Di tengah gemerlap kota Kairo, di mana Sungai Nil mengalir dengan tenang menyajikan kisah-kisah zaman, ada sebuah tempat yang menjadi mercusuar ilmu dan spiritualitas: al-Azhar al-Syarif. Di sana, di bawah naungan menara-menara yang tinggi menjulang, seorang ulama menghabiskan bulan Ramadhan dengan penuh makna.
Beliau adalah Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb, Syaikh al-Azhar al-Syarif ke-48. Itulah sosok yang tak hanya menjadi rujukan keilmuan. Namun, juga menjadi teladan dalam ketakwaan dan kebijaksanaan.
Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb. Bagi beliau, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Namun, juga bulan untuk merenung, mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan membagikan ilmu serta kasih sayang kepada umat. Setiap tahun, beliau menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk memperkuat ikatan dengan masyarakat. Baik melalui ceramah, diskusi, maupun kegiatan sosial.
Al-Azhar al-Syarif, dengan sejarahnya yang membentang lebih dari seribu tahun, menjadi saksi bisu bagaimana Ramadhan diisi dengan kegiatan yang sarat berkah. Di Masjid al-Azhar, yang seusia dengan kota Kairo (didirikan pada 972 M), suara lantunan Alquran menggema, mengisi setiap sudut ruangan dengan ketenangan dan kedamaian. Di situ, Syaikh al-Azhar al-Syarif ini kerap memimpin Shalat Tarawih. Suaranya yang merdu dan syahdu membuat jamaah terhanyut dalam kekhusyukan.
Seusai melaksanakan shalat, Syaikh al-Azhar al-Syarif yang hidupnya sederhana ini tidak langsung pulang. Beliau duduk bersama para mahasiswa, ulama, dan masyarakat umum, berdiskusi tentang makna Ramadhan, tafsir Alquran, serta isu-isu kontemporer yang dihadapi umat Islam. Gaya bicaranya yang santun, sarat hikmah, dan mudah dicerna membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah menyentuh hati dan pikiran.
Dalam setiap ceramahnya, Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb senantiasa menekankan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk transformasi diri. Beliau kerap mengutip ayat Alquran, “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kaian agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183).
Menurut beliau, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Namun, puasa juga menahan diri dari segala bentuk keburukan. Baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan.
Syaikh al-Azhar al-Syarif ini kerap mengingatkan tentang pentingnya solidaritas sosial di bulan Ramadhan.
“Ramadhan mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan orang lain. Bagaimana mungkin kita merasakan nikmatnya berbuka puasa, sementara tetangga kita kelaparan?” pesannya suatu kali. Pesan ini bukan sekadar retorika. Namun, diwujudkan dalam aksi nyata.
Al-Azhar al-Syarif, di bawah kepemimpinannya, rutin mengadakan program bantuan sosial. Mulai dari pembagian makanan berbuka, hingga bantuan keuangan bagi keluarga kurang mampu. Tokoh utama al-Azhar al-Syarif ini bukan sekadar ulama biasa. Beliau adalah seorang profesor yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari teologi, filsafat, hingga sains modern.
Meski demikian, tampilan Syaikh al-Azhar al-Syarif ini memancarkan aura kesederhanaan dan keramahan. Di balik jubah dan sorbannya, terpancar jiwa seorang ulama yang dekat dengan umat. Beliau tak segan bercanda dan berdialog dengan siapa pun, hal itu menunjukkan bahwa ilmu dan kebijaksanaan tak membuatnya terkesan superior.
Kesederhanaannya tak hanya terlihat dari penampilannya. Namun, juga dari gaya hidupnya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang zuhud: jauh dari gemerlap duniawi. Beliau lebih memilih fokus pada pengabdiannya untuk menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘âlamîn, Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Kepada siapa pun dan apa pun!
Syeikh Prof. Dr. Ahmed Muhammed Ahmed El-Tayyeb lahir pada tanggal 6 Januari 1946 di Desa Qina Selatan, Provinsi Luxor, Mesir. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan minat yang tinggi terhadap ilmu agama. Beliau memulai pendidikannya di sekolah dasar di desa kelahirannya, kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah di al-Azhar al-Syarif.
Ketertarikan Ahmed El-Tayyeb muda, terhadap ilmu agama, kian kuat saat di al-Azhar al-Syarif. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar dengan predikat “mumtâz” atau cumlaude. Selepas itu, beliau kemudian melanjutkan program s-2 di fakultas yang sama dan meraih gelar Magister dengan predikat “mumtâz” pula.
Selepas merampungkan pendidikan s-2, Ahmed El-Tayyeb muda diangkat menjadi asisten dosen di Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar. Beliau menunjukkan dedikasi dan kemampuannya yang luar biasa dalam mengajar dan meneliti. Sehingga, karirnya di dunia akademik terus berkembang pesat. Beliau pun dipromosikan menjadi dosen, kemudian asisten profesor, dan akhirnya menjadi profesor di Fakultas Ushuluddin. Gelar doktor beliau raih di almamaternya pada 1977.
Namun, Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb tak hanya cemerlang dalam bidang akademik. Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi di al-Azhar al-Syarif. Beliau pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan, dan Rektor Universitas al-Azhar. Puncak kariernya adalah saat ia diangkat menjadi Syaikh al-Azhar al-Syarif ke-48 pada tahun 2010, menggantikan Syeikh Muhammad Sayyed Thanthawi.
Di bulan Ramadhan, seperti kini, Syaikh al-Azhar ini kerap mengadakan acara dialog antariman, mengundang tokoh-tokoh agama lain untuk berbincang tentang nilai-nilai kemanusiaan yang universal. “Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan kita untuk membuka hati. Bukan menutupnya,” pesannya suatu kali. Gaya komunikasinya yang inklusif dan penuh empati membuat beliau dihormati. Tidak hanya oleh umat Islam. Namun, juga oleh komunitas lain.
Meski sibuk dengan berbagai kegiatan, Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb tidak melupakan keluarganya. Beliau kerap bercerita tentang bagaimana Ramadhan menjadi momen untuk mempererat ikatan dengan anak dan cucu. “Mereka adalah amanah dari Allah Swt. Mendidik mereka dengan nilai-nilai Ramadhan adalah tanggung jawab terbesar saya,” ujarnya.
Beliau juga menekankan pentingnya menciptakan suasana Ramadhan yang hangat dan penuh kasih sayang di rumah. Bulan Ramadan bersama Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb adalah gambaran nyata bagaimana ilmu, iman, dan amal saling berpadu. Beliau bukan hanya mengajarkan tentang Ramadhan. Namun, beliau juga menghidupkannya dalam setiap detak jantung dan tarikan napas. Melalui kata-kata dan tindakannya, beliau mengajak kita semua untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih peduli kepada sesama.
Di bawah langit Kairo yang sarat bintang, suara Syaikh al-Azhar al-Syarif ke-48 ini terus bergema: mengingatkan kita bahwa Ramadhan adalah hadiah terindah dari Sang Pencipta. Dan melalui teladannya, kita diajak untuk meraih berkah Ramadhan dengan sepenuh hati. “Kiranya Ramadhan tahun ini menjadi titik balik bagi kita semua. Untuk lebih dekat kepada-Nya dan lebih peduli kepada sesama,” pesan Syeikh Prof. Dr. Ahmed El-Tayyeb.








