Tuhan. Siapakah sejatinya orang-orang yang akan mendiami surga-Mu. Dan ibadah siapakah yang Engkau terima?” — Nabi Daud a.s.
“OH. Ini kan patung Raja David sedang memetik harpa!” Demikian seru setengah terpekik bibir saya. Beberapa tahun yang lalu. Ya, beberapa tahun lalu, ketika saya sedang tegak di hadapan sebuah patung selepas melintasi Zion Gate, di lingkungan Old Jerusalem, Palestina. Lama, patung itu saya cermati.
“Mengapa harpa yang ia mainkan. Bukan seruling, ya?” gumam pelan bibir saya lebih lanjut. Konon, harpa Raja David terdiri dari 7 dawai. Namun, ada yang menyatakan 8 dawai, 9 dawai dan 10 dawai. Terserah, Anda mau memilih yang mana!
Selepas lama mencermati patung Raja David tersebut, saya kemudian melangkahkan kaki menuju arah ruangan yang konon merupakan “maqâm” Nabi Daud. “Maqam” ya. Dalam bahasa Arab, “maqâm” tidak berarti makam atau pekuburan, meski dalam bahasa Inggris ditulis tomb. Sebelum memasuki ruangan itu, saya lihat seorang jemaat Yahudi, dengan mengenakan kippah (topi berbentuk bulat) hitam, sedang menyimak Torat. Ya, menyimak Torat dengan begitu asyiknya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ketika saya lewat di depannya, orang berambut gondrong mengenakan kippah itu tak ambil peduli dengan kehadiran saya. Orang itu tetap asyik menyimak Torat. Di tangannya. Asyik banget. Saya pun, kemudian, meneruskan “pengembaraan” saya ke dalam ruangan yang konon merupakan “maqâm” Nabi Daud a.s. Di ruangan itu, saya lihat ada keranda berbalutkan kain hitam. “Kok mirip dengan keranda yang menyelimuti keranda Nabi Syu’aib a.s. di Yordania, ya,” gumam pelan bibir saya.
Melihat keranda hitam itu, tiba-tiba benak saya “terlempar jauh” dari situ. Ya, “terlempar jauh” ke Madinah Al-Munawwarah. Dan, tak lama kemudian, dalam benak saya “menyeruak kuat” kisah berikut.
Hari itu, betapa gembira hati seorang sahabat Rasulullah Saw. Ya, ia sangat gembira, karena masih memiliki kesempatan menghadiri pertemuan dengan Rasulullah Saw. di hari itu di Masjid Nabawi, Madinah: pertemuan yang kerap beliau lakukan setiap minggu manakala beliau sedang tidak melakukan perjalanan keluar kota.
Sahabat yang satu itu tidak lain adalah Abu Al-Darda’, seorang sahabat yang berasal dari suku Khazraj, Madinah dan bernama lengkap Abu al-Darda’ Uwaimir bin Zaid bin Qais bin A’isyah bin Umayyah bin Malik bin Adi bin Ka‘ab bin al-Khazraj bin al-Harits. Sebelum memeluk Islam, sahabat yang satu ini berprofesi sebagai pedagang. Baru pada tahun terjadinya Perang Badar, ia memeluk Islam.
Selepas memeluk agama tersebut, ternyata Abu al-Darda’ tidak dapat menyeiringkan antara kegiatannya untuk berjuang di jalan Allah dan berdagang. Karena itu, ia memilih berjuang di jalan Allah. Kemudian, ketika Umar bin al-Khaththab menjabat khalifah, Abu al-Darda’ mendapat kepercayaan sebagai hakim di Damaskus, Suriah. Dan, suami dua istri (Khairah yang terkenal sebagai Ummu al-Darda’ al-Kubra dan Hujaimah yang terkenal sebagai Ummu al-Darda’ al-Sughra) ini menghadap Yang Maha Kuasa pada 32 H/652 M, di Alexandria, Mesir pada masa akhir pemerintahan Utsman bin Affan.
Dalam pertemuan pada hari itu, Rasulullah Saw. memperbincangkan kisah Nabi Daud a.s. dan doanya.
