Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Tadarus Ramadhan: 40 Tamu dengan 41 Pelita

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
05/03/2025
in Cecurhatan
Tadarus Ramadhan: 40 Tamu dengan 41 Pelita

Ilustrasi: Tuan Guru Nishapur dan Tuan Guru Baghdad

“Akan saya ajarkan kepada Anda bagaimana cara menjamu tamu!”

BANGKALAN, Madura, Jawa Timur. Beberapa tahun yang lalu. Hari itu, saya, istri, seorang ipar, dan kakak sulung saya, sowan ke Pondok Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan. Ketika itu, pondok pesantren tersebut di bawah asuhan K.H. Abdullah Sahal (alm). Betapa bahagia kami, malam itu kami dipersilakan menginap di pondok pesantren yang didirikan seorang kiai kondang yang menjadi guru sederet ulama kondang Nusantara. Sebuah pondok pesantren kondang yang juga menjadi salah satu tempat menimba ilmu, selama beberapa tahun, kakek kami, Kyai Usman Cepu, seorang kiai yang pakar qiraah sab’ah.

Ketika saat makan malam tiba, kami pun dipersilakan menikmati makan malam. Ternyata, banyak tamu yang juga menginap bersama kami. Semua tamu pun menikmati sajian makan malam tersebut. Sajian makan malam yang tidak berlebihan. Namun, tampaknya semua tamu sangat menikmati sajian makan malam tersebut. Sajian makan malam yang sarat berkah. Selepas pulang dari sowan ke Bangkalan itu, “tradisi” menyajikan hidangan kepada setiap tamu tersebut kami teladani. Hingga kini.

Entah, kenapa, beberapa bulan yang lalu, ketika selepas menerima seorang tamu, “kenangan indah” di Bangkalan tersebut “melayang-layang”. Dalam benak saya. Kemudian, saya pun lama merenung. Dalam benak saya terbayang: jamuan yang disajikan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil tersebut tidak berlebihan. Namun, tetap sedap dinikmati. Apa rahasianya? Merenung demikian, tiba-tiba dalam benak saya “melenting” kisah dari Baghdad Madinah Al-Salam berikut:

Suatu hari seorang Tuan Guru Baghdad menerima tamu seorang Tuan Guru asal Nishapur, sebuah kota yang terletak di dataran subur di kaki Pegunungan Binalaud, Iran. Ternyata, sang tamu tidak menginap di rumah Tuan Guru Baghdad hanya satu atau dua hari.

Lo?

Ya, sang tamu menginap tidak menginap hanya satu atau dua hati. Namun, selama empat bulan. Ya, empat bulan. Lama. Meski menginap cukup lama, setiap hari Tuan Guru Baghdad tetap menyajikan aneka ragam santapan lezat yang melimpah kepada sang tamu. Juga, beragam cemilan nan lezat.

Ketika pamit pulang, Tuan Guru Nishapur berucap kepada Tuan Guru Baghdad, “Tuan Guru. Jika Anda berkenan datang ke Nishapur, akan saya ajarkan kepada Anda bagaimana cara menjamu tamu dan kemurahan hati yang sejati.”
“Lo, apa kesalahan yang telah saya lakukan kepada Tuan Guru?” tanya Tuan Guru Baghdad kepada sang tamu. Penuh tanda tanya dan penasaran. Tentu saja penuh tanda tanya: bukankah ia telah berusaha menjamu sang tamu dengan senang dan murah hati. Namun, ternyata, di mata sang tamu, pelayanan yang ia berikan tampaknya kurang memuaskan. Duh, apa salah ia!

“Tuan Guru. Sejatinya, Anda terlalu merepotkan diri Anda. Jamuan yang berlebihan tidaklah sama dengan kemurahan hati. Selayaknya, Anda meladeni tamu seperti meladeni diri Anda sendiri. Dengan demikian, kedatangan tamu tidak merupakan beban bagi Anda. Juga, kepergiannya tidak merupakan alasan bagi Anda untuk merasa lega. Jika Anda terus menjamu tamu secara berlebihan, kedatangannya akan Anda pandang sebagai beban dan kepergiannya sebagai kelegaan. Seseorang yang beranggapan demikian terhadap tamu, orang itu tidak dapat dikatakan sebagai pemurah.”

