus memohon kepada-Nya, karena Allah Swt. senantiasa mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Allah Swt. berfirman:
“Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya
tentang Daku, kepada engkau (Muhammad),
maka sungguh Aku dekat.
Aku kabulkan doa orang yang berdoa,
jika ia berdoa kepada-Ku.”
(QS al-Baqarah [2]: 186)
Kisah di atas, sejatinya, bukan sekadar cerita tentang surga dan neraka. Kisah tersebut adalah gambaran tentang kasih sayang Allah yang tak terbatas, tentang bagaimana Dia selalu membuka pintu rahmat-Nya, meski manusia kerapkali lalai dan ingkar janji. Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh pernah putus asa dari rahmat Allah, sekaligus pelajaran tentang pentingnya konsistensi dalam beribadah dan memenuhi janji kita kepada-Nya.
Allah Swt. memang Maha Pengasih dan Penyayang. Namun, kita juga harus menjadi hamba yang bersyukur dan bertanggungjawab. Kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berharap, berdoa, dan tidak pernah menyerah dalam mencari keridhaan-Nya. Karena, pada akhirnya, rahmat Allah-lah yang akan menentukan segalanya.
Kiranya di bulan Ramadhan ini, kita semua menjadi hamba-hamba yang pantas menerima rahmat-Nya. Dan, kelak di Hari Akhir, kiranya kita termasuk orang-orang yang dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga dengan penuh kebahagiaan. Amin.