Seperti diketahui, Nabi Daud a.s. adalah seorang Nabi yang namanya disebut 16 kali di dalam Alquran. Nabi yang satu ini adalah anak keturunan Nabi Ibrahim a.s. generasi ke-11. Ketika kecil, ia hidup sebagai penggembala ternak seperti halnya Rasulullah Saw. Suatu saat, ketika ia telah remaja, Saul, raja Bani Israil, meminta bantuan kepadanya untuk melawan Jalut. Ternyata, ia berhasil mengalahkan raja Palestina itu.
Melihat kemenangan dan ketenaran nama yang direngkuh Daud, Saul pun berupaya membunuh Daud. Namun, Daud berhasil melarikan diri.
Selepas Saul meninggal dunia, Daud lalu mendirikan sebuah kerajaan di Hebron. Namun, kemudian kerajaannya ia pindahkan ke Jerusalem. Selain menjadi raja, Allah Swt. juga memberikan wahyu kepada Nabi Daud a.s. karena ketaatannya kepada-Nya dan memberinya kekuatan, ilmu yang tinggi, dan dapat membuat baju besi serta menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya, di kala pagi dan senja hari. Selain itu, Nabi yang satu ini terkenal dengan munajatnya berikut:
“Tuhan. Siapakah sejatinya orang-orang yang akan mendiami surga-Mu. Dan, ibadah siapakah yang Engkau terima?”
“Daud!” jawab Allah Swt. lewat wahyu yang diturunkan kepada sang Nabi, “Yang akan mendiami surga-Ku dan yang ibadahnya Kuterima adalah orang-orang yang demi keagungan-Ku melewatkan siang harinya dengan mengingat Aku, mencegah dirinya dari hawa nafsu karena Aku, memberikan makan kepada orang yang lapar, memberikan tempat berteduh kepada para musafir, dan menolong orang yang sedang tertimpa musibah. Daud! Itulah orang-orang yang cahaya mereka memendari penjuru langit bagaikan matahari. Bila mereka berdoa kepada-Ku, niscaya Ku-terima doa mereka. Bila mereka memohon sesuatu kepada-Ku, niscaya Ku-penuhi permintaan mereka. Ku-jadikan kasih sayang bagi mereka dalam kebodohan mereka, sebagai peringatan atas kelalaian mereka, dan cahaya nan cemerlang dalam kegelapan yang mereka alami. Dalam kalangan manusia, mereka laksana Firdaus yang terletak dalam jenjang tertinggi surga. Dalam Firdaus, sungai-sungai tidak akan pernah mengering dan buah-buahannya senantiasa terasa lezat.”
Ketika menjelang berpulang, Nabi Daud a.s. mewariskan kerajaannya kepada putranya yang bijak, Nabi Sulaiman a.s.
Nah, Rasulullah Saw., dalam menuturkan kisah Nabi Daud a.s. tersebut, memaparkan pula kepada para sahabat bagaimana kecintaan Nabi Daud a.s. kepada Allah Swt. Beliau kemukakan kepada mereka, bahwa dalam berdoa, Nabi Daud a.s. senantiasa memohon kiranya ia mendapatkan karunia gelora cinta kepada-Nya. Selain itu, ia juga memohon kiranya cintanya itu lebih besar ketimbang cintanya terhadap dirinya sendiri dan keluarganya.
Kemudian, tentang doa Nabi Daud a.s. tersebut, Rasulullah Saw. mengemukakan:
“Sahabat-sahabatku! Di antara doa yang dipanjatkan Daud adalah Allâhumma innî as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa al-‘amal al-ladzî yuballighunî hubbak. Allâhummaj‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa min al-mâ’ al-bârid (Ya Allah! Aku memohon kepada Engkau gelora cinta kepada-Mu, gelora cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat membuat aku meraih gelora cinta kepada-Mu. Ya Allah! Jadikanlah gelora cinta kepada-Mu lebih kusukai daripada gelora cinta kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang sejuk).”
Betapa indah doa itu. Kiranya kita dapat menjadikan doa indah itu sebagai bagian dari doa kita dan kiranya Allah Swt. mengabulkan doa tersebut, amin.