Mendengar masukan demikian, Tuan Guru Baghdad hanya kuasa menundukkan kepala. Lama. Malah, sangat lama!

Kemudian, beberapa bulan selepas itu, Tuan Guru Baghdad datang ke Nishapur. Di kota yang mencapai puncak keemasaannya pada abad ke-10 M itu, ia menginap di rumah Tuan Guru Nishapur. Yang pernah menjadi tamunya. Ternyata, kala itu, Tuan Guru Nishapur sedang menerima banyak tamu. Jumlah mereka 40 orang. Kemudian, ketika malam tiba, Tuan Guru Nishapur itu menyalakan 41 pelita. Ya, 41 pelita.

Melihat hal tersebut, Tuan Guru Baghdad pun bertanya kepada Tuan Guru Nishapur, “Tuan Guru. Bukankah Anda pernah berpesan kepada saya, hendaklah kita tidak berlebihan dalam menjamu tamu?”

“Jika demikian, tolong padamkanlah pelita-pelita itu,” jawab Tuan Guru Nishapur.

Tuan Guru Baghdad pun segera melakukan perintah Tuan Guru Nishapur. Namun, betapa pun ia berusaha memadamkan 41 pelita itu, ternyata, hanya satu pelita yang berhasil ia padamkan. Ya, hanya satu pelita yang berhasil ia padamkan. Duh!
“Tuan Guru. Apakah arti semua ini?” tanya Tuan Guru Baghdad kepada Tuan Guru Nishapur. Penasaran dan penuh rasa ingin tahu.

“Tuan Guru Baghdad. 40 tamu itu adalah 40 utusan Allah Swt. Karena tamu adalah utusan Allah, wajar bila hanya karena Allah Swt. semata sajalah saya nyalakan sebuah pelita. Untuk masing-masing tamu. Kemudian, sebuah pelita juga saya nyalakan untuk kepentingan diri saya sendiri. Karena itu, tidak aneh bila Anda tidak mampu memadamkan keempatpuluh pelita yang saya nyalakan untuk para tamu itu. Itu karena apa yang saya lakukan terhadap para tamu hanya karena Allah Swt. semata. Sedangkan, satu pelita yang saya nyalakan untuk diri saya sendiri, ternyata, berhasil Anda padamkan. Itu karena apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan saya sendiri,” jawab Tuan Guru Nishapur.

Usai berucap demikian, Tuan Guru Nishapur sejenak diam. Lantas, beberapa saat kemudian, ia melanjutkan ucapannya, “Tuan Guru Baghdad. Segala hal yang Anda lakukan di Baghdad, dulu, Anda lakukan karena diri saya. Sedangkan yang saya lakukan di sini, terhadap para tamu, saya lakukan karena Allah Swt. semata. Dengan kata lain, yang Anda lakukan dulu merupakan hal yang berlebihan. Sedangkan yang saya lakukan ini tidak berlebihan.”

Pesan apa yang ingin disampaikan Tuan Guru Nishapur?

Lewat pesan tersebut, Tuan Guru Nishapur mengajarkan kepada kita: untuk menghormati tamu (Ramadhan juga tamu). Dan, dalam menghormati tamu hendaklah karena Allah Swt. semata. Bukan karena pamrih tertentu dan tidak perlu berlebihan. Pesan yang indah!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaTadarus Ramadhan
Previous Post

Tadarus Ramadhan: Allah Swt. pun Tertawa

Next Post

Kehidupan Bahagia dan Sederhana dengan Menikmati Masakan Ibu lalu Bertukar Cerita

BERITA MENARIK LAINNYA

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku
Cecurhatan

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

19/01/2026
Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026

Anyar Nabs

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

19/01/2026
Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

18/01/2026
Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

Pasar Kota sebagai Ruang Transaksi Modern yang Humanis

17/01/2026
Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

Limolasan: Memahami Esensi Universitas Kuno Asram Bramacari

16/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: